Pustakawan masa depan bukan penjaga rak buku. Ia adalah penjaga memori, penghubung pengetahuan, pendidik literasi, pemberi konteks dan makna, dan mitra masyarakat dalam memahami dunia

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) menilai peran pustakawan semakin penting dalam menjaga memori kolektif, warisan dokumenter, dan pengetahuan bangsa di tengah perkembangan teknologi digital serta derasnya arus informasi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum IPI Joko Santoso dalam seminar "Guardians of Memory: Libraries, Democratic Literacy, and Digital Preservation in the Trans-Pacific Narrative" yang diselenggarakan bersama Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) dan Fulbright Indonesia.

Dalam keterangan resminya di Jakarta pada Jumat, Joko mengatakan pustakawan tidak lagi sekadar bertugas menjaga koleksi, tetapi juga menjadi penghubung masyarakat dengan sumber informasi terpercaya, pendidik literasi, serta pemberi konteks terhadap pengetahuan.

"Pustakawan masa depan bukan penjaga rak buku. Ia adalah penjaga memori, penghubung pengetahuan, pendidik literasi, pemberi konteks dan makna, dan mitra masyarakat dalam memahami dunia," ujarnya.

Menurut Joko, warisan dokumenter yang penting itu mencakup manuskrip, buku, surat kabar, foto, peta, rekaman suara, film, arsip, hingga dokumen digital yang merekam perjalanan suatu bangsa.

Sementara itu Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto mengatakan pengelolaan pengetahuan menghadapi tantangan berupa kerusakan dan keusangan dokumen, serangan siber, disinformasi, serta perubahan pola konsumsi informasi ke konten pendek di media sosial.

Oleh karena itu perpustakaan perlu dipandang sebagai infrastruktur ingatan, pengetahuan, dan kepercayaan publik. Perpusnas saat ini memiliki lebih dari 3,6 juta judul dengan sekitar 9,9 juta eksemplar koleksi.

Dalam pelestarian warisan dokumenter, Perpusnas pada 2025 mencatat pengakuan UNESCO Memory of the World terhadap Syair Hamzah Fansuri dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian, repatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Selandia Baru, serta penetapan enam naskah baru sebagai Ingatan Kolektif Nasional.

"Perpusnas terus mendorong pengembangan digitalisasi dengan memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial. Kerja sama preservasi lintas negara mencakup interoperabilitas metadata dan objek digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ketahanan terhadap bencana," ucap Suharyanto.

Sedangkan Direktur Eksekutif Fulbright Indonesia Sandra Hamid menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga pengetahuan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya, terutama di tengah maraknya fakta, miskonsepsi, misinformasi, dan disinformasi.

Pustakawan Perpusnas Aris Riyadi menambahkan pelestarian warisan dokumenter perlu dilakukan melalui konservasi, digitalisasi, preservasi digital, dan riset kolaboratif agar koleksi tetap dapat diakses masyarakat.