Aktif Ikut Kegiatan? Ini 6 Skill yang Perlu Kamu Latih sebagai Mahasiswa
Joko Widiyarso August 14, 2026 01:00 PM

TRIBUNJOGJA.COM- Kuliah bukan cuma soal duduk di kelas, mengerjakan tugas, lalu mengejar nilai. 

Selama menjadi mahasiswa, ada banyak hal lain yang bisa menjadi tempat belajar, termasuk ketika Tribunners ikut organisasi, kepanitiaan, komunitas, volunteer, atau berbagai kegiatan kampus.

Tanpa disadari, pengalaman tersebut bisa membantu melatih kemampuan yang mungkin tidak banyak dibahas saat berada di ruang kelas. Mulai dari belajar menyampaikan pendapat sampai menghadapi masalah ketika sebuah acara tidak berjalan sesuai rencana.

Apalagi, dunia kerja juga semakin membutuhkan kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan teknis. 

World Economic Forum menempatkan kemampuan seperti berpikir analitis, beradaptasi, bekerja sama, dan leadership sebagai beberapa kemampuan yang penting untuk menghadapi perubahan dunia kerja.

Nah, daripada hanya mengumpulkan pengalaman di CV, ada baiknya Tribunners juga memperhatikan skill apa saja yang sebenarnya sedang dilatih dari kegiatan tersebut.

1. Komunikasi
Punya ide bagus tetapi bingung cara menyampaikannya? Atau masih sering merasa gugup ketika harus berbicara di depan orang lain?

Kegiatan kampus bisa menjadi tempat yang pas untuk melatih kemampuan komunikasi.

Komunikasi bukan hanya tentang berbicara di depan banyak orang. Cara menyampaikan pendapat saat rapat, berdiskusi dengan teman satu tim, memberikan informasi kepada peserta acara, sampai menyampaikan ketidaksetujuan dengan cara yang tepat juga termasuk bagian dari komunikasi.

Semakin sering berhadapan dengan orang dan situasi yang berbeda, semakin banyak kesempatan untuk belajar menyesuaikan cara berbicara.

Mulai saja dengan berani menyampaikan pendapat ketika punya sesuatu yang ingin disampaikan. Biasakan juga mendengarkan sampai orang lain selesai berbicara sebelum memberikan respons.

2. Kerja Sama
Kerja kelompok mungkin sering membuat kepala pusing. Ada anggota yang cepat merespons, ada yang baru muncul ketika deadline sudah dekat. Belum lagi kalau setiap orang punya pendapat yang berbeda.

Meski begitu, pengalaman seperti ini justru bisa menjadi latihan kerja sama.

Bekerja dalam tim berarti belajar membagi tugas, menghargai pendapat, menerima masukan, dan menyelesaikan perbedaan tanpa melupakan tujuan bersama.

Tribunners juga akan belajar bahwa tidak semua pekerjaan harus dikerjakan dengan cara yang sama. Ada kalanya harus menyesuaikan diri dengan cara kerja orang lain supaya sebuah tugas atau kegiatan bisa tetap berjalan.

Kemampuan seperti ini akan terus terpakai dalam berbagai situasi, bukan hanya ketika masih menjadi mahasiswa.

3. Leadership
Mendengar kata leadership, mungkin yang langsung terbayang adalah ketua organisasi atau ketua panitia.

Padahal, belajar memimpin tidak harus menunggu sampai mendapatkan jabatan.

Berani mengambil inisiatif, menawarkan bantuan ketika tim sedang kewalahan, bertanggung jawab terhadap tugas, atau mengambil keputusan ketika dibutuhkan juga merupakan bagian dari latihan leadership.

Misalnya, saat sebuah acara mengalami kendala dan Tribunners mencoba mencari jalan keluar tanpa menunggu orang lain bergerak lebih dulu. Dari situ ada kemampuan mengambil keputusan dan bertanggung jawab yang sedang terasah.

Leadership juga bukan tentang menjadi orang yang paling dominan. Pemimpin yang baik justru perlu tahu kapan harus mengambil keputusan dan kapan harus mendengarkan orang lain.

