NEGARA, TRIBUN-BALI.COM – Ribuan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Jembrana, Bali, mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat musim kemarau ekstrem yang berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, hingga Kamis 13 Agustus 2026, sebanyak 596 kepala keluarga (KK) atau ribuan warga terdampak krisis air bersih yang tersebar di tujuh banjar atau lingkungan.
Kondisi tersebut membuat BPBD Jembrana bersama PMI, TNI, dan Polri harus melakukan distribusi air bersih secara rutin ke wilayah terdampak.
Total air bersih yang telah disalurkan mencapai hampir 140 ribu liter.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, mengatakan warga yang terdampak merupakan masyarakat yang selama ini menggantungkan kebutuhan air bersih dari sumber air pegunungan.
"Yang terdampak adalah warga yang selama ini memanfaatkan air pegunungan," jelas I Putu Agus Artana Putra saat dikonfirmasi, Kamis 13 Agustus 2026.
Agus Artana menjelaskan, ratusan KK yang terdampak kekeringan tersebar di sejumlah wilayah Jembrana.
Wilayah tersebut meliputi Desa Manistutu dan Desa Tukadaya di Kecamatan Melaya, Kelurahan Baler Bale Agung di Kecamatan Negara, dua lingkungan di Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, serta Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo.
Sementara untuk wilayah Kecamatan Pekutatan, BPBD Jembrana masih melakukan pemantauan dan pendataan terhadap kemungkinan warga yang mengalami kesulitan air bersih.
"Total warga terdampak saat ini sudah ada 596 KK. Itu tersebar di berbagai wilayah kecuali Kecamatan Pekutatan," sebutnya.
Menurut Agus Artana, kondisi kekeringan tahun ini berpotensi lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Terlebih, debit air di sejumlah sumber air pegunungan mulai mengalami penurunan akibat minimnya pasokan air selama musim kemarau.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, wilayah yang mengalami krisis air bersih diperkirakan dapat bertambah.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, BPBD Jembrana telah melakukan pendistribusian air bersih secara bertahap.
Hingga saat ini, total air bersih yang telah disalurkan mencapai sekitar 140 ribu liter. Bantuan distribusi juga dilakukan oleh PMI, TNI, dan Polri.
"Penyaluran kita lakukan ke tandon yang memang sudah disediakan (BPBD) dan juga ke rumah warga atau ke tandon milik dari kelompok swadaya masyarakat di wilayah terdampak," sebutnya.
BPBD Jembrana terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di sejumlah wilayah. Pendataan juga dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat segera ditangani apabila dampak kemarau semakin meluas.
Kondisi ini sekaligus menjadi perhatian karena sebagian masyarakat Jembrana masih bergantung pada sumber air alami, terutama sumber air pegunungan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dengan potensi musim kemarau yang masih berlangsung, BPBD mengimbau masyarakat di wilayah rawan kekeringan untuk melaporkan kondisi kesulitan air bersih agar dapat segera ditindaklanjuti.
(*)