Jet tempur F-5 milik Iran kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa pesawat itu diduga berhasil mendekati pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait.
Yang menarik perhatian, F-5 adalah pesawat tempur yang sudah berusia cukup tua.
Namun, Iran masih mengoperasikan dan memodifikasi sejumlah pesawat jenis ini.
Hal itu dilakukan di tengah embargo dan keterbatasan Iran dalam mendapatkan suku cadang serta teknologi militer dari luar negeri.
Dilansir dari Tribunnews.com pada Jumat (14/8), pesawat tua ini diklaim terbang di bawah 15 meter dari permukaan pada beberapa bagian penerbangannya.
Laporan tersebut terkait serangan yang terjadi pada Maret 2026 lalu.
Diketahui, taktik terbang rendah dapat membuat pesawat lebih sulit dideteksi radar, terutama ketika berada dekat dengan permukaan tanah.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi sistem pertahanan udara modern.
Sebab, radar memiliki keterbatasan dalam mendeteksi objek yang bergerak sangat rendah.
Lantaran terbang rendah, waktu yang tersedia bagi sistem pertahanan lawan untuk mendeteksi dan merespons ancaman juga menjadi lebih singkat.