10 Tahun Lalu Jadi Raja Liga Inggris, Leicester City Kini Dijual Akibat Utang
Muhammad Nursina Rasyidin August 14, 2026 09:30 PM

TRIBUNNEWS.COM – Leicester City berada di ambang perubahan besar setelah pemilik asal Thailand, King Power, dilaporkan bersiap menjual klub yang pernah menciptakan salah satu kisah paling luar biasa dalam sejarah Liga Inggris.

Setelah 16 tahun menguasai The Foxes, King Power telah menunjuk bank investasi asal Amerika Serikat, Citigroup, untuk menangani proses penjualan. Leicester diperkirakan dibanderol lebih dari £200 juta (sekitar Rp4,8 triliun).

Menurut BBC, Citigroup bahkan telah menyiapkan brosur penjualan setebal delapan halaman dengan tajuk "Project Lineup" untuk menarik calon investor.

Yang ditawarkan bukan hanya tim utama Leicester. Paket tersebut mencakup tim wanita, Stadion King Power berkapasitas sekitar 32.000 penonton, hingga pusat latihan Seagrave.

Fasilitas latihan yang dibuka pada 2020 itu memiliki nilai sekitar £121 juta (sekitar Rp2,9 triliun). Klub saudara Leicester di Belgia, OH Leuven, juga tercantum dalam paket aset yang ditawarkan.

Jika proses penjualan berjalan sesuai rencana, berakhirlah era panjang King Power di klub yang pernah membuat dunia sepak bola tercengang.

Gelandang Leicester City asal Inggris Kiernan Dewsbury-Hall (tengah) dan rekan satu timnya memberikan tepuk tangan kepada para pendukung setelah pertandingan sepak bola Liga Utama Inggris antara Leicester City dan Crystal Palace di King Power Stadium di Leicester, Inggris tengah pada 15 Oktober 2022. Pertandingan berakhir 0-0.
TEPUK TANGAN - Gelandang Leicester City Kiernan Dewsbury-Hall (tengah) dan rekan satu timnya kala itu memberikan tepuk tangan kepada para pendukung setelah pertandingan sepak bola Liga Utama Inggris antara Leicester City dan Crystal Palace di King Power Stadium di Leicester, Inggris tengah pada 15 Oktober 2022. Pertandingan berakhir 0-0. (Foto Arsip, Oktober 2022) (BEN STANSALL / AFP)

Leicester Pernah Jadi Raja Inggris

Rencana penjualan tersebut terasa ironis jika melihat perjalanan Leicester dalam satu dekade terakhir.

Pada musim 2015/2016, The Foxes menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.

Dengan status tim yang sebelumnya tidak masuk hitungan sebagai kandidat juara, Leicester justru berhasil mengangkat trofi Premier League.

Gelar bersejarah itu dipastikan pada 2 Mei 2016 setelah Tottenham Hotspur gagal mengalahkan Chelsea dalam pertandingan yang berakhir 2-2.

Leicester kemudian kembali menambah koleksi trofi dengan memenangkan Piala FA pada 2021.

Baca juga: 6 Perubahan Aturan Liga Inggris 2026/2027 yang Wajib Diketahui: VAR hingga Pelanggaran Tarik Rambut

Namun, kejayaan tersebut kini terasa seperti cerita dari masa lalu.

Leicester justru terpuruk hingga bermain di League One, kasta ketiga sepak bola Inggris. Mereka mengalami degradasi beruntun setelah sebelumnya terlempar dari Premier League dan kemudian Championship.

Ironisnya, kondisi tersebut tidak menjadi sorotan utama dalam brosur penjualan Citigroup.

Materi tersebut justru menggambarkan Leicester sebagai peluang langka untuk memiliki klub dengan rekam jejak kuat dalam menembus kasta tertinggi sepak bola Inggris.

Utang Leicester Menumpuk

Persoalan Leicester bukan hanya berada di atas lapangan. Kondisi finansial klub juga menjadi tantangan besar bagi calon pemilik baru.

Citigroup memperkirakan pendapatan Leicester akan menembus lebih dari £97 juta pada tahun keuangan 2026.

Namun, sejumlah kerugian dan beban utang klub tidak menjadi bagian yang paling ditonjolkan dalam materi penjualan.

Berdasarkan laporan keuangan 2025, Leicester memiliki pinjaman bank sekitar £103,6 juta (sekitar Rp2,4 triliun).

Masalah finansial tersebut tidak terlepas dari perjalanan klub yang dalam beberapa tahun terakhir harus terus berpindah antara Premier League dan Championship.

The Foxes bahkan mengalami dua kali degradasi dari kasta tertinggi hanya dalam kurun tiga tahun, yakni pada 2023 dan 2025.

Dampaknya sangat terasa terhadap kondisi keuangan klub. Leicester dilaporkan mengalami kerugian lebih dari £180 juta (sekitar Rp4,3 triliun) dalam periode tersebut.

Kini, setelah 16 tahun berada di bawah kendali King Power, Leicester City bersiap memasuki babak baru.

Dari klub yang pernah menulis kisah dongeng dengan menjuarai Premier League, The Foxes kini justru berada di kasta ketiga dan menunggu pemilik baru.

King Power siap melepas Leicester. Ironisnya, klub yang dulu membuat dunia terpesona kini harus dijual setelah mengalami kemerosotan yang begitu drastis.

Bahkan beberapa pemain ternama pun lahir dari Leicester City, seperti Ngolo Kante, Riyad Mahrez, Harry Maguire hingga Jamie Vardy.

(Tribunnews.com/Ali)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.