Colosseum adalah saksi bisu pertumpahan darah ribuan gladiator. Dibangun untuk memuaskan hasrat para pemimpin Romawi Kuno.
Tayang pertama di Majalah Intisari edisi Mei 1966 dengan judul "Pesta Darah Diarena"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Terompet berbunyi. Pintu arena terbuka.
Penonton bersorak gembira menyaksikan pawai gladiator memasuki arena (arena bahasa Latin, artinya pasir. Pasir ditaburkan dalam arena agar dara mudah dibersihkan). Di depan kaisar pawai terhenti, dan dengan suara yang tetap dan pasti, para gladiator berkata kepada kaisar:
“Ave Impera cor, morituri te salutamus.” Yang artinya, “Terpujilah Kaisar, kematian kematian kami hormati tuanku.”
Bagi para gladiator, ucapan tersebut bukanlah omong kosong belaka. Mereka sadar nasib mereka, memasuki arena berarti bersedia untuk mati, kalau tidak sekarang, pasti lain kali akan datang gilirannya.
Jalannya pertandingan
Sesudah menghormati kaisar, kemudian senjata-senjata yang dipergunakan diperiksa, lalu dimulailah perang-perangan sebagai semacam warming up, untuk “menghangatkan” badan. Acara pembukaan ini biasanya membuat para penonton yang haus darah menjadi tidak sabar.
Selesai warming up, semua gladiator meninggalkan arena. Dan tibalah saat-saat yang ditunggu-tunggu penonton. Protokol berseru lantang: “Pugnax dengan persenjataan Thraci melawan Murranus dengan persenjataan Galli.”
Penonton bersorak gembira menyambut pengumuman itu. Kemudian sepi.
Mereka bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang akan menang? Siapakah yang harus membayar pertarungan itu dengan darah?
Orang yang bertaruh, memperhitungkan dengan teliti, kekuatan yang dimiliki oleh kedua jago itu. Dan juga tidak dilupakan menilai jenis senjata yang dipergunakan oleh mereka. Kekuatan, keterampilan, dan persenjataan merupakan faktor-faktor yang tidak boleh diabaikan dalam menentukan kemenangan.
Tiba-tiba terompet berbunyi lagi. Itu tandanya bahwa permainan akan segera dimulai. Pugnax memasuki arena dengan langkah yang tegap. Kemudian muncul Murranus.
Saat-saat yang tegang terjadi. Baik Pugnax maupun Murranus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menumbangkan lawannya. Tipu siasat dijalankan.
Suara pedang gemerincing disela oleh teriak para penonton. Gladiator yang tampak ragu-ragu mendapat ejekan dari penonton. Rupanya sampai hati juga menonton yang membayar beberapa keping mata uang itu menuntut kematian sesama insan.
Tiba-tiba penonton berteriak: “Habet, habet” – kena, kena. Dan Murranus yang luka di lambungnya tersungkur ke tanah.
Darah mengalir deras. Gladiator yang malang itu dengan susah payah bertumpu pada sikunya, kemudian diacungkannya telunjuknya ke atas. Dia minta diampuni.
Keputusan tergantung kepada penonton, gladiator yang malang itu diampuni atau dibunuh. Apa keputusan mereka? Apakah mereka akan menghujamkan ibu jarinya ke bawah sebagai isyarat kepada Pugnax untuk menghabisi Murranus? Ataukah mereka meletakkan tangannya ke dada sebagai tanda pengampunan?
Bagi gladiator Murranus sebenarnya tak banyak bedanya, kalau sekarang dia diselamatkan, toh lain kali dia akan mati juga di arena. Ave Imperator.
Training Centre gladiator
Untuk mendapatkan gladiator pilihan pemerintah membuka sekolah-sekolah yang khusus untuk melatih mereka. Ada juga sekolah macam ini yang diusahakan oleh golongan swasta.
Calon gladiator pastilah mendapat makanan dan perawatan yang baik. Tapi mereka harus hidup dengan tata tertib yang keras.
Pelanggaran terhadap tata tertib akan mendapat siksaan yang berat. Sebagian besar dari mayat 63 orang gladiator yang ditemukan di reruntuhan sekolah mereka di Pompeii, ditemukan dalam keadaan terantai. Penjaga-penjaga harus selalu waspada, supaya para gladiator itu tidak melakukan bunuh diri.
Calon gladiator pada umumnya terdiri atas orang-orang hukuman yang dijatuhi hukuman mati. Tapi ada juga calon gladiator yang berasal dari sampah masyarakat.