Kemampuan leadership dan kemampuan memengaruhi orang lain juga masih menjadi salah satu skill yang dinilai penting dalam dunia kerja saat ini.

4. Problem Solving
Namanya juga kegiatan, tidak semuanya akan berjalan sesuai rencana.

Poster belum selesai padahal acara sudah dekat. Narasumber tiba-tiba berhalangan. Anggota kelompok tidak bisa hadir saat hari pelaksanaan. Masalah seperti ini bisa muncul kapan saja.

Di sinilah kemampuan problem solving dibutuhkan.

Daripada berhenti di “waduh, gimana nih?”, Tribunners perlu belajar melihat apa masalahnya, mencari beberapa kemungkinan solusi, lalu menentukan pilihan yang paling masuk akal.

Skill ini juga tidak hanya berguna untuk kegiatan kampus. Saat mengerjakan tugas, menghadapi masalah pertemanan, mengatur keuangan, atau mengambil keputusan sehari-hari, kemampuan mencari jalan keluar tetap dibutuhkan.

Salah satu alasan kemampuan ini penting adalah karena masalah yang dihadapi setelah lulus belum tentu punya jawaban yang tersedia di buku. Tribunners perlu terbiasa berpikir dan menentukan langkah sendiri.

5. Manajemen Waktu
Kuliah saja sudah punya banyak tugas. Kalau ditambah organisasi, kepanitiaan, atau kegiatan lain, jadwal bisa semakin padat.

Kalau tidak diatur, tugas kuliah bisa tertunda karena rapat. Sebaliknya, kegiatan juga bisa terbengkalai karena terlalu fokus pada tugas.

Karena itu, manajemen waktu menjadi skill yang sebaiknya mulai dilatih sejak kuliah.

Caranya tidak harus rumit. Tribunners bisa mulai dengan mencatat deadline, menentukan tugas yang paling mendesak, lalu membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil.

Yang tidak kalah penting, jangan menganggap semua waktu harus diisi dengan kegiatan. Waktu untuk istirahat juga perlu masuk dalam jadwal.

Manajemen waktu bukan tentang membuat diri terus sibuk. Justru, kemampuan ini membantu Tribunners mengetahui kapan harus bekerja, kapan menyelesaikan sesuatu, dan kapan waktunya berhenti.

6. Adaptasi
Punya rencana yang sudah dibuat jauh-jauh hari, tetapi tiba-tiba semuanya berubah? Rasanya pasti menyebalkan.

Namun, situasi seperti ini cukup sering terjadi dalam kehidupan mahasiswa. Jadwal bisa berganti, anggota kelompok bisa berubah, tugas bisa lebih sulit dari perkiraan, atau sebuah kegiatan ternyata tidak berjalan seperti yang dibayangkan.

Kemampuan adaptasi membantu Tribunners menghadapi perubahan tanpa terlalu lama terpaku pada rencana awal.

Beradaptasi bukan berarti harus selalu menerima keadaan. Justru, Tribunners perlu melihat situasi baru, memahami apa yang berubah, lalu mencari cara agar tetap bisa melanjutkan tujuan.

Kemampuan untuk tetap fleksibel dan menghadapi perubahan juga semakin dibutuhkan. World Economic Forum memasukkan resilience, flexibility and agility sebagai salah satu kelompok skill penting, bersama kemampuan leadership dan berpikir analitis.

Ikut kegiatan selama kuliah memang bisa menambah pengalaman. Namun, manfaatnya tidak berhenti pada sertifikat atau satu baris tambahan di CV.

Ada banyak hal yang sebenarnya sedang dipelajari ketika Tribunners harus bekerja dengan orang lain, menyelesaikan masalah, membagi waktu, atau menghadapi situasi yang tidak sesuai rencana.

Masa kuliah bisa menjadi waktu yang tepat untuk mencoba berbagai pengalaman dan menemukan kemampuan apa yang masih perlu dikembangkan.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.