Tak Cukup Bagikan Bibit, Pemerintah Didesak Fokus Rehabilitasi Lahan Kopi Gayo
Mawaddatul Husna August 14, 2026 11:54 PM

Laporan Wartawan TribunGayo.com Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh dinilai harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh terhadap sektor perkebunan Kopi Arabika Gayo. 

Pemulihan pascabencana diharapkan tidak sekadar berfokus pada penggantian tanaman yang rusak, melainkan menyasar pemulihan ekosistem lahan secara menyeluruh serta kepastian ekonomi para petani.

Penggiat Kopi Gayo sekaligus Founder Gayo Coffee Origin Institute, Putra Junrapico, menyampaikan bahwa dampak bencana hidrometeorologi tersebut telah merusak struktur tanah, sumber air, infrastruktur kebun, hingga mengganggu akses produksi masyarakat. 

Ia menegaskan bahwa penyelamatan ekosistem kebun dan kehidupan petani jauh lebih mendesak dibandingkan hanya sekadar membagikan bibit baru. 

“Tanpa perbaikan kualitas tanah, tata air, dan sistem budidaya, ancaman kerusakan akibat bencana serupa berpotensi kembali terjadi di masa mendatang,” kata Putra kepada TribunGayo.com, Jumat (14/8/2026).

Langkah Strategis Harus Berjalan Beriringan

Dalam proses pemulihan perkebunan Kopi Arabika Gayo, Putra menyoroti beberapa langkah strategis yang harus berjalan beriringan. 

Langkah awal dimulai dari rehabilitasi lahan berbasis kondisi biofisik, terutama memulihkan lapisan tanah atas pada kebun yang terdampak longsor dan erosi. 

Sistem budidaya di kawasan perbukitan juga perlu diperketat dengan prinsip konservasi tanah dan air.

Seperti penerapan terasering, pembuatan rorak, penggunaan tanaman penutup tanah, serta penanaman pohon penaung dan penguat lereng.

Selain itu, pendekatan pemulihan disarankan mengusung paradigma build back better guna menciptakan kebun yang tangguh terhadap perubahan iklim. 

Penggunaan bibit unggul harus dibarengi dengan pengelolaan pemupukan organik dan pengendalian hama yang berkelanjutan. 

Indikator keberhasilan program pascabencana pun dinilai tidak boleh berhenti pada kuantitas bantuan bibit semata.

Melainkan pada kebangkitan produktivitas, stabilitas pendapatan, dan penurunan beban biaya produksi keluarga petani.

Guna memastikan intervensi pemulihan tepat sasaran, pembentukan database spasial kebun terdampak bencana menjadi kebutuhan mendesak bagi daerah. 

Data peta lokasi dan tingkat kerusakan tersebut nantinya disinergikan dengan penguatan kelembagaan kelompok tani dan koperasi.

Sehingga petani berposisi sebagai pelaku utama pengelolaan pascapanen hingga pemasaran, bukan sekadar penerima bantuan. 

Di sisi lain, standar mutu, varietas, dan kaji telusur (traceability) Kopi Arabika Gayo tetap harus dijaga agar reputasinya sebagai produk specialty coffee internasional tidak tergerus.

Putra mengatakan bahwa momentum pascabencana ini memerlukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, akademisi, hingga pelaku usaha. 

Penanganan terpadu ini diharapkan tidak hanya menyembuhkan kerusakan kebun pascabencana, tetapi juga mampu memelihara masa depan dan identitas Kopi Gayo secara berkelanjutan. (*)

Baca juga: Mentan Amran Siap Genjot Hilirisasi Kopi Gayo ke Pasar Dunia

Baca juga: Tinjau Pembibitan di Bener Meriah, Mentan Pastikan Keberlanjutan 17 Juta Batang Kopi Gayo untuk Aceh

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.