SURYA.CO.ID SURABAYA - Literasi Keuangan Mahasiswa Dinilai Penting agar Tak Salah Memilih Produk Finansial Inklusi keuangan Indonesia telah mencapai sekitar 80 persen, namun literasi masyarakat masih sekitar 60 persen.
Kondisi ini mendorong edukasi pengelolaan keuangan sejak kuliah agar mahasiswa siap menghadapi kebutuhan finansial jangka panjang dan risiko kehidupan setelahnya.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) - Smart Financial Day 2026 UNAIR "Preparing Long-Term Assets Now" di ruang auditorium ASEEC Tower kampus B Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (12/8/2026).
Mahasiswa menjadi sasaran edukasi karena masa kuliah dinilai sebagai momentum untuk mulai memahami penghasilan, aset, tabungan, dan perlindungan finansial sebelum memasuki dunia kerja.
Ketua Panitia Top Agent & Distribution Excellence Awards (TADEA), Antonius Probosanjoyo, mengatakan mahasiswa perlu memiliki pemahaman keuangan sebelum memulai karier. Menurutnya, penghasilan yang diperoleh nantinya perlu dikelola dengan perencanaan yang matang agar mampu menopang kebutuhan jangka panjang.
Baca juga: Pegadaian dan OJK Edukasi Mahasiswa Bahas Cara Cerdas Kelola Keuangan
"Masa kuliah menjadi momentum yang tepat untuk mulai belajar mengelola penghasilan dan merancang kondisi finansial jangka panjang," kata Antonius.
Ia menjelaskan, fase perkuliahan beriringan dengan persiapan memasuki karier. Karena itu, mahasiswa perlu memahami cara mengelola keuangan sejak sebelum memiliki tanggung jawab ekonomi yang lebih besar.
"Jangan sampai memulai karier tidak disertai pemahaman mengenai pengelolaan keuangan," jelasnya.
Antonius menilai tantangan literasi keuangan tidak berhenti pada mendorong masyarakat menggunakan produk jasa keuangan. Hal yang lebih penting adalah memastikan pengguna memahami manfaat dan risiko dari produk yang dipilih.
Ia mengutip data yang disampaikan Ketua Bidang Literasi AAJI Wianto, bahwa tingkat inklusi keuangan telah mencapai sekitar 80 persen. Namun, tingkat pemahaman atau ketertarikan masyarakat terhadap aspek literasi masih berada di kisaran 60 persen.
"Yang sudah melakukan harus diimbangi atau dibarengi dengan pemahaman yang benar-benar paham, sehingga tidak terjadi hal-hal seperti mereka tidak tahu apa yang mereka beli atau produk yang mereka gunakan mengandung risiko," ungkap Antonius.
Baca juga: Dorong UMKM Tangguh, Prudential Syariah dan Dewan Asuransi Indonesia Gelar Literasi Asuransi 2025
Karena itu, AAJI menjadikan mahasiswa sebagai salah satu sasaran program literasi yang digelar di berbagai daerah. Edukasi sejak dini diharapkan membentuk kebiasaan finansial sebelum seseorang memasuki fase kehidupan dengan tanggung jawab ekonomi yang lebih besar.
Selain literasi, Antonius menyoroti penetrasi asuransi jiwa di Indonesia yang masih menghadapi tantangan. Menurutnya, peningkatan kepemilikan produk asuransi perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan perlindungan finansial.
Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara Asia yang tingkat kepemilikan asuransinya lebih tinggi.
"Di Taiwan, misalnya, satu individu bahkan dapat memiliki lebih dari satu polis. Indonesia masih belum semua punya. Seiring berkembangnya masyarakat, terutama segmen menengah, Indonesia harus mulai berasuransi dan untuk itu harus dimulai dari dini," terangnya.
Kebutuhan perlindungan finansial, lanjut Antonius, semakin relevan ketika usia harapan hidup masyarakat terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi indikator positif dari sisi kesehatan, tetapi sekaligus membuat kebutuhan finansial pada masa lanjut usia berlangsung lebih panjang.
"Penghasilan itu baru awal. Bagaimana kita mengelolanya kemudian juga menjadi kunci terhadap hidup kita nantinya," ujar Antonius.
Ia menilai masyarakat tidak cukup hanya berorientasi pada kebutuhan konsumsi saat ini. Sebagian penghasilan perlu dialokasikan untuk tabungan, aset, dan perlindungan masa depan.
Edukasi proteksi keuangan juga diarahkan untuk membantu generasi muda menghadapi risiko menjadi sandwich generation, yakni ketika seseorang harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus anak. Fenomena tersebut bahkan dapat berkembang menjadi club sandwich generation ketika tanggungan mencakup kerabat lain, seperti saudara atau keponakan.
"Berbakti kepada orang tua itu baik dan tetap harus menjaga kearifan Timur. Tetapi jangan sampai membebankan generasi berikutnya. Produk seperti asuransi dapat membantu mengurangi yang namanya sandwich generation," bebernya.
Meski demikian, memiliki lebih dari satu polis tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari persoalan tersebut. Antonius menegaskan, efektivitas perlindungan tetap bergantung pada kebutuhan dan gaya hidup setiap individu.
"Karena itu, literasi menjadi bagian penting agar masyarakat tidak sekadar membeli produk keuangan, tetapi memahami tujuan dan manfaatnya dalam perencanaan finansial," tegas Antonius.