SURYA.CO.ID, KEDIRI - Keteguhan hati seorang bocah Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kediri dalam merawat sang ibu yang berbaring tak berdaya menyajikan potret perjuangan hidup yang menyayat hati sekaligus mengunggah rasa haru mendalam.
Di usia yang masih sangat muda, ia harus memikul tanggung jawab besar menggantikan peran mendiang ayahnya untuk menjaga tumpuan hidup keluarganya itu.
Pengorbanan tulus tanpa keluh kesah yang dilakoni anak yatim ini akhirnya menyenggol perhatian orang nomor satu di Pemkab Kediri.
Kehadiran pemerintah daerah secara langsung di gubuk derita mereka menjadi bukti bahwa perjuangan dan ketulusan kasih sayang anak terhadap ibunya tidak pernah berjalan sendirian.
Baca juga: Ribetnya Pembersihan Cat Vandalisme Cikar Mbah Gleyor di Kediri, Tak Sembarangan Tangani Kayu 1 Abad
Di usia yang baru menginjak 11 tahun, Marvel harus menjalani keseharian yang tak mudah.
Di tengah kewajibannya sebagai siswa kelas V sekolah dasar, ia juga menjadi sosok yang paling sering merawat ibunya yang sedang sakit.
Marvel tinggal berdua bersama sang ibu, Kumala, di Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
Selama sekitar dua tahun terakhir, ia terbiasa membantu berbagai kebutuhan ibunya yang hanya bisa berbaring di atas kasur akibat sakit pengapuran tulang.
Kisah Marvel itu diketahui Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau yang akrab disapa Mas Dhito setelah menerima laporan mengenai kondisi keluarga itu sekitar dua hingga tiga minggu sebelumnya.
Kamis (13/8/2026) siang, Mas Dhito datang langsung ke rumah Marvel dan berbincang dengan Kumala serta putranya.
Saat ditemui, Marvel masih mengenakan seragam putih merah sepulang sekolah.
Di rumah itu, Marvel tak hanya menjalankan perannya sebagai seorang anak.
Ia juga membantu memasak, mencuci piring, memandikan hingga mendampingi ibunya ketika hendak ke kamar mandi.
Kumala mengatakan, kondisi kesehatannya bermula ketika dirinya mengalami kesemutan dan rasa linu hingga terjatuh dan tidak mampu bangun.
"Awalnya kesemutan, terus linu, terus jatuh, nggak bisa bangun," ucapnya saat diajak berbincang sambil berbaring di atas kasur pukul 13.00 WIB.
Kumala sempat menjalani pengobatan di RSUD SLG.
Kini, ia masih menjalani proses pemeriksaan untuk rencana operasi di RSUD Gambiran.
Kondisi itu membuat Marvel harus belajar mandiri sejak masih duduk di kelas III SD.
Selama kurang lebih dua tahun, ia terbiasa mengurus berbagai kebutuhan rumah sekaligus memastikan ibunya tetap mendapatkan makanan dan bantuan yang diperlukan.
Rutinitas itu bahkan dimulai sejak pagi.
Sebelum berangkat sekolah sekitar pukul 06.30 WIB, Marvel terlebih dahulu menyiapkan makanan untuk ibunya.
Sepulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB, ia kembali memasak dan membantu pekerjaan rumah.
Sore harinya, Marvel masih menyempatkan diri mengaji sebelum pulang dan kembali menyiapkan kebutuhan ibunya.
Baca juga: Banyak Pilihan Sekolah, Hanya Ada Dua Siswa Baru di SDN Tertek 1 Pare Kabupaten Kediri
Mas Dhito mengaku terkesan melihat keteguhan Marvel dalam menjalani kesehariannya.
Terlebih, Marvel tetap berusaha menjalankan kewajibannya sebagai pelajar dan anak meski harus merawat ibunya.
"Usianya 11 tahun, tapi luar biasa sekali anak ini merawat ibunya," kata Mas Dhito.
Mas Dhito juga sempat menanyakan kepada Marvel apakah selama menjalani rutinitas itu dirinya pernah merasa berat.
Marvel mengaku sempat merasa kesulitan pada awalnya, namun kini sudah terbiasa.
Di tengah kondisi itu, Mas Dhito berpesan agar Marvel tidak kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Ia meminta Marvel tetap sekolah, terus merawat ibunya dan menjaga ibadah.
"Le, kamu harus jalankan tiga hal yang paling penting. Yang pertama, sekolahmu tetap harus lanjut, ndak boleh berhenti. Yang kedua, tetap rawat ibumu. Yang ketiga, salat dan ngajimu jangan putus. Insyaallah kalau itu tiga-tiganya dilakukan, kamu akan jadi anak yang sukses baik di dunia maupun di akhirat," tuturnya.
Selain memberikan semangat, Mas Dhito juga membawa sejumlah bantuan untuk memenuhi kebutuhan Marvel dan ibunya.
Bantuan itu antara lain sepasang sepatu, pakaian, kaus kaki, makanan serta kebutuhan sehari-hari.
Mas Dhito kemudian menanyakan kebutuhan Marvel untuk menunjang aktivitas sekolahnya.
Marvel menyampaikan keinginannya memiliki sepeda listrik karena selama ini tidak memiliki kendaraan untuk berangkat ke sekolah.
Permintaan itu langsung disanggupi Mas Dhito.
Ia memastikan sepeda listrik untuk Marvel segera diberikan.
"Selambat-lambatnya besok datang lah," ungkapnya.
Tak hanya itu, Mas Dhito juga memberikan nomor kontak pribadinya kepada Marvel.
Ia memastikan anak itu tetap dapat menghubunginya apabila membutuhkan bantuan, termasuk untuk kebutuhan sekolah dan sehari-hari.
"Kalau nanti saya sudah tidak menjabat bupati, kapan pun kamu butuh, hubungi saja saya," tegas Mas Dhito.
Baca juga: Lereng Kelud Terancam Kekeringan, Warga Puncu Kediri Kompak Tolak Tambang Pasir
Sementara itu, Kumala mengaku terharu sekaligus bersyukur atas kedatangan Mas Dhito ke rumahnya.
"Terharu," ucap Kumala saat ditanya perasaannya setelah didatangi Mas Dhito.
Kumala menjelaskan, dirinya dan Marvel kini hanya tinggal berdua di rumah.
Sang suami telah meninggal dunia sekitar satu tahun lalu akibat kecelakaan.
Dalam kesehariannya, Kumala mengatakan terkadang ada pihak lain yang membantu, meski tidak selalu datang.
Kondisi itu membuat Marvel tetap menjadi orang yang paling sering mendampingi dan merawat dirinya.
Di tengah harapan untuk kembali pulih, Kumala ingin segera menjalani pengobatan agar dapat kembali menjalankan perannya sebagai seorang ibu.
"Saya ingin cepat sembuh, agar terus bisa merawat Marvel lagi," tutur Kumala.