Laporan wartawan Sripoku.com, Angga
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Fenomena tak biasa terjadi di tengah Sungai Musi, kawasan 1 Ilir Palembang, tepatnya di Jalan Sultan Agung, 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).
Sebanyak 12 kapal ketek berjejer untuk menyelam dan mencari harta karun di dasar Sungai Musi.
Masyarakat sekitar percaya jika Sungai Musi banyak menyimpan harta, sehingga masyarakat rela menyelam ke dasar menggunakan selang kompresor ataupun oksigen untuk mencari harta karun yang tersembunyi.
Diyakini saking banyaknya harta yang tersimpan di dasar Sungai Musi, sebagian pemburu harta karun bahkan menggunakan cara lain untuk mendapatkan harta.
Para pemburu harta karun tersebut menyedot pasir dari dasar Sungai Musi menggunakan mesin pompa sederhana, lalu pasir itu "dilimbang" (direndam dalam air untuk memisahkan pasir dengan benda lainnya).
Dari pasir yang seukuran kerikil dikumpulkan, pemburu memisahkan pasir dengan serbuk emas, kemudian direndam ke dalam air merkuri.
Setiap satu gram emas dihargai Rp500 ribu-600 ribu oleh penadah.
Menurut salah satu pemburu harta karun yang kebetulan menepi, yakni Asmadi, kegiatan ini dilakukannya semenjak Sungai Musi tengah surut hingga banyak masyarakat dengan perahu keteknya mencari harta karun.
"Sudah 1 bulan terakhir ini kami lakukan, alhamdulillah banyak juga barang-barang yang bisa dijual kepada penadah," kata Asmadi, pada Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Detik-detik Ahli Kunci Bongkar Brankas Harta Karun Rp476 M dan 74kg Emas di Rumah Mewah Sentul
Asmadi juga mengungkapkan barang-barang yang ditemukannya mulai dari mata tombak, pecahan keramik, besi, uang koin, hingga mata tombak.
Asmadi pernah mendapat temuan termahal yang berkisar Rp25 juta. Ia menemukan piring celadon dengan corak timbul ikan emas di tengahnya.
“Mahal itu dapat lirik celadon harganya sekitar Rp 26 juta, itu piring yang warnanya hijau, terus di dalamnya ada ikan dua, ikan mas di dalam piring,” katanya.
Asmadi sendiri mulai mencari harta karun dari pagi hari hingga pukul 18.00 WIB karena dasar Sungai Musi yang sulit untuk menemukan harta karun.
Barang-barang yang ditemukan Asmadi biasanya akan disetor ke kolektor ataupun penadah yang menginginkan barang-barang antik.
"Kalau mau lihat barang-barangnya itu galak dijual di Pasar Cinde, kalau yang ini belum terjual belum dibersihkan juga," ucapnya.
Asmadi bersama rekan-rekannya rela mempertaruhkan nyawa menyelam ke sungai gelap untuk mencari emas dan benda antik bersejarah.
Peran pencari harta karun ini sangat penting, karena berkat merekalah peninggalan sejarah itu muncul ke permukaan.
Ironisnya, sejumlah benda bersejarah yang seharusnya berada di bawah pengelolaan pemerintah kini justru dikuasai perorangan, bahkan sebagian dimiliki pihak asing.
Ia berharap jika pemerintah hendak membeli barang-barang bersejarah, sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh para pencari harta karun.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com