Gita Wirjawan Usul Gaji Guru Rp30 Juta, Sebut Perlu Restrukturisasi Anggaran Pendidikan
raka f pujangga August 14, 2026 09:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Persoalan kualitas pendidikan di Indonesia menurut Gita Wirjawan tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan guru. 

Ia menilai, sulit berharap guru mampu mencetak generasi dengan ambisi dan imajinasi besar jika mereka sendiri masih dibebani persoalan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Gita Wirjawan menyampaikan pandangan tersebut saat diskusi buku What It Takes: Asia Tenggara, Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global di Creative Space Gramedia Jalma Pandanaran, Semarang, Jumat (14/8/2026).

Baca juga: Gramedia Jalma Buka Rumah Kedua di Semarang, Hadirkan Ruang Baru untuk Membaca dan Bersua

Menurut Gita, Indonesia memiliki sekitar 3,5 juta guru dan dosen. Namun, ia menyoroti masih rendahnya kompensasi yang diterima sebagian tenaga pendidik, khususnya guru honorer.

"Di Indonesia ada 3,5 juta guru, 3,5 juta guru dan dosen. Tapi mayoritas digaji Rp2,8 juta sebulan. Honorer ada yang Rp300.000 sebulan," ujar Gita.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kesejahteraan, tetapi berkaitan langsung dengan kemampuan guru menjalankan perannya dalam membentuk kualitas generasi muda.

"Mikir naruh makanan di atas meja saja susah. Gimana mikir untuk nyuntik ambisi, isi imajinasi dan keberuntungan cerdas," katanya.

Gita menjelaskan, ada tiga atribut yang perlu ditanamkan kepada anak muda untuk membangun masa depan, yakni ambisi, imajinasi, dan apa yang ia sebut sebagai keberuntungan cerdas.

Keberuntungan cerdas, menurutnya, bukan sekadar berharap mendapatkan hasil baik, melainkan keberuntungan yang dibangun melalui usaha dan persiapan.

Guru memiliki posisi penting untuk mengompensasi keterbatasan pendidikan yang mungkin dimiliki sebagian keluarga.

"Kalau orang tua ada keterbatasan, ya kita hanya bisa berharap bahwasanya guru yang bisa mengkompensasi defisiensi yang ada di rumah tangga," ujarnya.

Gaji Rp30 Juta untuk Guru

Gita bahkan menawarkan sebuah gagasan yang menurutnya dapat mengubah cara Indonesia merekrut talenta terbaik untuk menjadi guru.

Ia membayangkan apabila guru dan dosen mendapatkan penghasilan sekitar Rp30 juta per bulan.

"Saya punya eksperimen ide, kalau kita berani menggaji guru Rp30 juta, talenta-talenta terbaik di Indonesia bakal banyak banget mau jadi guru," kata Gita.

Menurut dia, besaran kompensasi akan berpengaruh terhadap kemampuan sebuah profesi menarik talenta terbaik.

Ia memberikan ilustrasi seorang lulusan Universitas Diponegoro dengan IPK 4,0 yang berasal dari Demak.

Jika lulusan tersebut mendapat tawaran bekerja di perusahaan teknologi dengan gaji lebih tinggi, ia kemungkinan akan memilih pekerjaan tersebut.

Namun, jika profesi guru mampu menawarkan penghasilan Rp30 juta per bulan, Gita meyakini pilihan itu dapat berubah.

Dengan pendapatan tersebut, menurutnya, seorang guru tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga memiliki alasan untuk kembali mengabdi di daerah asal.

Berkaca dari Singapura

Gita mengatakan peningkatan kompensasi guru juga perlu menjadi bagian dari kebijakan pemerintah.

Ia menilai hubungan antara besaran kompensasi dan kemampuan sebuah profesi merekrut talenta terbaik tidak dapat diabaikan.

"Saya rasa enggak bisa dipungkiri bahwasanya kompensasi dalam profesi apa pun itu berkorelasi dengan kapasitas untuk merekrut talenta yang terbaik," katanya.

Menurut Gita, pemerintah perlu melakukan kalibrasi ulang terhadap kompensasi guru.

Ia mencontohkan Singapura yang memberikan kompensasi relatif tinggi bagi profesi guru.

Menurutnya, kisarannya berada di atas 4.000 dolar Singapura per bulan dan dapat menjadi salah satu acuan bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

"Jadinya kita selalu berharap bahwasanya pemerintah akan lebih mau menyikapi rekalibrasi kompensasi guru sebaik-baiknya," ujarnya.

Ketika ditanya apakah hal tersebut berarti diperlukan restrukturisasi anggaran pendidikan, khususnya untuk meningkatkan gaji guru, Gita mengiyakan.

"Ujung-ujungnya ke sana," katanya.

Baca juga: Cerita Mahasiswa Semarang Temukan "Rumah Kedua" di Gramedia Jalma

Ia meyakini peningkatan kesejahteraan guru akan memberikan efek berantai terhadap kualitas pendidikan.

Jika jutaan guru dan dosen di Indonesia tidak lagi terus-menerus khawatir mengenai kebutuhan dasar, mereka dinilai akan memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan fungsi pendidikan secara optimal.

"Saya berkeyakinan kalau seorang guru dari Sabang sampai Merauke, masing-masing dari kurang lebih 3,5 juta guru dan dosen, kalau mereka enggak perlu khawatir untuk naruh makanan di atas meja, mereka akan lebih bisa menyuntik tiga atribut utama yang dibutuhkan untuk membuat kesuksesan di anak muda, yaitu ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas," tutur Gita. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.