TRIBUNJOGJA.COM - Kota Yogyakarta didapuk menjadi pilot projet program penataan kabel fiber optik yang digulirkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI.
Langkah tersebut diambil guna mengurai kesemrawutan kabel udara yang selama ini mengganggu estetika, serta mengancam status kawasan warisan budaya.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi RI, Wayan Toni Supriyanto, menandaskan, Kota Yogyakarta dipilih jadi lokasi proyek percontohan penataan infrastruktur pasif telekomunikasi karena memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Penataan ini diakuinya punya peran sangat krusial, terutama untuk menjaga kelestarian kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang kini telah diakui dunia.
"Kesemrawutan kabel udara telah menurunkan kualitas ruang publik, meningkatkan risiko keselamatan, dan berpotensi mengganggu status warisan budaya yang kita jaga bersama," ujarnya, dalam rapat konsolidasi di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (13/8/26).
Melalui pilot project yang ditargetkan mulai bergulir bulan ini, skema penataan di Kota Yogyakarta harapannya bisa menjadi benchmark bagi kawasan cagar budaya lain di Indonesia.
Guna mengejar target tersebut, pemerintah pusat, daerah, serta para operator telekomunikasi tengah memfinalisasi data teknis, desain jaringan, hingga skema pembiayaan.
"Skema kerja sama dan pembiayaan perlu disusun secara adil, proporsional, dan berkelanjutan. Sehingga, tetap mendukung keberlangsungan investasi industri telekomunikasi," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyambut baik penunjukan Kota Yogyakarta sebagai proyek percontohan nasional.
Menurutnya, upaya penataan kabel fiber optik tersebut, selaras dengan percepatan transformasi digital sekaligus mempercatik wajah Kota Pelajar.
Kendati demikian, ia mengingatkan, target pengerjaan yang relatif singkat, yakni sekitar dua setengah bulan, butuh kesiapan teknis yang sangat matang dan koordinasi intensif antarpihak.
"Jangan sampai percepatan ini justru menimbulkan persoalan baru. Karena itu, aspek teknis dan skema kerja sama harus dibahas secara matang sejak awal," tegasnya.
Ia menggarisbawahi, kawasan Sumbu Filosofi membutuhkan pendekatan khusus, sehingga tidak bisa disamaratakan dengan penanganan di titik-titik lainnya.
Langkah penataan nantinya bakal mencakup pengalihan rute jaringan, pembersihan kabel udara yang tumpang tindih, hingga pencabutan kabel liar yang sudah tidak aktif.
"Kami berharap seluruh pihak menjalankan komitmen dengan sungguh-sungguh. Penataan harus memiliki rute kerja yang jelas dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat," cetusnya.
Sementara, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Yogyakarta, Ignatius Trihastono, menyebut, arah penataan ini juga mencakup pemindahan jalur kabel ke jaringan bawah tanah atau ducting.
Menurutnya, penataan infrastruktur telekomunikasi tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan pendapatan daerah, melainkan demi kepentingan publik yang lebih luas.
"Semangat kebersamaan ini harus benar-benar terbentuk agar proses penataan dapat berjalan baik, khususnya untuk Kawasan Sumbu Filosofi," jelasnya.
"Harapannya, ketersediaan infrastruktur dan jaringan yang kuat dapat menjadi pengungkit bagi tumbuhnya ekonomi kreatif dan ekonomi digital di Kota Yogyakarta,” pungkas Trihastono. (aka)