TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Pulau Pasaran yang terletak di Provinsi Lampung dikenal sebagai sentra industri pengolahan ikan teri dan ikan asin terbesar di Lampung.
Pulau dengan luas sekitar 12,5–13 Ha ini dihuni ribuan penduduk yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, serta didukung berbagai Kelompok Usaha Bersama (KUB) salah satunya adalah KUB Usaha Bahari.
Pengolahan ikan asin merupakan salah satu aktivitas ekonomi penting bagi masyarakat pesisir di Indonesia. Namun, proses pengeringan yang masih bergantung pada sinar matahari sering menimbulkan kendala, terutama saat cuaca tidak menentu.
Kondisi ini berdampak pada ketidakstabilan kualitas produk, waktu produksi yang tidak efisien, serta potensi kerugian bagi pelaku usaha.
Sebagai respon terhadap permasalahan tersebut, tim dosen dan mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Teknokrat Indonesia bersama mitra akademisi dari Politeknik Negeri Lampung mengembangkan inovasi teknologi tepat guna berupa Smart Solar Fish Dryer yang diterapkan pada Kelompok Usaha Bahari di Pulau Pasaran, Bandar Lampung.
Integrasi Energi Terbarukan dan Teknologi Digital
Smart Solar Fish Dryer dirancang sebagai sistem pengering ikan modern berbasis integrasi energi terbarukan dan teknologi digital. Energi Terbarukan merupakan teknologi yang dikembangkan untuk mengonversi energi radiasi matahari menjadi energi listrik.
Pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi utama, sehingga mampu mengurangi ketergantungan pada penggunaan listrik konvensional sekaligus mendukung konsep energi ramah lingkungan.
umber panas matahari yang dihasilkan melalui panel surya (solar dryer) dapat diterapkan untuk mengeringkan ikan.
Pada Smart Solar Fish Dryer, konsep IoT diterapkan melalui penggunaan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor load cell, modul HX711, LCD, dan buzzer dalam satu sistem pengendalian otomatis.
Sensor load cell digunakan untuk membaca perubahan berat ikan selama proses pengeringan berlangsung, kemudian data tersebut diproses oleh ESP32 untuk menentukan kondisi pengeringan ikan.
Hasil pembacaan berat ditampilkan secara langsung pada layar LCD sebagai media monitoring pengguna. Selain itu, sistem juga mampu memberikan notifikasi otomatis melalui buzzer ketika persentase penyusutan berat ikan telah mencapai batas yang ditentukan.
Implementasi IoT pada sistem ini membantu proses pengeringan ikan menjadi lebih otomatis, terukur, dan mudah dipantau selama proses pengeringan berlangsung.
Internet of Things (IoT) merupakan konsep teknologi yang memungkinkan perangkat elektronik saling terhubung melalui jaringan internet untuk melakukan pertukaran data secara otomatis tanpa memerlukan interaksi manusia secara langsung.
Teknologi IoT umumnya terdiri dari beberapa komponen utama, seperti sensor sebagai pengambil data, mikrokontroler sebagai pusat pengolah data, serta jaringan komunikasi yang berfungsi untuk menghubungkan antar perangkat dalam satu sistem).
Penerapan teknologi IoT banyak digunakan untuk membantu proses monitoring dan pengendalian otomatis karena mampu meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kemudahan dalam pengoperasian suatu sistem.
Transformasi Digital dalam Pengelolaan Usaha
Selain inovasi pada aspek produksi, tim pengabdian juga memperkenalkan sistem transformasi digital berupa aplikasi manajemen usaha.
Aplikasi ini dirancang untuk membantu pelaku usaha dalam mengelola penjualan, mencatat data pelanggan, serta menyusun laporan transaksi secara otomatis. Digitalisasi ini dapat meningkatkan efisiensi administrasi serta memperkuat tata kelola usaha, sehingga pelaku usaha dapat lebih fokus pada peningkatan produksi dan kualitas produk.
Program pengembangan dan implementasi alat ini dilaksanakan pada 3 sampai 20 Juni 2026 sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. T
im pelaksana terdiri dari dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Teknokrat Indonesia yang dipimpin oleh Fenty Ariany, dengan anggota Suaidah, serta Aprilia Syah Putri.
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bidang pengabdian masyarakat. Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman langsung dalam penerapan teknologi berbasis IoT dan energi terbarukan di lapangan.
Ketua Kelompok Usaha Bahari Toto Heriyanto menyampaikan apresiasi atas inovasi yang diberikan. Menurutnya, Smart Solar Fish Dryer dan sistem digitalisasi memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kualitas produksi serta efisiensi pengelolaan usaha.
Program ini merupakan bagian dari hibah pengabdian kepada masyarakat yang didanai DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026.
Kehadiran inovasi ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan teknologi tepat guna di sektor perikanan, khususnya bagi masyarakat pulau pasaran lampung.
Dengan pendekatan berbasis energi terbarukan dan digitalisasi, Smart Solar Fish Dryer tidak hanya menjawab permasalahan produksi, tetapi juga membuka jalan menuju transformasi industri pengolahan ikan asin yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)