Masuk Musim Kemarau Sungai di HSS Kalsel Mulai Mengering, Usaha Budidaya Ikan Mulai Terdampak
Irfani Rahman August 14, 2026 09:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Musim kemarau telah berdampak terhadap budidaya ikan di beberapa wilayah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Berdasarkan pantauan Banjarmasinpost.co.id di lapangan, kondisi perairan di sungai Kalumpang telah sangat menyurut, membuat beberapa keramba sampai menyentuh tanah, Jumat (14/8/2026).

Dihubungi terpisah, Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Distan PP) HSS  melalui Kabid Perikanan, Ahmad Fatmadiansyah membenarkan kondisi menurutnya air yang berdampak ke usaha budidaya ikan.

Dibeberkan Ahmad Fatmadiansyah, berdasarkan hasil pemantauan dan informasi dari penyuluh perikanan, dampak kekeringan terhadap usaha budidaya ikan terjadi di beberapa wilayah yang mulai dirasakan oleh pembudidaya dengan tingkat dampak yang berbeda-beda.

Baca juga: Daftar Nama 11 Pelamar Calon Sekda HSS yang Lolos Tahapan Administrasi, Ada dari Tapin dan Kotabaru

Baca juga: Cabuli Warga Alalak Utara Banjarmasin, Pria Asal Batola Dijerat Pasal UU TPKS dan KUHP

Ia merincikan, wilayah Kecamatan Daha Utara kondisi keramba pada umumnya masih relatif aman. 

“Di Desa Hakurung, usaha budidaya ikan dalam keramba berjalan normal dan belum ditemukan kejadian kematian ikan. Namun, dampak awal kekeringan mulai terlihat pada penurunan nafsu makan ikan, khususnya pada komoditas ikan grass carp (ikan koan),” katanya.

Akibat ini, pemberian pakan berkurang dibandingkan kondisi normal. Meski demikian, hingga saat ini belum terjadi kematian ikan maupun kerugian produksi yang signifikan.

Sementara itu,di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang kondisi kekeringan berdampak pada usaha budidaya ikan haruan dalam net tancap.

“Terdapat sekitar 10 unit net tancap terdampak, akibatnya sampai ada kematian ikan. Namun, sebagian ikan pada unit terdampak telah lebih dahulu dipanen sehingga kerugian dapat diminimalkan,” jelasnya.

Masih wilayah Kecamatan Kalumpang, tepatnya di Desa Balanti,  dampak kekeringan tergolong lebih berat.

Dari catatan pihak Distan PP HSS, sebanyak 20 unit keramba ikan haruan terdampak akibat menurunnya ketersediaan dan kualitas air. 

Kondisi tersebut menyebabkan benih ikan haruan yang dipelihara tidak dapat diselamatkan, jumlah kematian diperkirakan mencapai sekitar 6.000 ekor benih. 

“Kejadian ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya serta menghambat siklus produksi pada periode berikutnya,” bebernya.

Menurut Kabid Perikanan, secara keseluruhan, kekeringan telah memberikan dampak terhadap sektor budidaya perikanan.

“Mulai dari penurunan nafsu makan ikan hingga kematian ikan dan benih pada beberapa lokasi,” jelasnya.

Pihaknya kini terus melakukan pemantauan secara berkala, serta mengimbau pembudidaya untuk mengambil langkah antisipasi guna mengurangi risiko kerugian lebih besar saat terjadi kondisi kekeringan berlangsung dalam waktu lama.

(Banjarmasinpost.co.id/Adiyat Ikhsan)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.