Anak-anak muda dari keluarga baik-baik ada juga yang tertarik memasuki sekolah gladiator karena terpikat oleh kemasyhuran dan kemegahan palsu yang akan mereka peroleh di arena. Beberapa orang kaisar malah gemar mengikuti latihan-latihan sebagai gladiator, seorang di antaranya adalah Commodus. Bahkan benar-benar ikut memasuki gelanggang pertandingan.
Di samping hidupnya yang berat serta selalu dibayangi oleh risiko maut, ada juga segi kehidupan yang meringankan penanggungan seorang gladiator. Di mana pun juga pada umumnya orang menghargai kekuatan tenaga manusia yang berlebih-lebihan, bahkan sering penghargaan itu sampai-sampai mendekati kepada pemujaan.
Begitu pula halnya dengan orang-orang Romawi yang gemar berperang. Sebab itu tidak mengherankan bahwa seorang gladiator yang ulung selalu menjadi buah bibir masyarakat dan dia dipuja-puja.
Gambarnya mendapat tempat yang baik di mana-mana, tak ubahnya dengan keadaan seorang atlet unggul atau bintang film tenar saat ini. Begitulah popularitas bekerja.
Kebanyakan gladiator itu asalnya tawanan-tawanan perang, seperti misalnya Spartacus orang Thracia, yang dalam tahun 73 SM memimpin pemberontakan para gladiator. Tidak kurang tiga tahun lamanya dia melawan tentara Romawi.
Permainan gladiator telah ada beberapa abad sebelum Anno Domini, pada mulanya permainan ini ada hubungannya dengan upacara penguburan kaum bangsawan. Tapi kemudian orang menyalahgunakan tujuan itu.
Para bangsawan dan orang-orang kaya sering mengorganisasi permainan gladiator dengan maksud mencari pengaruh rakyat supaya mendapat kedudukan. Dan upacara penguburan yang sebenarnya malah dijadikan tujuan yang sekunder.
Dalam tahun 264 SM, Marcus dan Decimus Brutus mengadakan pertunjukan tiga pasang gladiator di Roma pada kesempatan penguburan ayahnya. Tidak kurang dari 74 pasang gladiator harus bertanding dalam upacara penguburan ayah Titus Flamininus pada 174 SM.
Dan Julius Caesar tanpa alasan tertentu telah menghibur rakyatnya dengan pertunjukan yang menumpahkan darah ini, banyaknya gladiator tak kurang dari 300 pasang.
Tentu ada orang-orang yang tidak menyetujui permainan yang bermandikan darah itu. Ketika di Athena dirancang akan diadakan pertandingan gladiator, orang-orang Yunani menolaknya. Mereka ternyata lebih taat kepada pemujaan dewa-dewa.
Tapi bagaimanapun juga orang memang bisa ketagihan melihat permainan yang kejam ini, sama halnya dengan ketagihan melihat sabungan ayam jago.
Agustinus misalnya pernah menceritakan tentang tingkah laku sahabatnya Alipius. Pada suatu hari Alipius tanpa maunya sendiri ikut terbawa menyaksikan permainan gladiator.
Karena dia tak mau menyaksikan pertunjukan yang kejam itu, maka dia berjanji akan menutup matanya selama pertandingan. Tapi kiranya dia tak dapat bertahan lama, maka dia pun akhirnya membuka matanya.
Apa yang terjadi? Dia terpesona melihat pertunjukan itu. Dan akhirnya … dia jadi pecandu amphitheater.
Amphitheater bermunculan
Pada mulanya permainan gladiator dipertunjukkan di tempat-tempat yang tidak permanen. Tribun-tribun dari kayu untuk para penonton dibuat menjelang pertandingan tersebut, sesudah selesai pertandingan tribun itu lalu dibongkar lagi.
Tapi lama kelamaan dirasa perlu adanya bangunan yang permanen, lebih-lebih ketika minat akan permainan ini semakin meningkat. Orang-orang mulai memikirkan pembangunan amphitheater.
Maka kemudian muncullah amphitheater-amphitheater raksasa, “kolosal”, yang boleh digolongkan ke dalam keajaiban bangunan kuno. Tidak hanya di Roma tapi di daerah-daerah lain didirikan pula bangunan untuk permain berdarah ini.
Misalnya amphitheater di Capua, Pompei, Pozzuoli, dan Verona di Italia; Aries dan Nimes di Prancis; di Italica dekat Sevilla di Spanyol; di Pola Istria bahkan di El Djem dan Kartago di Afrika.
Amphitheater Pompeii yang diperkirakan sebagai bangunan yang pertama-tama didirikan pada kira-kira tahun 80 SM. Bangunan itu benar-benar kolosal berbentuk bulat telur sebagaimana amphitheater yang lain dan bisa memuat 20 ribu orang penonton.
