Jangan Buru-Buru Usir Rasa Bosan, Ternyata Ada Manfaatnya
Joko Widiyarso August 14, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM- Pernah merasa bosan saat sedang tidak melakukan apa-apa? 

Baru beberapa menit menunggu, tangan sudah ingin mengambil HP. Tidak ada kegiatan menarik, akhirnya membuka media sosial, mencari tontonan, atau sekadar berpindah-pindah aplikasi.

Bosan memang sering dianggap sebagai perasaan yang harus segera dihilangkan. 

Padahal, dalam psikologi, kebosanan bukan sekadar kondisi ketika seseorang tidak punya kegiatan. Boredom atau kebosanan muncul ketika seseorang ingin terlibat dalam aktivitas yang terasa memuaskan, tetapi sulit menemukan atau mempertahankan perhatian pada sesuatu. 

Karena itu, seseorang juga bisa merasa bosan meski sebenarnya sedang sibuk.

Menariknya, rasa bosan ternyata punya fungsi. Perasaan ini dapat menjadi sinyal bahwa aktivitas yang sedang dilakukan kurang menarik, terlalu monoton, atau tidak lagi memberikan keterlibatan yang dibutuhkan.

Lantas, apa yang sebenarnya bisa didapat dari rasa bosan?

Membantu Menyadari Saat Sesuatu Sudah Tidak Lagi Menarik

Bosan tidak selalu berarti seseorang sedang malas. Kadang, rasa tersebut muncul karena aktivitas yang dijalani memang tidak lagi memberikan tantangan atau keterlibatan yang cukup.

Bosan dapat menjadi semacam sinyal untuk mengevaluasi aktivitas yang sedang dijalani. 

Apakah memang perlu diteruskan? Apakah ada cara lain agar kegiatan tersebut terasa lebih menarik? Atau justru sudah waktunya mencoba sesuatu yang berbeda?

Artinya, rasa bosan bisa membantu Tribunners mengenali apa yang membuat sebuah aktivitas terasa monoton.

Mendorong Keinginan untuk Mencari Hal Baru

Ketika seseorang bosan, ada dorongan untuk keluar dari situasi yang terasa datar. Dorongan tersebut dapat membuat seseorang mulai mencari informasi, kegiatan, atau pengalaman lain.

Penelitian menunjukkan bahwa keduanya sama-sama berkaitan dengan perilaku mencari informasi. 

Bedanya, rasa ingin tahu biasanya mengarahkan seseorang pada hal tertentu yang memang ingin diketahui, sementara kebosanan lebih seperti dorongan untuk meninggalkan situasi yang terasa kurang menarik dan mencari sesuatu yang baru.

Contohnya sederhana. Awalnya Tribunners hanya merasa bosan di rumah. Setelah itu, muncul keinginan mencoba resep baru, membaca topik yang belum pernah dibahas, mencari tempat baru untuk dikunjungi, atau belajar keterampilan yang selama ini hanya ada di daftar keinginan.

Jadi, rasa bosan tidak selalu berakhir dengan kegiatan yang sia-sia. Kalau diarahkan dengan baik, perasaan tersebut bisa menjadi awal dari eksplorasi.

Memberi Jeda dari Stimulasi yang Terus-Menerus

Ada alasan lain mengapa rasa bosan semakin sulit dirasakan sekarang. Hampir setiap jeda bisa langsung diisi dengan sesuatu.

Menunggu teman? Buka HP. Tidak tahu mau melakukan apa? Cari konten. Tidak tertarik dengan satu video? Tinggal geser.

Masalahnya bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan perangkat digital. 

Penelitian tentang kebosanan di era digital menunjukkan bahwa kebiasaan berpindah-pindah konten dengan cepat justru dapat membuat seseorang semakin sulit merasa terlibat dengan sesuatu. 

Media digital juga dapat membagi perhatian dan membuat tingkat stimulasi yang diharapkan seseorang semakin tinggi.

Karena itu, membiarkan diri merasa bosan sesekali bisa memberi kesempatan untuk mengalami jeda tanpa harus langsung mencari rangsangan baru.

Bukan berarti HP harus dijauhi setiap kali merasa bosan. Hanya saja, Tribunners tidak harus selalu menganggap beberapa menit tanpa hiburan sebagai sesuatu yang perlu segera diisi.

Bisa Membuka Ruang untuk Memikirkan Hal yang Selama Ini Terlewat

Saat tidak sedang sibuk menerima informasi dari luar, pikiran tetap bisa bekerja. Seseorang dapat memikirkan rencana, mengingat pengalaman sebelumnya, memikirkan masalah yang belum selesai, atau sekadar membiarkan pikirannya berjalan tanpa tujuan tertentu.

Penelitian membahas bahwa informasi tidak selalu datang dari lingkungan luar. Proses internal seperti mind-wandering atau pikiran yang mengembara juga dapat memberikan stimulasi ketika seseorang sedang tidak terlalu terlibat dengan aktivitas tertentu.

Namun, bukan berarti semakin bosan, seseorang pasti semakin kreatif. 

Beberapa penelitian menemukan hasil yang berbeda, sehingga belum bisa disimpulkan bahwa sengaja merasa bosan akan otomatis membuat seseorang lebih kreatif.

Yang jelas, jeda dari berbagai stimulasi bisa memberi pikiran ruang untuk beristirahat dan berjalan lebih bebas. 

Setelah itu, setiap orang bisa saja memanfaatkannya dengan cara yang berbeda, mulai dari memikirkan sesuatu hingga menemukan kegiatan yang ingin dilakukan.

Membantu Menentukan Apa yang Sebenarnya Dicari

Pernah merasa bosan, lalu mencoba berbagai hal tetapi tetap tidak puas?

Hal tersebut bisa terjadi karena yang dicari bukan sekadar kegiatan baru. Seseorang mungkin sebenarnya membutuhkan sesuatu yang lebih menantang, lebih bermakna, lebih sosial, atau justru lebih menenangkan.

Karena itu, rasa bosan bisa menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya aku sedang butuh apa?”

Dengan begitu, bosan tidak hanya menjadi perasaan yang ingin dihilangkan, tetapi juga informasi tentang kebutuhan diri.

Tidak Harus Langsung Dicari Pelariannya

Bosan memang tidak nyaman. Namun, Tribunners juga tidak harus langsung mencari cara untuk menghilangkannya setiap kali perasaan itu muncul.

Sesekali, tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit bukan masalah. Tidak perlu langsung membuka media sosial atau mencari hiburan baru. Biarkan saja rasa bosan itu muncul, lalu lihat apa yang terjadi setelahnya.

Mungkin muncul keinginan membaca buku yang sudah lama tidak disentuh. Bisa juga tiba-tiba ingin berjalan keluar, membereskan sesuatu, menghubungi teman, atau mencoba kegiatan baru.

Dengan memberi sedikit ruang tanpa langsung mencari distraksi dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap apa yang sebenarnya ingin dilakukan.

Jadi, lain kali Tribunners sedang bosan, coba biarkan sebentar. Bisa jadi, dari rasa tidak nyaman itu justru muncul keinginan untuk mencari sesuatu yang lebih menarik, lebih sesuai, atau lebih berarti.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.