Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis berlisensi dan spesialis tidur di New York Dr. Shelby Harris menyampaikan sejumlah kebiasaan melakukan olahraga tertentu dapat berisiko terhadap dampak waktu istirahat dan mengganggu kualitas tidur.

Olahraga pada waktu menjelang malam dapat membantu meningkatkan kualitas tidur, tetapi juga berpotensi mengganggunya jika intensitasnya terlalu berat.

“Olahraga dengan intensitas tinggi dapat mengganggu tidur jika dilakukan mendekati waktu tidur karena untuk sementara membuat tubuh berada dalam kondisi lebih waspada. Olahraga berat sesaat sebelum tidur dapat membuat tubuh lebih sulit untuk rileks,” kata Harris, dikutip laporan New York Post, Rabu (12/8) waktu setempat.

Berdasarkan penelitian menemukan bahwa semakin berat olahraga yang dilakukan, semakin lama seseorang tertidur, semakin sedikit total waktu tidurnya, dan semakin terganggu kualitas tidurnya. Ini bisa berupa jenis olahraga seperti high-intensity interval training (HIIT), lari dengan intensitas tinggi, dan bersepeda secara intens.

Aktivitas tersebut dapat membuat tubuh tidak segera mengalami penurunan suhu dan perlambatan detak jantung secara alami ketika memasuki waktu tidur. Akibatnya, seseorang lebih sulit tertidur dan tahapan tidur terdalam juga dapat terganggu.

Namun, Harris menegaskan olahraga kardio bukanlah musuh yang penting intensitasnya. “Joging santai atau bersepeda dengan kecepatan ringan dapat memberikan dampak yang sangat berbeda terhadap tidur dibandingkan sprint interval atau kelas olahraga dengan intensitas maksimal.”

Jika 30 hingga 60 menit setelah berolahraga Anda masih bernapas dengan berat, jantung berdebar kencang, dan tubuh terasa sangat berenergi, kemungkinan olahraga yang dilakukan terlalu berat.

Menurut Harris, kondisi tersebut merupakan tanda bahwa olahraga terlalu menstimulasi tubuh. Ke depannya, pertimbangkan untuk memindahkan jadwal olahraga ke waktu yang lebih awal.

Kemudian, kebiasaan seperti jeda yang terlalu singkat antara selesai berolahraga dan waktu tidur dapat membuat tubuh belum cukup rileks.

Harris merekomendasikan setidaknya dua jam jeda antara selesai melakukan olahraga berat dan waktu tidur. Jeda tersebut memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri.

Selain itu, menghindari kafein sebelum tidur mungkin terdengar jelas, tetapi kandungan tersebut terdapat dalam banyak produk pre-workout dan dapat bertahan di dalam tubuh selama berjam-jam.

Selain kafein, ada bahan lain yang juga dapat menstimulasi tubuh, seperti synephrine, yohimbine, atau ekstrak teh hijau dalam dosis tinggi. Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengganggu tidur.

“Bahkan bahan-bahan yang dipasarkan sebagai ‘penambah energi alami’ dapat memberikan efek stimulasi,” tambah Harris.

Karena itu, ia menyarankan untuk membaca label produk dengan teliti jika berolahraga pada waktu yang lebih larut.

Sebaliknya, olahraga juga bisa membantu tidur. Dalam hal ini, dengan berolahraga secara moderasi, tidak hanya dapat menghindari tubuh menjadi terlalu terstimulasi, tetapi juga justru membantu meningkatkan kualitas tidur.

Harris mengatakan pilihan terbaik sebelum tidur adalah aktivitas dengan intensitas rendah, seperti yoga restoratif, peregangan, pilates ringan, atau berjalan santai.

Aktivitas tersebut dapat membantu mengurangi ketegangan otot, menenangkan sistem saraf, dan memberi sinyal kepada tubuh bahwa sudah waktunya beralih menuju tidur.

Bahkan olahraga aerobik dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, atau joging, secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan kualitas tidur, di mana juga dapat membantu seseorang lebih mudah tertidur dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam fase tidur nyenyak yang bersifat memulihkan.

Lebih lanjut, Harris menyarankan agar olahraga lebih diarahkan untuk membantu “tubuh rileks setelah menjalani hari yang sibuk.”

“Jenis aktivitas ini juga mendorong pernapasan yang lebih lambat dan relaksasi sehingga seseorang dapat lebih mudah tertidur,” ujar dia.