Gaius Scribonius Curia merupakan orang yang pertama-tama membangun amphitheater bagi orang-orang Roma. Menurut Plinius pada 50 SM Curia menyuruh membuat dua buah theater kayu yang letaknya bertolak belakang.
Jika tidak dipergunakan untuk pertunjukan drama, maka kedua theater itu dapat diputar, sehingga terbentuklah sebuah amphitheater. Theater-theater dari kayu itu kebanyakan ikut musnah ketika Nero membakar kota Roma.
Colosseum yang kolosal
Colosseum yang kini masih kelihatan sisanya dan menjadi ciri khas Kota Roma, didirikan oleh Kaisar Vesnasianus pada 72 dan selesai di bawah pemerintahan Kaisar Titus. Peresmian pembukaan ini makan waktu seratus hari lamanya.
Ribuan gladiator dan binatang buas menemui ajalnya dalam pesta darah itu. Kaisar Trajanus ingin melebihi kekejaman tersebut. Untuk merayakan kemenangannya atas Decebalus raja Daci pada 106, dia mengirimkan 10 ribu orang ke arena.
Bagian terpanjang dari Colosseum tercatat 190 meter sedangkan yang terlebar 158 meter. Konon Colosseum dapat memuat 87 ribu penonton, tapi rupanya angka ini agak dilebih-lebihkan.
Meskipun demikian sekurang-kurangnya pasti dapat menampung tempat duduk bagi 45 ribu penonton dan di atas dapat menampung sekurang-kurangnya 5.000 penonton yang berdiri. Colosseum tersebut merupakan amphitheater yang terbesar di Roma, yang lebih kecilan didirikan pada zaman Kaisar Trajanus, disebut amphitheater Castrense masih bisa dilihat pula sisa-sisanya.
Untuk menghemat biaya kadang-kadang sebuah amphitheater didirikan di lembang yang dikelilingi pegunungan-pegunungan. Dan di pegunungan itulah dibuat tempat-tempat duduk bagi penonton.
Colosseum Roma memiliki tempat yang dibuat dari marmer. Malah tempat duduk amphitheater di Pompeii diberi nomor pula. Rupa-rupanya pada zaman itu telah berlaku cara-cara pesan tempat.
Dinding luar Colosseum yang setinggi 47 meter itu dibuat dari bahan travertino dan dibagi menjadi empat tingkat. Ketiga tingkat yang terbawah di sela-sela oleh 80 buah gang.
Di tingkat teratas terdapat sekurang-kurangnya 40 jendela kecil yang memasukkan cahaya dan udara ke dalam gang-gang. Gang-gang di tingkat terbawah dipergunakan sebagai pintu masuk, dua buah di antaranya disediakan buat kaisar; 76 buat publik; dua buah khusus untuk pintu masuk ke dalam arena, yaitu tempat perkelahian itu dilangsungkan.
Seperti telah dinyatakan di atas arena berarti pasir. Beberapa orang kaisar malah menganggap pasir kurang cocok bagi matanya, maka untuk memperindah pandangan, pasir itu diganti dengan … emas urai.
Supaya udara tetap bersih dan segar tak berbau darah, maka beberapa air mancur disediakan dan airnya pun diberi parfum, sehingga harum baunya. Tembok yang tegak lurus lagi licin sehingga tak bisa dilalui binatang buas, didirikan untuk memisahkan bagian arena dengan cavea, yaitu tempat para penonton. Tembok ini masih diperkokoh dengan pagar logam.
Malah di bawah Colosseum digali sebuah terusan, sehingga apabila diperlukan, seluruh arena dalam sekejap mata bisa digenangi air. Terusan ini merupakan ciri khusus bagi Colosseum yang tak dimiliki oleh amphitheater yang lain.
Dengan adanya terusan, maka pertunjukan di atas arena tersebut sewaktu-waktu bisa diganti dengan: samudera – yuddha, pertandingan selingan dan pergantian pertandingan di laut. Dengan demikian pertunjukan jadi tidak membosankan.
Cavea biasanya dipisahkan oleh gang-gang yang sejajar dengan tembok luar. Gang yang terdekat kepada arena disebut podium merupakan tempat kehormatan.
Di podium inilah duduk tamu-tamu terhormat, seperti kaisar, para senator, dan anggota dewan kota. Duduk di tempat ini pula para penjaga suci yang abadi, yaitu gadis-gadis Vesta (Virgo Vestalis) – sekelompok perempuan pilihan yang bertugas menjadi api suci abadi milik Dewi Vesta, dewi perapian dan keluarga dalam mitologi Romawi Kuno.
Demikianlah sekilas tentang Colosseum, saksi bisu pesta darah di arena Romawi Kuno.