Cara Cek Menu dan Gizi MBG Lewat Radar BGN, Portal Resmi Baru untuk Cegah Keracunan
Sarah Elnyora Rumaropen August 14, 2026 05:35 PM

Badan Gizi Nasional (BGN) resmi meluncurkan portal pemantauan publik bernama Radar MBG guna meningkatkan transparansi sekaligus mengikis rasa cemas orang tua terkait kualitas makanan anak di sekolah.

Melalui platform digital ini, masyarakat dapat menilik langsung sajian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari komposisi menu harian, rincian kandungan gizi, hingga profil dapur penyedianya.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya BGN memperketat pengawasan, termasuk memberlakukan aturan batas waktu konsumsi empat jam untuk mencegah risiko keracunan.

Portal Radar BGN

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan, dalam portal Radar MBG ini orang tua penerima manfaat bisa mengetahui menu yang diberikan kepada siswa termasuk kandungan gizinya.

“Dengan Radar MBG, bapak, ibu, orang tua yang memiliki anak bersekolah dan mendapatkan menu MBG bisa mengecek menu MBG apa yang disajikan serta kandungan gizi dari menu tersebut,” ujar Sudaryono dalam pernyataannya, Jumat (14/8/2026).

Masyarakat dapat memantau keterbukaan informasi ini secara mandiri melalui situs resmi BGN dengan alur yang sangat praktis:

1. Buka link portal Radar MBG atau klik link >>> https://www.bgn.go.id/radar-mbg/

2. Pilih Wilayah: Filter lokasi secara bertahap mulai dari tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, hingga Desa.

2. Tentukan Sekolah: Cari nama satuan pendidikan (TK, SD, SMP, dll.) yang ingin ditinjau.

3. Pantau Sajian: Lihat sajian menu harian yang berlaku, rincian nutrisinya, serta dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyedia yang bertanggung jawab.

Kendati sistem ini dirancang sedemikian rupa, Sudaryono tidak menampik implementasi di lapangan masih menemui beberapa kendala teknis.

Jika masyarakat mendapati menu atau foto sajian belum muncul di portal, hal tersebut umumnya disebabkan oleh masih adanya pengelola dapur yang belum disiplin menjalankan standar operasional prosedur (SOP) pelaporan harian.

Oleh karena itu, BGN mengajak masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen pasif, melainkan turut mengambil peran aktif sebagai pengawas independen.

Jika menemukan data yang belum diperbarui, warga diimbau untuk langsung menghubungi atau mendatangi SPPG setempat demi mendorong pelayanan yang semakin responsif dan tepat sasaran.

Penerapan 'The 4-Hour Rule'

Mulai pekan ini, BGN juga menerapkan prinsip 'The 4‑hour rule'.

Sudaryono menjelaskan, aturan tersebut diberlakukan guna mencegah kejadian keracunan MBG. 

Prinsip tersebut merupakan aturan bahwa makanan yang matang harus dikonsumsi dalam batas waktu empat jam setelah selesai dimasak.

Sudaryono pun meminta pihak sekolah, terutama guru, ikut mengawasi agar makanan tidak dikonsumsi apabila sudah melewati batas waktu yang tercantum.

“Manakala lebih dari jam yang ditentukan, kami mohon dengan sangat hormat untuk tidak dikonsumsi. Saya ulangi, untuk tidak dikonsumsi manakala melewati jam batas yang ditentukan,” tegasnya di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Pria yang akrab disapa Mas Dar ini juga menegaskan, peserta didik dilarang membawa pulang makanan MBG ke rumah.

Menurutnya, makanan yang dibawa pulang berpotensi mengalami perubahan kualitas karena sudah berada di luar pengawasan.

“Kami mengimbau kepada para siswa, termasuk bapak ibu guru untuk tidak membawa pulang menu makanan MBG ke rumah,” katanya.

BGN menyatakan, dalam beberapa kasus keracunan yang ditemukan, dampak gangguan kesehatan tidak hanya dialami siswa, melainkan juga orang tua yang ikut mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang ke rumah.

"MBG harus aman dan bergizi. Insyaallah kami meningkatkan pelayanan, pengawasan, monitoring, dan kolaborasi dari semua pihak agar program ini berjalan dengan baik,” tutur dia.

Usut Dugaan Kasus Keracunan di Bogor

Di sisi lain, BGN tengah menyelidiki temuan kasus baru dugaan keracunan MBG yang terjadi di wilayah Bogor pada Jumat (7/8/2026).

Insiden terbaru ini tidak hanya dialami oleh para siswa, melainkan juga merambat hingga ke guru dan orang tua murid.

Sudaryono mengungkapkan, insiden tersebut baru saja terjadi dan saat ini pihaknya masih mengumpulkan keterangan pasti untuk mengetahui sumber utama penyebab keracunan.

"Ada sebagian juga yang misalnya ini kan yang paling baru kemarin atau tadi malam itu di Bogor. Itu kita lagi cek apakah keracunan karena MBG atau tidaknya belum ada belum ada keterangan ya. Tapi yang jelas ada orang tua yang juga ikut keracunan," ungkap Sudaryono di Kantor BGN, Jakarta Pusat, pada Jumat (7/8/2026).

Lebih lanjut, Sudaryono menyoroti meluasnya dampak gejala gangguan pencernaan dalam insiden di Bogor tersebut.

Berdasarkan laporan awal yang diterimanya, efek dugaan keracunan turut memengaruhi tenaga pengajar.

"Khusus misalnya yang di Bogor ini, yang keracunan gurunya juga ada yang mulas, termasuk orang tua siswa. Makanya ini kita lagi cek semuanya," tegasnya.

Saat ini, pihak BGN sedang melakukan analisis menyeluruh terkait temuan tersebut untuk memastikan apakah gejala diare tersebut murni bersumber dari kelalaian dapur MBG atau terdapat faktor eksternal lainnya.

Fenomena orang tua yang ikut mengalami keracunan menjadi salah satu fokus evaluasi BGN.

Berdasarkan penelusuran BGN, termasuk saat sidak ke Bogor sebelumnya, ditemukan tren di mana banyak anak yang sengaja tidak menghabiskan bekal lauk MBG karena merasa iba dan ingin membawanya pulang untuk diberikan kepada keluarga di rumah.

Makanan yang dibawa pulang tersebut kerap kali baru dikonsumsi berjam-jam kemudian, hingga melewati batas aman rekomendasi empat jam setelah matang.

Kondisi makanan yang sudah rusak dan basi inilah yang memicu keluhan sakit perut di rumah, yang kemudian sering disalahartikan sebagai insiden keracunan massal langsung dari dapur MBG sekolah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.