TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG SELATAN - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tercatat mencapai 124.688 kasus hingga minggu epidemiologi ke-30 tahun 2026.
Data tersebut tercantum dalam Bulletin Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel menegaskan angka 124.688 bukan jumlah kasus yang terjadi dalam satu minggu.
Kepala Dinkes Kota Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, menjelaskan angka tersebut merupakan akumulasi kasus ISPA yang tercatat sejak minggu epidemiologi pertama hingga minggu ke-30 tahun 2026.
Baca juga: Kebakaran Ponpes Putri Naajiyatul Ciputat Timur Tangsel, Api Membesar Diduga dari Sampah Dibakar
Sementara itu, jika melihat kasus pada satu pekan terakhir, terdapat 4.591 kasus ISPA pada minggu epidemiologi ke-30.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan minggu sebelumnya yang mencatat 3.832 kasus.
Dengan demikian, terjadi kenaikan kasus sekitar 19,8 persen dalam satu minggu.
"Kalau yang dilihat khusus pada minggu epidemiologi ke-30, tercatat 4.591 kasus. Angka ini meningkat dari 3.832 kasus pada minggu sebelumnya atau sekitar 19,8 persen," ujarnya.
Allin menjelaskan, minggu epidemiologi merupakan pembagian periode waktu yang digunakan dalam sistem surveilans kesehatan.
Pembagian tersebut bertujuan memudahkan petugas kesehatan memantau perkembangan suatu penyakit dari minggu ke minggu secara konsisten.
Karena itu, angka kasus pada minggu epidemiologi ke-30 memiliki arti berbeda dengan angka kumulatif sepanjang 2026 hingga periode tersebut.
"Jadi, total 2026 sampai M-30 dan kasus pada M-30 memiliki makna yang berbeda. Angka kumulatif tidak bisa disamakan dengan jumlah kasus dalam satu minggu," kata Allin.
SKDR digunakan untuk memantau perkembangan penyakit setiap minggu sekaligus mendeteksi secara dini adanya peningkatan kasus yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB).
Data tersebut kemudian dianalisis sebagai salah satu dasar untuk menentukan langkah kewaspadaan, investigasi, dan respons kesehatan masyarakat.
ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri.
Beberapa virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan antara lain influenza, rhinovirus, respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, parainfluenza, dan coronavirus.
“ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri. Beberapa di antaranya seperti virus influenza, rhinovirus, RSV, adenovirus, parainfluenza, dan coronavirus,” kata Allin.
Sementara itu, beberapa bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan antara lain Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.
Selain faktor infeksi, risiko ISPA juga dapat meningkat akibat paparan asap rokok, debu dan polusi udara, ventilasi yang kurang baik, serta kondisi lingkungan yang padat.
“Risiko ISPA dapat meningkat akibat paparan asap rokok, debu dan polusi udara, ventilasi yang kurang baik, serta kondisi lingkungan yang padat,” ujarnya.
Gejala umum yang dialami penderita ISPA antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, dan lemas.
Salah satu infeksi virus pada saluran pernapasan adalah influenza yang dapat menimbulkan gejala berupa demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, kelelahan, dan nyeri otot.
Untuk mencegah penularan ISPA, Dinkes Tangsel terus melakukan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai kanal.
"Edukasi dilakukan melalui puskesmas, Ngider Sehat, dan media sosial," ujar Allin.
Masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit.
“Masyarakat kami imbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit,” kata Allin.
Bagi masyarakat yang mengalami gejala ISPA, Dinkes mengimbau agar beristirahat dan membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko penularan.
"Masyarakat yang mengalami gejala ISPA, sebaiknya beristirahat dan membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko penularan," kata Allin.