AS Tak Mampu Lumpuhkan Iran Lewat Perang, Trump Siapkan Sanksi Ekonomi Besar-besaran
Faisal Zamzami August 14, 2026 08:37 PM

 


SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) bersiap meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menyiapkan serangkaian langkah baru yang disebut pemerintahan Presiden Donald Trump belum pernah diterapkan sebelumnya dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap sebuah negara.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, pemerintah akan mengumumkan kebijakan tersebut pada pekan depan sebagai bagian dari upaya memperbesar tekanan finansial terhadap Teheran. Langkah itu diharapkan dapat memaksa Iran memberikan konsesi dalam konflik yang hingga kini belum menemukan penyelesaian.

“Perhatikan pengumuman lebih lanjut pekan depan karena kami akan menerapkan langkah-langkah seperti yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara,” kata Bessent dalam wawancara dengan Newsmax pada Kamis (13/8/2026).

Bessent menggambarkan strategi tersebut sebagai pendekatan “pukulan satu-dua”. Komponen pertama berupa peningkatan isolasi ekonomi dan tekanan finansial terhadap Iran, sedangkan komponen kedua adalah keberlanjutan tekanan melalui operasi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menurut Bessent, kombinasi kedua kebijakan tersebut dimaksudkan untuk semakin membatasi kemampuan Iran memperoleh pendapatan, menjalankan perdagangan internasional, serta mempertahankan aktivitas ekonominya di tengah perang dan kebuntuan diplomatik.

Tekanan Ekonomi dan Blokade

Rencana baru tersebut muncul ketika perekonomian Iran telah berada dalam kondisi tertekan akibat konflik berkepanjangan dan gangguan terhadap ekspor energinya.

AS sebelumnya telah memberlakukan berbagai sanksi terhadap Iran, terutama terhadap sektor minyak, lembaga keuangan, dan jaringan perdagangan yang dianggap membantu pemerintah Teheran. Namun, pemerintahan Trump kini berupaya membawa tekanan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi.

Di sisi lain, AS juga mempertahankan operasi maritim di sekitar Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa militer AS memiliki kemampuan untuk mempertahankan operasi blokade terhadap pelabuhan Iran dalam jangka waktu yang tidak terbatas apabila diperlukan.

Kebijakan tersebut menjadi bagian penting dari strategi Washington untuk membatasi kemampuan Iran menggunakan jalur perdagangan laut sekaligus memberikan tekanan terhadap aktivitas ekspor dan impor negara tersebut.

Strategi ini sekaligus menunjukkan bahwa Washington tidak hanya mengandalkan sanksi finansial. AS berusaha menggabungkan instrumen ekonomi dengan tekanan militer dan maritim untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung Iran jika konflik terus berlanjut.

Baca juga: Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Iran Membantah: Jalur Minyak Dunia Tetap Ditutup

Trump Kembali Mengutamakan Tekanan Ekonomi

Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir juga kembali menekankan pendekatan yang lebih berhati-hati secara militer terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan Axios pada akhir pekan lalu, Trump mengatakan pemerintahannya memilih untuk “low-keying it” terhadap Iran, dengan meningkatkan tekanan ekonomi ketimbang segera memperluas operasi militer. Pernyataan tersebut muncul ketika stok amunisi AS menghadapi tekanan dan pemerintahan Trump harus mempertimbangkan risiko jika konflik kembali meningkat.

Trump juga menyoroti kondisi ekonomi Iran yang menurutnya semakin memburuk.

“Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi mereka yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington melihat tekanan ekonomi sebagai salah satu instrumen utama untuk memaksa Teheran mengubah perhitungannya.

Namun, strategi tersebut menghadapi tantangan. Iran telah berulang kali mengalami berbagai gelombang sanksi selama bertahun-tahun. Meski kebijakan tersebut memberikan tekanan berat terhadap perekonomian Iran, sanksi sebelumnya belum secara konsisten berhasil membuat Teheran menyerah dalam isu strategis, termasuk program nuklir, kemampuan militernya, dan kepentingannya di kawasan.

