Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak subspesialis respirologi Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp menyampaikan sejumlah gejala hingga kelompok yang tergolong rentan terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terutama yang muncul di musim kemarau.
Kepada ANTARA di Jakarta, Jumat, Nastiti mengatakan gejala ISPA pada awal biasanya ditandai dengan demam, batuk, serta pilek, atau sering ditemui dalam kondisi yang dikenal sebagai common cold atau selesma.
“Itu adalah ISPA yang paling ringan manifestasi klinisnya. Biasanya seperti itu demam, batuk, pilek yang sederhana seperti itu biasanya akan bisa sembuh sendiri setelah tubuh merespons dengan meningkatkan kekebalan tubuh,” ujar dia.
Dokter yang praktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo itu menyampaikan gejala ISPA yang perlu diwaspadai segera dibawa ke fasilitas kesehatan ketika mulai terlihat mengalami sesak napas. Kondisi tersebut dapat dikenali dari frekuensi napas yang meningkat atau lebih cepat dari biasanya.
Ia mencontohkan peningkatan frekuensi napas atau respiration rate dapat terlihat ketika anak bernapas tampak 'ngos-ngosan' seperti habis berlari. Kemudian, ada gejala yang disebut tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam atau yang disebut dengan retraksi.
Selain itu, beberapa kondisi yang mengharuskan pemeriksaan segera, antara lain kejang, perubahan warna mulut menjadi kebiruan, kesadaran menurun, demam dengan suhu di atas 40 derajat celsius, mengalami muntah berulang hingga tidak dapat memperoleh cukup cairan yang masuk dalam tubuh.
“Kondisi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia atau radang paru merupakan kegawatan yang paling sering terjadi. Dan bahaya yang ditimbulkan karena peradangannya itu sudah sampai ke jaringan paru sehingga membuat tubuh kekurangan oksigen,” kata dokter yang tergabung Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.
Nastiti mengatakan bahwa kelompok rentan yang berisiko terkena ISPA yaitu semakin rendah atau semakin kecil usia, terutama pada bayi dan balita karena imunitas atau pertahanan kekebalan tubuhnya belum berkembang sebaik orang dewasa hingga memiliki saluran napasnya masih sangat halus.
“Sehingga kalau terjadi pembengkakan atau terjadi sumbatan di saluran pipa napas yang kecil halus itu, maka tentu efek penyumbatannya akan lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa,” kata dia.
Selain itu, lansia juga termasuk kelompok yang rentan terkena ISPA, karena imunitasnya juga sudah mulai menurun seiring dengan bertambahnya usia. Kelompok berisiko lainnya, orang yang memiliki penyakit kronis atau komorbid, seperti asma, diabetes, serta penyakit jantung bawaan pada anak.
“Ya, selain itu tentu mereka yang bekerja di luar rumah yang berpaparan langsung dengan asap-asap ini atau kebakaran-kebakaran ini tentu menjadi kelompok yang paling rentan,” imbuh dia.
Dalam hal ini, Nastiti mengatakan pada musim kemarau udara panas, kering, rendahnya curah hujan membuat debu dan polutan-polutan lebih mudah beterbangan di udara sehingga berisiko lebih banyak terhirup paparan tersebut dapat meningkatkan risiko ISPA.
Risiko terpapar polutan yang memicu gangguan pernapasan termasuk ISPA bisa dikurangi dengan membatasi aktivitas di luar, terutama ketika udara sedang kering, berdebu, atau dipenuhi polutan, hingga menerapkan perilaku hidup bersih sehat seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etiket batuk agar penularan penyakit dapat dicegah.
“Hidrasi yang cukup, jangan sampai tubuh dalam kondisi dehidrasi. Karena dengan menjaga hidrasi yang baik, maka selain kita terhindar dari dehidrasi, selaput lendir yang melindungi saluran napas kita menjadi tetap lembap dan tetap berfungsi baik dalam melawan partikel-partikel yang masuk ke dalam saluran napas,” tutur dia.





