Cuaca Buruk di Pesisir Selatan Jawa Timur, Nelayan Trenggalek Diimbau Waspada Gelombang Tinggi
faridmukarrom August 14, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK – Cuaca buruk yang terjadi di awal musim ikan menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan di pesisir selatan Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Trenggalek.

Gelombang tinggi dan kondisi cuaca yang tidak menentu tidak hanya menghambat aktivitas melaut, tetapi juga berdampak pada hasil tangkapan ikan serta meningkatnya biaya operasional.

Katimja Kesyahbandaran PPN Prigi, Tri Aspriadi Noviyanto, mengingatkan para nelayan agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di laut. Menurutnya, kondisi gelombang yang tinggi dalam beberapa hari terakhir berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran.

"Kalau terkait dengan cuaca ya, ini akhir-akhir ini bisa lihat sendiri, gelombang tinggi. Saya menyarankan untuk tidak ke laut dulu kalau saya, untuk teman-teman nelayan agar berhati-hati kalau melaut saat ini," terang Tri Aspriadi Noviyanto, Jumat (14/8/2026).

Baca juga: Wakil Ketua DPRD Jatim Minta SPPG Makanan Bergizi Gratis Bermasalah Ditutup, Soroti Juga KDMP

Ia menjelaskan, cuaca buruk menyebabkan arus dan angin di laut menjadi lebih kuat sehingga memengaruhi pergerakan kapal. Akibatnya, waktu tempuh kapal sering kali meleset dari perkiraan.

Tri mencontohkan kapal Putra Leo yang mengalami keterlambatan tiba di Pelabuhan Prigi karena terdorong arus dan angin yang cukup kencang.

"Kemarin contohnya kapal Putra Leo, yang saya estimasi dia bisa sampai di sini kemarin pagi. Itu bergeser jauh dari perkiraan saya. Artinya, dorongan arus dan angin itu sangat kencang sekali sehingga pergerakan kapal itu lambat," jelasnya.

Menurut Tri, keselamatan harus menjadi prioritas utama bagi nelayan saat menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Aktivitas melaut di tengah gelombang tinggi memiliki risiko besar terhadap kapal maupun awak kapal.

"Hal yang paling dasar adalah keselamatan kapal," tegasnya.

Gelombang Tinggi Hambat Hasil Tangkapan Nelayan
Tri menyebut kondisi gelombang tinggi saat ini masih bersifat fluktuatif. Namun berdasarkan pengamatannya, cuaca buruk telah berlangsung selama tiga hari terakhir dan masih perlu diwaspadai oleh nelayan yang hendak melaut.

Di sisi lain, nelayan asal Kecamatan Watulimo, Ateng Sunoto, mengaku cuaca buruk membuat aktivitas penangkapan ikan di laut lepas menjadi jauh lebih sulit. Penggunaan jaring untuk menangkap ikan tidak dapat berjalan maksimal karena ombak yang tinggi dan kondisi perairan yang tidak stabil.

"Iya, cuacanya, hasil tangkapannya ikan belum ada," ujar Ateng.

Tidak hanya berdampak pada hasil tangkapan, cuaca buruk juga membuat biaya operasional kapal meningkat. Nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan operasional lainnya selama melaut.

"Alhasil cost (biaya) yang dikeluarkan semakin besar," ulasnya.

Ateng menjelaskan kapal yang dioperasikannya menggunakan mesin berkapasitas 99 GT. Untuk satu kali pelayaran selama sekitar 40 hari, kapal tersebut membutuhkan sekitar 24 ton atau 24 ribu liter bahan bakar.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.