Liputan6.com, Jakarta - Sistem perekrutan berbasis kecerdasan buatan (AI) milik Google, tengah menjadi sorotan setelah sebuah dokumen internal mengungkap adanya kemungkinan CV pelamar kerja tersaring dengan tidak benar dan bisa langsung terbuang.
Bahkan, tim Google DeepMind disebut harus menyiapkan formulir khusus, agar lamaran kandidat bisa dilihat langsung oleh perekrut manusia.
Dokumen itu merupakan memo dari tim AGI Safety and Alignment Google DeepMind, yang diungkap Bloomberg, sebagaimana disitat dari Futurism, Jumat (14/8/2026).
Memo tersebut mendorong para pencari kerja untuk mengisi formulir tambahan di luar proses lamaran standar. Tujuannya, agar aplikasi itu dapat diketahui oleh perekrut manusia.
Dalam memo, Google DeepMind secara terbuka memperingatkan adanya risiko di sistem aplikasi yang digunakan untuk menyeleksi kandidat.
"Kami memiliki sistem lamaran dengan kemungkinan yang cukup besar, bahwa CV Anda akan tersaring secara keliru atau membutuhkan waktu terlalu lama untuk sampai kepada kami,” demikian bunyi memo tersebut.
Memo itu kemudian menjelaskan alasan formulir tambahan tersebut dibuat. "Mengisi formulir ini memastikan bahwa seseorang dari tim kami akan melihat lamaran Anda secara langsung," tulisnya lagi.
Dengan mekanisme ini, kandidat memiliki peluang lebih besar agar CV-nya sampai langsung ke dalam tim, sebelum berhenti dan dibuang di proses penyaringan otomatis.
Menariknya, dokumen juga memuat peringatan yang berbunyi "TOLONG JANGAN SEBARKAN DOKUMEN INI SECARA LUAS". Meskipun begitu, seorang juru bicara Google DeepMind mengatakan kepada Bloomberg, bahwa perangkat lunak AI yang digunakan dalam proses perekrutan perusahaan tetap berjalan seperti biasanya.
"Tim ini membuat formulir khusus untuk melewati peninjauan perekrut dan mengirim CV mereka secara langsung kepada orang-orang di dalam tim,” kata juru bicara DeepMind.
Sang juru bicara juga menegaskan, tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa formulir khusus bukan jalur pintas untuk memperoleh pekerjaan, melainkan cara agar CV kandidat dapat langsung diterima oleh tim terkait.
Terungkapnya dokumen internal ini menjadi ironi tersendiri bagi Google DeepMind, yang dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan AI terkemuka.
Di satu sisi, AI semakin banyak digunakan untuk membantu proses perekrutan, tetapi di sisi lain, sistem itu justru berpotensi membuat kandidat yang memenuhi syarat tidak sampai ke tangan perekrut.