Benarkah Kanker Payudara di Usia Muda Lebih Ganas? Pakar Ungkap Faktanya
GH News August 14, 2026 09:08 AM
Jakarta -

Korea Selatan (Korsel) tengah menghadapi peningkatan kasus kanker payudara, termasuk pada wanita berusia 30-an dan 40-an. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa kanker payudara yang menyerang wanita usia muda memiliki karakteristik yang lebih ganas.

Lantas, benarkah kanker payudara pada wanita usia muda cenderung lebih agresif?

Pakar Onkologi Medis dari Seoul St Mary's Hospital, The Catholic University of Korea, Prof Lee Ji-eun, menegaskan bahwa usia muda saja tidak dapat menjadi penentu apakah kanker payudara yang dialami seseorang lebih agresif atau tidak.

Dengan kata lain, diagnosis kanker payudara pada usia muda tidak otomatis berarti penyakitnya lebih ganas. Ada faktor lain yang perlu diperhatikan untuk menentukan karakteristik dan tingkat agresivitas kanker.

"Menjadi muda tidak secara otomatis berarti kanker yang diidap lebih agresif," ujar Prof Lee yang dikutip dari , Kamis (13/8/2026).

Meski begitu, Prof Lee tidak menampik bahwa subtipe kanker payudara yang tergolong agresif, memang lebih sering ditemukan pada kelompok wanita berusia 30-an dan 40-an tahun.

Data menunjukkan bahwa kanker payudara jenis triple-negative mencakup 22,8 persen dari total kasus pada pasien berusia 15 hingga 39 tahun. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding kelompok usia 50 tahun ke atas yang berada di angka 11,7 persen.

Serupa dengan itu, proporsi kanker payudara jenis HER2-positif pada pasien muda juga tercatat lebih tinggi, yakni mencapai 28,2 persen dibanding 16,6 persen pada kelompok usia lebih tua.

"Subtipe triple-negative dan HER2-positif yang cenderung lebih agresif memang ditemukan dengan proporsi lebih tinggi pada wanita muda. Hal inilah yang membuat kanker payudara pada wanita muda sering digambarkan agresif dan dianggap berkembang lebih cepat. Padahal, yang paling menentukan adalah subtipe dan stadium kankernya," jelas Prof Lee.

Pentingnya Memahami Subtipe Kanker

Pakar onkologi dari Gangnam Severance Hospital, Prof Kim Ji-hyung, menanggapi kepanikan yang kerap dialami pasien muda saat pertama kali didiagnosis. Ia menekankan pentingnya bagi pasien untuk memahami subtipe spesifik dari penyakit yang diidapnya.

"Kanker payudara terbagi ke dalam beberapa jenis yang khas. Strategi paling krusial saat ini adalah menentukan secara akurat pengobatan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masing-masing pasien," terang Prof Kim.

"Bahkan pada stadium awal, ada pasien yang tidak membutuhkan kemoterapi, sementara yang lain justru sangat membutuhkannya. Keputusan terapi yang tepat adalah kuncinya," lanjutnya.

Prof Kim meminta para pasien yang terdiagnosis subtipe agresif seperti triple-negative atau HER2-positif untuk tidak berkecil hati. Pasalnya, penanganan medis saat ini telah berkembang pesat.

"Untuk kanker yang agresif, strategi terapinya kini sudah berubah. Alih-alih langsung melakukan tindakan pembedahan atau operasi, kami dapat menerapkan pendekatan seperti kemoterapi neoadjuvan terlebih dahulu untuk mengecilkan tumor," tutur Prof Kim.

Jangan Langsung Panik Cari Informasi Internet

Prof Lee menambahkan bahwa respons pengobatan pada setiap pasien sangat bervariasi. Menurutnya, pasien dengan subtipe triple-negative maupun metastatik sekalipun tetap memiliki peluang besar untuk berada dalam kondisi stabil.

Bahkan bisa bebas dari kekambuhan dalam jangka panjang berkat hadirnya terapi target.

Ia mengimbau pasien yang baru terdiagnosis untuk fokus memahami kondisi penyakitnya melalui diskusi dengan tim medis, ketimbang panik karena membaca terlalu banyak informasi yang belum tentu akurat di internet.

"Saat terdiagnosis, orang-orang sering kali panik dan mencari informasi dalam jumlah sangat besar di internet. Padahal yang paling penting adalah memahami subtipe apa yang dimiliki, lalu mendiskusikan rencana pengobatan terbaik bersama tim dokter," pungkas Prof Lee.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.