Fokus AS Mulai Bergeser ke Harga Energi

Tekanan ekonomi terhadap Iran juga semakin erat kaitannya dengan persoalan harga minyak dan bahan bakar di Amerika Serikat.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa salah satu prioritas utama pemerintahan Trump saat ini adalah menurunkan harga minyak dan bahan bakar bagi konsumen AS. Persoalan program nuklir Iran tetap menjadi tujuan penting, tetapi stabilitas pasokan energi dan harga bahan bakar kini memperoleh perhatian yang semakin besar.

Hal ini penting karena gangguan terhadap Selat Hormuz telah memengaruhi perdagangan energi global. Ketidakpastian mengenai keamanan jalur pelayaran tersebut membuat perusahaan pelayaran dan pemilik kapal harus mempertimbangkan risiko yang lebih tinggi ketika melewati kawasan tersebut.

Dengan demikian, tekanan AS terhadap Iran memiliki dua sasaran sekaligus: memperlemah kemampuan ekonomi Teheran dan mendorong terbukanya kembali jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz.

Baca juga: AS Ubah Strategi Lawan Iran: Bakal Blokade Selat Hormuz dan Isolasi Ekonomi Total

Sengketa Selat Hormuz Belum Selesai

Persoalan paling krusial dalam konflik saat ini tetap berada di Selat Hormuz.

Jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu dapat memberikan dampak langsung terhadap pasokan minyak dan gas global.

Hingga kini, AS dan Iran masih memiliki klaim yang bertentangan mengenai kendali dan akses pelayaran di Selat Hormuz. Lalu lintas kapal juga masih berada jauh di bawah kondisi normal akibat meningkatnya risiko keamanan.

Data yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa jumlah kapal komoditas yang melintas pada Kamis meningkat menjadi sembilan kapal dari lima kapal sehari sebelumnya. Namun, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata sekitar 12 kapal per hari selama Agustus. Sebagian besar kapal yang tetap melintas memilih menggunakan rute di sisi Iran.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun jalur pelayaran belum sepenuhnya terhenti, aktivitas perdagangan melalui Hormuz masih jauh dari normal.

Iran dan Oman Dekati Kesepakatan Jalur Pelayaran

Di tengah kebuntuan antara Washington dan Teheran, Iran juga berupaya mencari jalan keluar melalui jalur diplomatik dengan Oman.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk membentuk jalur pelayaran melalui Selat Hormuz sudah “sangat dekat”.

Namun, kesepakatan tersebut tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembentukan koridor atau jalur pelayaran tertentu merupakan persoalan yang berbeda dengan pembukaan penuh selat bagi seluruh lalu lintas internasional. Iran masih memiliki sejumlah tuntutan dalam negosiasi, termasuk persoalan sanksi, blokade AS, kompensasi atas kerusakan akibat perang, serta aset Iran yang dibekukan.

Karena itu, tercapainya kesepakatan teknis mengenai jalur pelayaran belum tentu menjadi tanda berakhirnya sengketa yang lebih luas.

Lalu Lintas Minyak Masih Menjadi Perhatian Pasar

Ketidakpastian di Selat Hormuz terus menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pasar minyak global.

Harga minyak mentah Brent pada Kamis berada di kisaran US$87 per barel setelah mengalami tekanan pada sesi perdagangan sebelumnya. Pergerakan harga tetap sangat sensitif terhadap perkembangan konflik, terutama setiap informasi mengenai pembukaan atau penutupan jalur pelayaran di Hormuz.

Pasar juga harus mempertimbangkan bahwa gangguan di kawasan tersebut tidak hanya berdampak terhadap Iran. Negara-negara produsen minyak dan gas di sekitar Teluk Persia juga bergantung pada jalur tersebut untuk mengirimkan energi ke pasar internasional.

