TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK – Anak yang sebelumnya menjalani perawatan di RSUD dr Soedomo Trenggalek setelah mengalami diare dan muntah usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini telah diperbolehkan pulang.
Direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni, mengatakan pasien telah menjalani rawat inap selama tiga hari, mulai 12 hingga 14 Agustus 2026. Setelah kondisi kesehatannya membaik, pasien dinyatakan boleh kembali ke rumah.
"Hari ini sudah KRS, artinya sudah pulang. Sudah dirawat selama tiga hari, mulai tanggal 12 sampai dengan hari ini. Kondisinya sudah baik," terang dr. Saeroni, Jumat (14/8/2026).
Meski telah diperbolehkan pulang, pasien tetap diminta menjalani pemeriksaan lanjutan pada 18 Agustus 2026 untuk memastikan kondisinya benar-benar pulih.
Menurut dr. Saeroni, hasil pemeriksaan saat kontrol nantinya akan menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan apakah pasien masih memerlukan pemantauan atau perawatan lebih lanjut.
Baca juga: PNBP PPN Prigi Trenggalek Capai 65,93 Persen, Banyuwangi Jadi Penyumbang Terbesar
"Nanti dianjurkan untuk kontrol lagi di tanggal 18. Tergantung nanti setelah kontrol dilihat kondisinya. Apabila kondisinya sudah stabil, sudah baik, mungkin sudah tidak perlu kontrol lagi," paparnya.
Pihak rumah sakit menegaskan bahwa pelayanan terhadap pasien dilakukan secara maksimal agar kondisi kesehatannya segera pulih.
Dr. Saeroni menyebut RSUD dr Soedomo berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien, termasuk anak yang sebelumnya dirawat akibat keluhan gangguan pencernaan tersebut.
"Ini tentunya supaya kita memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya supaya nantinya tidak terjadi hal-hal yang tentunya tidak kita inginkan," bebernya.
Menurutnya, pasien masuk rumah sakit dengan keluhan utama diare. Namun, diare sendiri dapat disebabkan oleh berbagai faktor sehingga memerlukan penanganan medis sesuai kondisi pasien.
"Kalau dari kasus, dia kan masuk dengan diare. Kemudian kalau diare itu penyebabnya bisa juga karena radang, karena infeksi, atau karena hal yang lainnya," ungkapnya.
Setelah mendapatkan pengobatan selama tiga hari, kondisi diare yang dialami pasien berangsur membaik sehingga dokter memperbolehkannya menjalani pemulihan di rumah.
Meski demikian, pihak rumah sakit menegaskan belum dapat memastikan apakah kondisi tersebut disebabkan oleh keracunan makanan.
Menurut dr. Saeroni, dugaan keracunan memerlukan pemeriksaan lanjutan dan pembuktian medis untuk mengetahui ada atau tidaknya toksin maupun zat tertentu yang menjadi penyebab.
"Yang kita rawat ini adalah diare. Diare itu penyebabnya macam-macam. Jadi, diarenya itu sudah kita atasi," akuinya.
Ia menambahkan bahwa penentuan penyebab pasti, termasuk dugaan keracunan, membutuhkan investigasi dan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
"Masalah keracunan dan lain sebagainya ada pemeriksaan lebih lanjut. Itu dilakukan apakah ada toksin atau terkait dengan keracunan apa, perlu pembuktian lebih lanjut," pungkasnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)