TRIBUNPEKANBARU.COM - Ketika bencana datang, kesiapsiagaan menjadi salah satu kunci untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Karena itu, masyarakat, termasuk perempuan di tingkat desa, perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi kondisi darurat.
Hal tersebut menjadi perhatian PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng) melalui program Desa Siaga Bencana PLN 2026 .
Mengusung tema Srikandi Siaga Bencana: Penguatan Peran Perempuan sebagai Penggerak Ketangguhan Desa , PLN menggelar pelatihan kesiapsiagaan bencana di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai Senin (10/8/2026).
Pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali risiko, melakukan tindakan penyelamatan awal, serta merespons situasi bencana sebelum bantuan dari pihak luar tiba.
Kepala BPBD Kabupaten Agam Rahmad Lasmono mengatakan, kesiapsiagaan masyarakat menjadi semakin penting mengingat Kabupaten Agam merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Sumatera Barat.
Dalam kegiatan tersebut, Rahmad menyampaikan bahwa bencana yang terjadi di Kabupaten Agam sepanjang 2025 telah menyebabkan korban jiwa lebih dari 200 orang.
“Risiko bencana membutuhkan kesiapan seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya pemerintah atau petugas, tetapi juga masyarakat harus memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan awal ketika bencana terjadi,” kata Rahmad dalam kegiatan pelatihan.
Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kesiapsiagaan di tingkat keluarga maupun lingkungan. Perempuan dapat berperan sebagai pengingat, edukator, sekaligus penggerak masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana.
Pelatihan Srikandi Siaga Bencana tidak hanya berisi penyampaian materi di dalam ruangan. Peserta juga diajak mengikuti praktik lapangan melalui aksi dan simulasi kesiapan dini menghadapi bencana.
Melalui simulasi tersebut, peserta dilatih untuk memahami apa yang harus dilakukan ketika kondisi darurat terjadi, bagaimana berkoordinasi, serta bagaimana mengambil tindakan secara cepat dan tepat.
Senior Officer Perizinan PLN UIP Sumbagteng Theodore Pramana Ndaha, yang hadir mewakili General Manager PLN UIP Sumbagteng, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya PLN membangun ketangguhan masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan.
Menurut Theo, ketangguhan desa tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kesiapan sumber daya manusia.
“Ketangguhan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh infrastrukturnya. Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana juga menjadi bagian penting dari ketangguhan tersebut,” ujarnya.
Ia berharap peserta yang mengikuti pelatihan dapat menjadi penggerak kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing.
“Pengetahuan yang diperoleh jangan berhenti di peserta. Harapannya dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat sehingga semakin banyak warga yang memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” kata Theo.
Pelatihan Desa Siaga Bencana di Nagari Salareh Aia berlangsung selama tiga hari. Rangkaian kegiatan mencakup paparan materi, diskusi, praktik lapangan, hingga gladi simulasi kesiapsiagaan bencana.
Kegiatan tersebut diikuti dan didukung berbagai pihak, mulai dari unsur PLN, BPBD Kabupaten Agam, pemerintah kecamatan, pemerintahan nagari, hingga masyarakat setempat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Srikandi PLN dan Tim K3L PLN, Kepala BPBD Kabupaten Agam Rahmad Lasmono, perwakilan Kecamatan Palembayan, Walinagari Salareh Aie Rijal Islami, Walinagari Salareh Aie Timur Ahmad Fauzi, serta Yayasan Spektrum Kebangsaan Indonesia sebagai pelaksana Program PLN Peduli UIP Sumbagteng.
Melalui program tersebut, PLN berharap terbentuk masyarakat yang tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga mampu mengambil tindakan ketika situasi darurat terjadi.
Lebih jauh, perempuan diharapkan dapat mengambil peran sebagai Srikandi Siaga Bencana yang menggerakkan keluarga dan masyarakat untuk membangun budaya sadar bencana. Sebab, ketika bencana tidak dapat diprediksi kapan datangnya, kesiapan menjadi sesuatu yang harus dibangun jauh sebelum bencana terjadi.