Serangan terhadap kapal tanker di kawasan Hormuz dalam beberapa hari terakhir semakin memperkuat kekhawatiran mengenai keselamatan pelayaran. Pada 13 Agustus, dua kapal tanker yang dioperasikan perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab, ADNOC, dilaporkan diserang drone ketika melintas di Selat Hormuz. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, tetapi peristiwa itu menunjukkan tingginya risiko keamanan di kawasan tersebut.

Strategi “Pukulan Satu-Dua” Washington

Dengan demikian, kebijakan baru yang disiapkan AS tidak berdiri sendiri. Washington tampaknya sedang membangun strategi tekanan berlapis terhadap Iran.

Lapisan pertama adalah tekanan finansial, melalui sanksi dan langkah ekonomi baru yang akan diumumkan pekan depan.

Lapisan kedua adalah tekanan maritim, melalui keberlanjutan blokade dan operasi terhadap kapal yang berupaya memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran.

Lapisan ketiga adalah tekanan diplomatik, dengan menggunakan akses terhadap Selat Hormuz dan pemulihan perdagangan sebagai bagian dari negosiasi yang lebih luas.

Pemerintahan Trump berharap kombinasi tersebut dapat meningkatkan biaya ekonomi dan politik bagi Teheran sehingga Iran bersedia memberikan konsesi dalam perundingan.

Namun, efektivitas strategi tersebut masih menjadi pertanyaan. Iran telah terbiasa menghadapi sanksi selama bertahun-tahun dan memiliki pengalaman mengembangkan jalur perdagangan alternatif untuk mengurangi dampaknya.

Risiko Konflik Berkepanjangan

Kebijakan baru Washington juga membawa risiko tersendiri.

Semakin besar tekanan ekonomi dan maritim terhadap Iran, semakin tinggi kemungkinan Teheran merespons melalui langkah militer, diplomatik, maupun ekonomi. Gangguan terhadap kapal komersial dan energi dapat kembali meningkatkan harga minyak, sementara harga bahan bakar yang lebih tinggi justru dapat memberikan tekanan terhadap konsumen Amerika.

Situasi tersebut menciptakan dilema bagi pemerintahan Trump. Di satu sisi, Washington ingin menggunakan tekanan ekonomi untuk memaksa Iran mencapai kesepakatan. Di sisi lain, tekanan yang terlalu besar dapat memperpanjang konflik dan mengganggu pasokan energi global.

Kebuntuan tersebut juga membuat Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam konflik AS-Iran saat ini.

Menunggu Pengumuman Pekan Depan

Untuk saat ini, rincian mengenai bentuk sanksi atau tindakan ekonomi baru yang dijanjikan Bessent belum diumumkan. Pemerintah AS baru memberikan gambaran umum bahwa langkah tersebut akan memiliki skala yang belum pernah diterapkan sebelumnya.

Pasar, pemerintah negara-negara sekutu, perusahaan energi, dan pelaku pelayaran kini akan menunggu pengumuman resmi Washington pada pekan depan.

Jika langkah tersebut benar-benar memperluas isolasi ekonomi Iran secara signifikan, dampaknya kemungkinan tidak hanya dirasakan oleh Teheran. Kebijakan itu juga berpotensi memengaruhi perdagangan minyak, nilai tukar, biaya pengiriman, inflasi, serta hubungan diplomatik AS dengan negara-negara yang masih memiliki hubungan perdagangan dengan Iran.

Pada saat yang sama, masa depan Selat Hormuz tetap menjadi kunci. Kesepakatan terbatas antara Iran dan Oman dapat menjadi jalan menuju pemulihan sebagian lalu lintas pelayaran, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan sengketa antara Washington dan Teheran.

Dengan negosiasi yang masih buntu dan AS bersiap meningkatkan tekanan ekonomi, konflik Iran memasuki fase baru: tekanan finansial yang lebih agresif di satu sisi, sementara akses terhadap salah satu jalur energi paling strategis di dunia masih menjadi sumber perselisihan di sisi lainnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.