Sri Sultan HB X Harap Pemikiran Bapak Pramuka Menjadi Kurikulum Moral Bangsa
Yoseph Hary W August 14, 2026 10:01 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM -  Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya mewarisi filosofi kepemimpinan dan keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bagi generasi muda Gerakan Pramuka. 

Penegasan tersebut disampaikan dalam acara peluncuran buku 'Tahta, Darma, dan Karsa': Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Auditorium Sukarman Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Kamis (13/8).

Pengabdian tanpa pamrih

Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti kembali pidato Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang, tahun 1971 silam. Pidato tersebut menegaskan bahwa kepanduan Indonesia dibangun di atas semangat pengabdian tanpa pamrih, sebuah cerminan dari kearifan sosok pemimpin sejati.

"Dengan judul 'The Trend in Scouting', pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik. Namun manifestasi dari watak seorang pemimpin yang oleh masyarakat Jawa disebut memiliki sifat Janma Limpad Seprapat Tamat," ungkap Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa sifat tersebut merujuk pada sosok pemimpin yang sangat arif. Meskipun baru menangkap sepotong persoalan, pemimpin tersebut sudah mampu memahami maksud, arah, dan tujuan dari permasalahan yang ada secara utuh.

"Bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ketajaman batinnya mampu menangkap keseluruhan dari yang sebagian. Sifat itulah yang tampak dalam rekam jejak beliau (HB IX). Semuanya bertumpu pada kemampuan membaca situasi secara utuh sebelum bertindak," imbuh Sri Sultan.

Bagi Sri Sultan yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka DIY, filosofi tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kondisi Gerakan Pramuka hari ini. Kepekaan batin dalam membaca situasi secara utuh memungkinkan seseorang untuk bertindak cepat dan tepat tanpa terjerumus pada sikap gegabah.

"Justru sebaliknya, kepekaan sejati selalu disertai kehati-hatian, disertai analisis yang jernih, disertai kesediaan untuk berhenti sejenak sebelum melangkah. Inilah pelajaran kepemimpinan yang saya kira, terlalu sering dilupakan zaman kita, bahwa kecepatan tanpa kejernihan adalah kecerobohan yang dipercepat," paparnya tegas.

Panduan nyata

Melalui buku yang ditulis oleh Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati ini, Sri Sultan berharap pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX selama dua dekade (1941-1961) dapat menjadi panduan nyata. Buku ini tidak diposisikan sebagai sekadar biografi, melainkan sebagai upaya menerjemahkan perjalanan hidup menjadi sebuah kurikulum moral bagi generasi yang tidak sempat bersinggungan langsung dengan sosok HB IX.

"Saya berharap, buku ini menjadi jangkar bagi anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia. Bukan untuk mengagumi masa lalu, melainkan untuk menghidupkan nilainya di masa kini. Sebab, keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan, sedangkan keteladanan yang dihayati akan menjadi peradaban," tambahnya.

Relevansi pendidikan moral melalui Pramuka ini disambut baik oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu'ti, yang hadir memberikan pidato kunci. Ia mengungkapkan adanya kegelisahan di kementerian terkait realitas degenerasi nilai-nilai kehidupan pada generasi muda saat ini. Sejalan dengan hal tersebut, Kemendikdasmen RI telah menetapkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di seluruh jenjang pendidikan karena Dasa Darma Pramuka yang berakar pada Pancasila dinilai krusial untuk ditanamkan.

"Ajaran-ajaran mulia dari para tokoh pendiri bangsa, tidak lagi tumbuh di kalangan anak-anak kita. Karena itulah, melalui buku ini, saya antusias untuk kita semua bersama-sama membangunkan kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dengan Pramuka sebagai sarananya," ungkap Mu'ti.

"Kehadiran buku ini menjadi sangat penting untuk mengingatkan kita kembali akan semangat untuk membangun integrasi bangsa. Maka dengan semangat Hari Pramuka peluncuran ini menjadi sangat tepat dan menjadi sangat bermakna demi kedaulatan bangsa Indonesia," kata Mu'ti menutup pidatonya.

Peluncuran buku kesejarahan ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat dan tokoh penting, di antaranya Kepala Perpustakaan Nasional RI E. Aminudin Aziz, Penasehat Khusus Presiden Bidang Keamanan, Ketertiban Masyarakat, dan Reformasi Kepolisian Letjen Pol (Purn) Ahmad Dofiri, serta Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Nasional Komjen Pol (Purn) Budi Waseso. 

Turut hadir pula Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY GKR Hayu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas GKR Mangkubumi, serta Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas Acep Somantri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.