TRIBUNBEKASI.COM- Puluhan tahun berlalu, tetapi sebuah peluru masih bersarang di paha Nawi, veteran asal Kota Padang, Sumatera Barat, yang kini telah berusia 103 tahun.
Peluru itu menembus pahanya saat Nawi terlibat dalam pergolakan bersenjata pada 1957. Hingga kini, timah panas tersebut tidak pernah dikeluarkan dari tubuhnya.
Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, kisah Nawi menjadi salah satu cerita tentang perjuangan yang masih tersimpan dalam ingatan seorang saksi hidup.
Nawi lahir pada 12 Mei 1923. Di usia lebih dari satu abad, ia masih mengingat masa ketika perjuangan dilakukan dengan senjata seadanya.
Nawi terkena tembakan ketika pergolakan daerah terjadi pada 1957.
Peluru tersebut menembus bagian pahanya dan hingga sekarang masih bersarang di dalam tubuhnya.
Dokter pernah menyarankan agar peluru itu dikeluarkan melalui operasi. Namun, Nawi memilih menolak karena luka tersebut tidak lagi menimbulkan rasa sakit.
"Waktu itu, saya tertembak di paha. Dokter sudah menyarankan operasi," kata Nawi, Jumat (14/8/2026).
"Saya tidak mau. Lagi pula tidak terasa sakit lagi," lanjutnya.
Sejak saat itu, peluru tersebut menjadi bagian dari tubuh Nawi sekaligus pengingat atas perjalanan panjang yang pernah dilaluinya.
Jauh sebelum tertembak pada 1957, Nawi telah terlibat dalam perjuangan sejak masih berusia belasan tahun.
Saat itu, wilayah Padang terbagi menjadi Padang Dalam Kota dan Padang Luar Kota di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Nawi kemudian terlibat dalam perjuangan di sejumlah wilayah, seperti Banda Bakali, Lubuk Alung, Rimbo Kaluang, Andaleh hingga Seberang Padang.
Ia bahkan dipercaya memimpin sekitar 300 pemuda dan menjadi Komandan Regu Pasukan Hizbullah wilayah Kapalo Koto.
Pasukannya bergerak bersama kelompok perlawanan lainnya, termasuk kelompok yang dikenal sebagai Harimau Kuranji.
Persenjataan yang mereka miliki sangat terbatas. Bambu runcing menjadi salah satu senjata yang digunakan untuk menghadapi musuh.
"Senjata kami waktu itu talang baranjuang, bambu runcing," kenang Nawi.
Tekad para pemuda ketika itu adalah mengusir Belanda dari Indonesia.
"Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, itu tekad bulat di hati kami," ujarnya.
Senapan Bren maupun granat yang digunakan para pejuang biasanya diperoleh setelah direbut dari pihak musuh dalam pertempuran.
Perjalanan hidup Nawi juga melewati masa pendudukan Jepang pada 1942.
Menurutnya, periode tersebut menjadi salah satu masa paling sulit, terutama karena masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan makanan.
Tenaga rakyat juga dikerahkan untuk kepentingan pendudukan.
"Zaman Jepang paling susah makan. Kerja diperas banyak-banyak, makan cuma sedikit," tutur Nawi.
Setelah Jepang menyerah, perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia masih berlanjut karena Belanda kembali berusaha menguasai Indonesia.
Pertempuran berlangsung hingga sekitar 1950, ketika Belanda akhirnya meninggalkan Indonesia.
Namun, bagi Nawi, pengalaman menghadapi konflik bersenjata belum berakhir. Tujuh tahun kemudian, sebuah peluru menembus pahanya dalam pergolakan daerah.
Memasuki usia 103 tahun, Nawi telah melewati perjalanan hidup yang panjang sekaligus penuh kehilangan.
Dua istrinya telah meninggal dunia. Dari delapan anak yang dimilikinya, lima juga telah berpulang.
Kini, hanya tiga anak yang masih bersamanya.
Meski begitu, berbagai kehilangan tersebut tidak membuat Nawi berhenti memegang prinsip untuk membantu orang lain.
"Saya tidak ingin menyakiti orang lain. Saya selalu ingin membantu kawan," kata Nawi.
"Saya selalu menanamkan jiwa itu," lanjutnya.
Nawi merupakan veteran Golongan A dan pernah menerima tiga penghargaan Satyalancana pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan Presiden Megawati Soekarnoputri dikutip dari kompas.com
Bagi Nawi, bentuk perjuangan telah berubah.
Jika dahulu ia dan para pemuda mempertaruhkan nyawa dengan bambu runcing dan senjata hasil rampasan, generasi sekarang tidak perlu lagi berjuang di medan perang.
Menurut Nawi, perjuangan dapat dilakukan dengan menjaga persatuan dan saling membantu.
Ia mengingatkan pepatah Minangkabau yang selama ini menjadi bagian dari nilai hidupnya.
"Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi."
Pepatah tersebut mengajarkan tentang kebersamaan, saling membantu dan menjaga kesepakatan dalam kehidupan bersama.
Kini, bambu runcing dan dentuman senjata telah menjadi bagian dari sejarah.
Namun, peluru yang masih bersarang di paha Nawi menjadi pengingat perjalanan panjang perjuangan yang pernah ia lalui.
Di usia 103 tahun, Nawi tidak lagi membawa senjata. Ia hanya menyimpan cerita tentang masa lalu dan pesan agar generasi sekarang terus menjaga persatuan serta tidak saling menyakiti.