SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON, DC — Kondisi awak kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, menjadi sorotan setelah sejumlah keluarga awak kapal dan anggota Kongres AS menyampaikan kekhawatiran mengenai kesehatan mental, kelelahan, serta kondisi kehidupan di atas kapal yang telah berbulan-bulan menjalani penugasan tanpa jeda yang memadai.
Laporan dari Navy Times dan Stars and Stripes menyebutkan bahwa beberapa pelaut dilaporkan pernah mencoba atau hendak melompat ke laut dari kapal induk tersebut.
Laporan itu muncul ketika USS Abraham Lincoln menjalani penugasan yang telah berlangsung hampir sembilan bulan dan diperpanjang beberapa kali akibat meningkatnya kebutuhan operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Namun, penting dicatat bahwa Angkatan Laut AS membantah adanya peningkatan kasus bunuh diri di atas kapal. Komando Pusat AS (CENTCOM) juga membantah sejumlah klaim yang beredar mengenai kondisi kapal.
Dengan demikian, dugaan krisis kesehatan mental tersebut hingga kini masih menjadi persoalan yang diperdebatkan antara laporan keluarga dan media di satu sisi dengan keterangan resmi militer AS di sisi lain.
Sejumlah Awak Dilaporkan Mencoba Melompat ke Laut
Salah satu laporan paling serius berkaitan dengan dugaan percobaan bunuh diri oleh awak kapal.
Annabelle Loma, istri seorang pelaut USS Abraham Lincoln, mengatakan suaminya pernah mencoba melompat dari kapal setelah mengalami tekanan akibat masa penugasan yang terus diperpanjang.
Menurut Loma, suaminya khawatir kondisi mentalnya akan menghancurkan karier militernya yang telah berlangsung sekitar 13 tahun. Ia kemudian ditempatkan dalam status medical hold.
Keluarga awak lainnya juga menceritakan bagaimana seorang pelaut pernah berusaha melompat ke laut, tetapi berhasil dicegah oleh rekannya yang menariknya kembali ke dek.
Dalam pertemuan dengan pejabat Angkatan Laut di San Diego, sekitar 200 anggota keluarga dilaporkan menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi orang-orang yang mereka cintai di atas kapal.
Salah seorang pasangan awak bahkan mengatakan bahwa suaminya mengirim pesan yang menunjukkan keputusasaan dan berharap dirinya tidak perlu bangun keesokan harinya.
Selain laporan tersebut, seorang pejabat AS mengatakan kepada media bahwa seorang pelaut memang jatuh atau berada di luar kapal pada 3 Agustus 2026.
Pelaut tersebut berhasil ditemukan dan dievakuasi dalam keadaan selamat. Laporan lain menyebutkan pelaut itu mendapat pertolongan medis setelah dievakuasi dari kapal.
Meski demikian, pihak Angkatan Laut AS menyatakan belum menemukan peningkatan laporan mengenai keinginan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri di USS Abraham Lincoln.
Baca juga: Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Iran Membantah: Jalur Minyak Dunia Tetap Ditutup
Persoalan utama yang menjadi perhatian keluarga dan sejumlah anggota Kongres adalah lamanya penugasan USS Abraham Lincoln.
Kapal induk tersebut meninggalkan San Diego pada 21 November 2025 untuk menjalani penugasan yang pada awalnya direncanakan di kawasan Indo-Pasifik. Namun, situasi berubah ketika kapal kemudian dialihkan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi militer AS terkait perang dengan Iran.
Pada Juli 2026, USS Abraham Lincoln masih tercatat beroperasi di Laut Arab untuk mendukung Operation Epic Fury. Data US Naval Institute menunjukkan kapal tersebut berada di kawasan operasi Armada Kelima AS bersama kelompok tempurnya.
Dengan sekitar 5.000 pelaut dan marinir di dalamnya, penugasan tersebut telah berlangsung jauh lebih lama dibandingkan pola normal penugasan kapal induk.
Laporan Stars and Stripes menyebutkan kapal bahkan menjalani sekitar 250 hari berturut-turut tanpa persinggahan di pelabuhan, sebuah periode yang sangat panjang bagi awak kapal yang hidup dan bekerja dalam lingkungan tertutup.
Biasanya, persinggahan di pelabuhan tidak hanya digunakan untuk mengisi bahan bakar dan logistik. Awak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, melakukan perawatan kapal, berkomunikasi dengan keluarga, serta memperoleh kesempatan keluar dari lingkungan kapal yang sangat padat.
Baca juga: VIDEO Militer Iran Sebut Kembali Targetkan Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln
Selain lamanya penugasan, keluarga awak juga mengeluhkan kondisi kehidupan sehari-hari di USS Abraham Lincoln.
Keluhan yang dilaporkan antara lain:
-kamar mandi yang mengalami masalah jamur;
-toilet yang rusak;
-fasilitas laundry yang tidak berfungsi dalam periode tertentu;
-keterbatasan air panas;
-gangguan distribusi surat;
-kekurangan sejumlah kebutuhan kebersihan pribadi;
-persoalan makanan dan pasokan air;
-serta jam kerja panjang dengan waktu istirahat yang terbatas.
Stars and Stripes melaporkan keluarga dan awak kapal mengeluhkan kekurangan makanan dan air, gangguan layanan surat, serta panjangnya jam kerja dengan waktu istirahat yang minim.
Senator AS Richard Blumenthal juga meminta penjelasan resmi Pentagon mengenai sejumlah laporan, termasuk dugaan persoalan sanitasi, pasokan kebutuhan dasar, masalah air, gangguan sistem surat, serta memburuknya kondisi kesehatan mental awak kapal.
Anggota DPR AS Mike Levin dan Jason Crow juga ikut menyoroti persoalan tersebut. Crow, yang merupakan veteran militer, memperingatkan bahwa tekanan terhadap personel dan keluarga mereka dapat terus meningkat apabila penugasan berkepanjangan tidak segera ditangani.
Para pengamat militer menilai bahwa persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan hidup, tetapi juga kesiapan operasional.
Awak kapal induk harus menjalankan pekerjaan dengan tingkat disiplin dan konsentrasi tinggi selama berbulan-bulan.
Dalam kondisi perang, tekanan tersebut bertambah karena personel harus tetap siap menghadapi kemungkinan serangan, menjalankan operasi udara, menjaga sistem kapal, serta bekerja dalam jadwal yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Mantan Wakil Laksamana Angkatan Laut AS Robert Murrett mengatakan bahwa penugasan Angkatan Laut yang terlalu panjang memang dapat meningkatkan tantangan kesehatan mental bagi personel militer.
Masalah tersebut menjadi semakin kompleks karena awak kapal tidak hanya menghadapi tekanan pekerjaan, tetapi juga harus berpisah dari keluarga dalam waktu lama. Ketidakpastian mengenai kapan kapal akan kembali ke pangkalan dapat memperburuk rasa lelah dan frustrasi.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan laporan mengenai kondisi buruk di kapal telah disalahgambarkan. Ia menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata AS terus berusaha memastikan setiap kapal dan personelnya mendapatkan dukungan yang diperlukan selama menjalankan misi.
Angkatan Laut juga mengatakan personel memiliki akses terhadap layanan medis, konselor kesehatan mental dan ketahanan psikologis, serta dukungan dari pendamping keagamaan selama penugasan.
Di tengah kontroversi mengenai kondisi USS Abraham Lincoln, muncul pula laporan dari media Iran, Tasnim, yang menyebut tujuh pelaut AS tewas setelah terlibat keributan di atas kapal induk tersebut.
Klaim tersebut dibantah oleh CENTCOM.
Dengan demikian, klaim mengenai tujuh pelaut AS tewas akibat perkelahian di USS Abraham Lincoln tidak dapat dianggap sebagai fakta yang telah terkonfirmasi.
Yang telah dikonfirmasi oleh pihak AS adalah adanya seorang pelaut yang berada di luar kapal pada 3 Agustus dan kemudian berhasil ditemukan serta diselamatkan.
Tekanan terhadap USS Abraham Lincoln muncul bersamaan dengan persiapan penggantian kapal induk tersebut.
USS George Washington sedang bergerak menuju kawasan Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Kapal tersebut sebelumnya beroperasi di kawasan Indo-Pasifik dan kini diarahkan ke wilayah operasi Timur Tengah.
Pengiriman George Washington menjadi penting karena memungkinkan USS Abraham Lincoln akhirnya keluar dari penugasan panjang dan memulai proses pemulangan serta pemulihan awak.
Namun, belum ada kepastian mengenai kapan tepatnya seluruh awak USS Abraham Lincoln akan kembali ke pangkalan di San Diego.
Kasus USS Abraham Lincoln juga menimbulkan pertanyaan lebih luas mengenai kemampuan Angkatan Laut AS mempertahankan operasi tempur jangka panjang tanpa memberikan waktu pemulihan yang cukup kepada personel.
Amerika Serikat hanya memiliki jumlah kapal induk aktif yang terbatas, sementara kebutuhan operasi di berbagai kawasan terus meningkat. Penugasan yang diperpanjang dapat membantu memenuhi kebutuhan strategis dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menimbulkan konsekuensi terhadap kesiapan personel dan kondisi kapal dalam jangka panjang.
Karena itu, persoalan USS Abraham Lincoln bukan sekadar mengenai apakah beberapa laporan keluarga benar atau tidak. Perdebatan yang lebih besar menyangkut bagaimana militer AS menyeimbangkan kebutuhan operasi perang dengan keselamatan, kesehatan mental, dan keberlanjutan personel yang menjalankan operasi tersebut.
Untuk saat ini, terdapat dua fakta yang berjalan bersamaan: keluarga dan sejumlah anggota Kongres terus menyuarakan kekhawatiran serius mengenai kondisi awak, sementara Angkatan Laut dan Pentagon membantah adanya krisis kesehatan mental seperti yang digambarkan sejumlah laporan media.
Penyelidikan dan informasi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan seberapa luas sebenarnya persoalan tersebut serta apakah penugasan yang berkepanjangan telah memberikan dampak terhadap kesehatan dan kesiapan sekitar 5.000 personel USS Abraham Lincoln.