TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Air mata bahagia tak mampu dibendung oleh Ismail (52) saat menyaksikan putri bungsunya, Assyfa Triqanaya, melangkah tegap dalam prosesi pengukuhan Calon Anggota Paskibraka Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) Tahun 2026 di Gedung Gabungan Dinas (Gadis) Tanjung Selor, Jumat (14/8/2026).
Mengenakan kemeja batik, pria berpenampilan tenang itu berdiri mengamati setiap jengkal gerakan sang anak. Rasa haru dan bangga membuncah di dadanya, mengakhiri rasa rindu yang terpendam selama satu bulan penuh.
Sejak Assyfa harus memboyong impiannya dari Nunukan untuk mengikuti karantina dan pelatihan terpusat di Tanjung Selor. Sejak saat itu, Ismail tak pernah lagi bertatap muka secara langsung dengan anak perempuan satu-satunya tersebut.
"Alhamdulillah, saya sangat terharu. Putri saya satu-satunya masuk Paskibraka provinsi, bahkan dia satu-satunya wakil dari SMAN 2 Nunukan Selatan. Kemarin harus ikut pelatihan terpusat di Tanjung Selor, dan hari ini pertama kalinya lagi saya bertemu putri saya setelah hampir satu bulan," ungkap Ismail dengan nada bergetar, Jumat (14/8/2026).
Bagi Ismail, merelakan sang bungsu pergi jauh dari rumah bukanlah perkara mudah. Namun, demi pembentukan karakter dan cita-cita sang buah hati, ia mengesampingkan ego kerinduannya sebagai orang tua.
"Ya, itulah namanya orang tua, pasti merindukan anaknya. Tapi untuk membentuk karakternya, kita relakan berpisah sementara," ujarnya bijak.
Baca juga: Kisah Assyfa Siswi Nunukan Tembus Paskibraka Kaltara 2026, Dipercaya Jadi Ibu Lurah
Keberhasilan Assyfa melangkah hingga ke tingkat provinsi tak lepas dari pola asuh disiplin yang diterapkan Ismail di rumah. Pria berusia 52 tahun ini mengungkapkan bahwa dirinya selalu memegang teguh prinsip kedisiplinan dan nilai-nilai agama dalam membesarkan anak-anaknya, termasuk Assyfa.
Sejak kecil, Assyfa ditanamkan pentingnya menghargai waktu, baik untuk belajar maupun beribadah.
"Kalau dukungan, saya termasuk orang tua yang sangat disiplin. Selalu mengingatkan tentang waktu, terutama waktu belajar dan shalat. Itu betul-betul saya terapkan mulai dari kakak-kakaknya sampai ke Assyfa ini," tuturnya.
Pondasi karakter tersebut makin diperkuat saat Assyfa menempuh pendidikan di SMP Ibnu Sina. Pilihan sekolah dasar agama tersebut dirasa Ismail menjadi pijakan penting yang membentuk kepribadian sang putri hingga hari ini.
"Kebetulan Assyfa saat SMP saya sekolahkan di Ibnu Sina, alhamdulillah soal agama dan akademis bisa berjalan beriringan. Yang paling pokok itu keimanan dan kedisiplinan, agar belajar dan ibadah tetap jadi prioritas utama," tambahnya.
Perjuangan Ismail tak berhenti di momen pengukuhan saja, ia memilih bertahan di Tanjung Selor hingga momen puncaknya tiba pada Upacara HUT ke-81 RI, 17 Agustus mendatang.
Ia ingin menyaksikan secara langsung detik-detik saat putri bungsunya bertugas mengibarkan bendera Merah Putih bersama 24 rekannya di hadapan para pejabat dan masyarakat Kalimantan Utara.
"Saya standby di Tanjung Selor sampai hari Senin, insyaAllah. Karena saya mau menyaksikan sendiri anak saya mengibarkan bendera di Kaltara ini," pungkasnya.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu