Jakarta (ANTARA) - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menilai Buku Takhta, Darma, dan Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX mampu menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan bagi Bangsa Indonesia.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menyampaikan peluncuran buku tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat, khususnya generasi muda, berhadapan dengan beragam figur dan informasi melalui media digital.

"Ketika buku ini berbicara tentang keteladanan, maka sesungguhnya kita saat ini sedang merindukan keteladanan-keteladanan yang ada di lingkungan kita. Ketika keteladanan itu hampir atau nyaris hilang, maka sesungguhnya keteladanan yang hakiki yang sedang kita cari," ujar Aminudin dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Buku tersebut diluncurkan di Perpusnas, Jakarta, pada Kamis (13/8) untuk menghadirkan kembali pemikiran, karya, dan keteladanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, khususnya nilai kepemimpinan, pengabdian, dan pendidikan karakter bagi generasi bangsa.

Sementara itu Sri Sultan Hamengkubuwono X mengungkapkan keteladanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak berhenti pada kedudukan dan jabatan, tetapi tercermin dalam cara menjalankan tanggung jawab dan pengabdian.

"Dari beliau-lah saya memahami bahwa tahta sejatinya bukan privilege (kemewahan), melainkan tanggung jawab, bahwa dharma bukan slogan, melainkan laku harian, dan karsa bukan ambisi pribadi, melainkan kehendak untuk mengabdi dengan tulus," ujar Sri Sultan HB X.

Sri Sultan HB X juga berharap buku tersebut bisa menjadi sarana bagi generasi yang tidak pernah bertemu langsung dengan Sri Sultan HB IX untuk tetap memahami cara berpikir dan laku hidupnya.

“Sebab keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan, sedangkan keteladanan yang dihayati akan menjadi peradaban,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti yang menilai buku itu sangat penting di tengah tantangan semakin renggangnya keterhubungan generasi muda dengan sejarah dan tokoh bangsa.

Ia menyebut adanya kecenderungan generasi muda lebih mengenal tokoh dari negara lain dibandingkan tokoh bangsanya sendiri.

Menurutnya, buku mengenai Sri Sultan Hamengkubuwono IX dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta Tanah Air, dan nilai-nilai kepramukaan.

"Kehadiran buku seperti ini menjadi sangat penting untuk menghidupkan kembali semangat kita di dalam membangun generasi bangsa yang cinta Tanah Air, yang tertanam dalam dirinya Dasa Dharma Pramuka, dan tertanam dalam dirinya semangat untuk bangga sebagai bangsa dan generasi Indonesia," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti.