BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Nama Depati Amir telah melekat kuat dalam ingatan masyarakat Bangka Belitung. Namanya diabadikan menjadi bandara, stadion, jalan, hingga berbagai fasilitas publik.
Namun, di balik nama tersebut tersimpan kisah panjang tentang sosok Depati Amir, seorang panglima perang yang sejak usia muda telah terlibat dalam perjuangan melawan Pemerintah Hindia Belanda.
Hal itu diungkap Sejarawan sekaligus Budayawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, dalam Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, Jumat (14/8/2026).
Menurut Elvian, Depati Amir merupakan putra sulung Depati Bahrin dan istrinya, Dakim. Sejak usia sekitar 21 tahun, Amir telah ikut berperang bersama ayahnya.
“Sebagai putra sulung, Depati Amir sebenarnya sudah ikut berperang bersama ayahnya melawan Pemerintah Hindia Belanda,” ujar Elvian.
Ketika ditanya apakah Amir sejak awal sudah menjadi panglima perang, Elvian menjawab tegas.
“Betul. Dia menjadi salah satu panglima perang Depati Bahrin,” katanya.
Pengaruh Amir kemudian semakin besar setelah menyandang gelar Depati pada 1830. Menurut Elvian, posisi tersebut semakin kuat karena Amir merupakan putra Depati Bahrin sekaligus seorang panglima perang. Salah satu peristiwa yang memperlihatkan pengaruhnya terjadi pada 1847 ketika Bangka masih menghadapi ancaman bajak laut.
“Amir bersama ayahnya ikut menumpas bajak laut di perairan Bangka. Setelah itu masyarakat menjadi lebih aman dan tenteram. Jadi pengaruh Amir terhadap masyarakat memang sangat besar,” jelasnya.
Dalam berbagai literatur sejarah, Depati Amir disebut sebagai sosok yang sangat berbahaya bagi Belanda. Namun, menurut Elvian, hal itu justru menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat.
“Depati Amir digambarkan sebagai sosok yang sangat berbahaya bagi Belanda. Tentu berbahaya dalam tanda kutip, karena dia sangat melindungi rakyatnya,” tuturnya.
Amir juga dikenal tegas terhadap berbagai bentuk ketidakadilan, termasuk dalam menegakkan hukum adat. Salah satunya terkait Jambil, putra Batin Mendo Timur, yang dianggap melanggar hukum adat dan harus membayar denda 25 ringgit.
“Artinya, Amir berusaha menegakkan hukum adat di Bangka,” kata Elvian.
Namun, tindakan tersebut justru dilaporkan kepada pihak Belanda dengan tuduhan pemerasan. Selain tegas, Amir juga dikenal sebagai gerilyawan yang sulit ditaklukkan.
“Dalam catatan Eropa, Amir dan Bahrin juga digambarkan sebagai gerilyawan yang sangat ulung. Ketika terdesak dalam pertempuran, mereka mampu meloloskan diri dan menghilang,” ungkapnya.
Catatan Belanda juga menggambarkan Amir sebagai sosok bertubuh tegap dan kekar serta sangat mencintai keluarganya.
Hal itu terlihat ketika rumah Demang Abdur Rasid di dekat Sungai Rangkui dikepung tentara, polisi, dan jaksa Belanda. Bahkan, makanan Amir disebut telah diberi racun. Amir berhasil meloloskan diri melalui Sungai Rangkui. Namun, ibu Amir, Dakim, saudara perempuannya serta anak angkatnya justru ditawan Belanda.
“Jadi, Amir adalah sosok yang sangat mencintai keluarga sekaligus rakyatnya,” tegas Elvian.
Menurutnya, cita-cita perjuangan Depati Amir pada akhirnya adalah membebaskan rakyat Bangka dari tekanan penjajahan.
“Cita-cita hidupnya adalah membebaskan rakyat Bangka dari kezaliman, ketidakadilan, dan kesengsaraan akibat penjajahan Belanda,” ujar Elvian.
Oleh karena itu, Elvian menilai masyarakat tidak cukup hanya mengenal nama Depati Amir melalui berbagai fasilitas publik. Kisah dan nilai perjuangannya juga harus terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai teladan keberanian, kepemimpinan, dan keberpihakan kepada rakyat. (Bangkapos.com/Vigestha Repit)