TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Memasuki masa purnabakti memerlukan perencanaan matang yang dirancang jauh sebelum seorang pegawai menyentuh usia pensiun.
Berlandaskan serangkaian studi ilmiah, proses pembekalan tersebut idealnya diinisiasi minimal sepuluh tahun lebih awal demi membangun ketahanan mental, adaptasi sosial, serta kepastian agenda kegiatan pasca-purnatugas.
Hal inilah yang menjadi pokok pembicaraan dalam Bincang-Bincang Nasional bertajuk “Merancang Masa Pensiun yang Sehat, Produktif, dan Bermakna (Tetap berkarya, Berbagi, dan Menginspirasi)”.
Agenda yang digagas oleh Ikatan Pensiunan (Ikapen) Unpad tersebut digelar secara hybrid berpusat di Bale Rumawat, Unpad Kampus Dipati Ukur, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (13/8/2026).
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Prof. Yuke Siregar, mengatakan purnabakti adalah hal yang harus dipersiapkan.
“Purnabakti itu suatu proses, bukan terjadi dengan tiba-tiba. Karena proses, maka itu banyak peristiwa-peristiwa yang harus dijalani oleh kita sebagai suatu persiapan,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Dalam paparannya, Prof. Yuke merinci fase purnabakti yang meliputi tahapan prapersiapan, persiapan, transisi, hingga memasuki masa purnabakti sepenuhnya.
Pada periode transisi, seseorang akan melewati pergeseran ritme hidup, mulai dari penurunan intensitas pekerjaan hingga perubahan peran sosial yang semula melekat. Oleh sebab itu, kesiapan psikologis serta keluwesan beradaptasi menjadi pilar penentu.
Pandangan senada disampaikan Rektor ke-10 Unpad, Prof. Ganjar Kurnia. Ia menilai purnabakti bukanlah titik akhir dari siklus produktivitas, melainkan ajang refleksi diri untuk meretas jalan pengabdian baru yang tetap memberi dampak bagi publik.
“Pertanyaan kuncinya, pengabdian saya berpindah ke ladang mana? Jadi kalau dulu kita mengabdi, sekarang sesudah pensiun itu mau pindah ke ladang mana lagi yang harus kita lakukan. Pensiun bukan terhenti, dia hanya pindah ke ladang saja,” ungkap Prof. Ganjar.
Hingga saat ini, Prof. Ganjar membuktikan komitmennya dengan tetap aktif mengakhiri rutinitas purnatugas melalui pengelolaan Lopian (Pusat Budaya Sunda Unpad) serta Majalah Manglé.
Kepada jajaran civitas academica Unpad yang bersiap mengakhiri masa tugas, Prof. Ganjar menekankan pentingnya introspeksi diri dalam menetapkan arah pengabdian berikutnya.
“Yang penting, itu (purnabakti) undangan untuk muhasabah dan menata arah. Apa yang sudah kita lakukan? Jadi, proses pensiun ini adalah proses untuk lebih banyak menghisab (perhitungan amal) diri juga,” kata Prof. Ganjar.
Jalannya diskusi yang dipandu oleh Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Dr. Hadi Suprapto Arifin, tersebut diikuti sebanyak 164 peserta luring maupun daring.
Peserta terdiri atas jajaran dosen serta tenaga kependidikan Unpad yang dijadwalkan memasuki masa purnabakti pada tahun ini dan tahun depan.