TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump meninggalkan sejumlah pejabat tinggi dan pers di dalam pesawat yang kemungkinan menjadi target serangan rudal Iran, saat kembali dari Turki bulan lalu.
Trump kemudian terbang di pesawat lain bersama beberapa orang kepercayaannya, termasuk seorang wanita bernama Natalie Harp (34).
Washington Post melaporkan bahwa setelah Donald Trump masuk ke dalam pesawat Air Force One, ia diam-diam turun melalui tangga dan masuk ke dalam sebuah truk katering.
Truk itu membawanya ke pesawat C-32A, versi militer dari Boeing 757. Pesawat itu saat itu digunakan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Selain Natalie Harp, staf yang dipilih untuk mendampingi presiden di dalam pesawat yang lebih kecil itu antara lain Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino, dan Direktur Operasi Kantor Oval Walt.
Harp merupakan asisten eksekutif berusia 34 tahun yang dijuluki "printer manusia" Trump.
Ia sebelumnya menarik perhatian Dinas Rahasia dan orang-orang di sekitarnya karena meninggalkan catatan yang menunjukkan kekagumannya kepada mantan Trump.
Ia juga menyebut Harp sebagai bagian dari "klub penggemar" Trump.
Baca juga: Kontroversi Donald Trump Ganti Pesawat Belum Selesai, Ada Alasan Rubio Tetap Menaiki Pesawat Umpan
Preston telah meninggalkan AS untuk pergi ke Nikaragua dan tampaknya memiliki pandangan yang sangat berbeda dari saudara perempuannya.
Ia mengatakan kepada Daily Mail bahwa dirinya tidak mengerti bagaimana adiknya bisa bekerja untuk Trump.
Pria berusia 38 tahun itu mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa Trump, 80 tahun, adalah "aib nasional".
"Dia (Natalie) seperti klub penggemarnya," katanya.
Daily Mail melaporkan bahwa hubungan kakak-beradik itu mulai renggang pada 2020 setelah kematian tragis ayah mereka, Robert Harp.
Setelah kematian ayahnya, Preston mengatakan terjadi keretakan dalam keluarga.
Ia mengaku tidak lagi berhubungan dengan saudara perempuannya maupun ibunya, yang digambarkannya sebagai sosok yang "sangat religius".
Ia juga mengklaim kerabat lainnya turut renggang dari keduanya.
Preston Harp mengungkapkan bahwa ia pertama kali mengetahui saudara perempuannya bekerja untuk Trump pada 2023.
"Saya tidak tahu sama sekali," katanya.
"Jadi itu menyebabkan semacam disonansi kognitif. Saya tidak mengerti mengapa saudara perempuan saya, atau siapa pun, ingin bekerja untuk Trump."
Ketika dimintai komentar, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt hanya menjawab, "Natalie Harp adalah salah satu ajudan yang paling setia dan pekerja keras di tim Presiden Trump."
Natalie Harp sebelumnya merupakan pembawa acara televisi kabel sayap kanan.
Ia berada dalam pantauan Trump sejak 2019, ketika kisah perjuangannya melawan kanker menarik perhatian sang presiden.
Trump kemudian mengundangnya untuk berbicara dalam Konvensi Nasional Partai Republik 2020.
Harp lalu bergabung dengan staf Trump pada 2022.
Kedekatannya dengan presiden menjadi sorotan dalam buku Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump karya wartawan New York Times, Maggie Haberman dan Jonathan Swan.
Berdasarkan wawancara dengan ratusan sumber, buku tersebut menguraikan bagaimana Natalie Harp tetap dekat dengan Trump selama bertahun-tahun.
Kedekatan itu berlanjut setelah Trump kalah dalam pemilihan 2020 dan pindah ke Florida, menurut sebuah kutipan buku tersebut.
Ia juga secara luas dilaporkan sebagai orang di balik sejumlah unggahan Trump di Truth Social, termasuk beberapa unggahan yang paling kontroversial.
Harp dikenal sering menulis catatan penyemangat untuk presiden dan meninggalkannya agar ditemukan di "ruang pribadi".
Salah satu catatan tersebut berbunyi, "Kaulah satu-satunya yang penting bagiku."
Hubungan antara keduanya bahkan dianggap begitu aneh sehingga Susie Wiles, Kepala Staf Gedung Putih, dilaporkan berpikir dalam hati, "Di mana aku?" menurut buku tersebut.
Juru bicara Gedung Putih Kush Desai sebelumnya membela Natalie Harp dalam pernyataan kepada The Independent.
"Tidak ada presiden yang menumbuhkan loyalitas sebesar Presiden Trump di antara staf dan pejabat administrasinya. Ini adalah bukti komitmennya kepada negara kita dan rakyatnya," kata Desai.
Dilansir First Post, pada 8 Juli lalu, setelah menyelesaikan pertemuan NATO di Turki, Trump dan Dinas Rahasia melakukan operasi untuk memindahkan presiden AS dari Air Force One ke pesawat militer yang lebih kecil.
Operasi tersebut bahkan melibatkan penyembunyian Trump di dalam truk katering untuk membawanya secara diam-diam ke pesawat militer.
Ia mengatakan keputusan melakukan penipuan tersebut dibuat oleh militer AS dan Dinas Rahasia, yang ingin ia pergi dengan penerbangan yang berbeda.
Sehari sebelum keberangkatan Trump dari Turki, CIA dan dinas intelijen MIT Turki mendapatkan informasi mengenai rencana kredibel Iran untuk menembakkan rudal permukaan-ke-udara ke Air Force One.
Ada pula laporan mengenai tim di Turki yang ditugaskan untuk menembakkan rudal permukaan-ke-udara ke pesawat tersebut.
New York Times juga melaporkan bahwa Iran mengetahui lokasi Trump menginap di Ankara, termasuk lantai tempat Trump berada di gedung tersebut.
Ancaman tersebut tampaknya cukup meyakinkan untuk mendorong Trump dan timnya melakukan penipuan.
Trump menaiki pesawat Air Force One yang lebih tua di depan kamera.
Sebelumnya, ia telah mengumumkan akan menggunakan pesawat tersebut "untuk mengenang masa lalu".
Setelah itu, Trump menyelinap pergi menggunakan kontainer katering bandara dan kemudian menaiki jet militer untuk meninggalkan Turki.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)