Viral Olahan Kimpul, Pakar Unair Singgung Kandungan Gizinya saat Jadi Pengganti Nasi
GH News August 15, 2026 01:08 PM
Jakarta -

Kata 'kimpul' belakangan viral di media sosial, dimasak dengan berbagai hidangan, mulai dari mashed potato hingga seblak.

Di balik tren tersebut, kimpul ternyata merupakan tanaman umbi-umbian lokal yang masih satu keluarga dengan talas-talasan (Araceae). Umbi ini memiliki potensi sebagai salah satu sumber pangan bergizi.

Pakar gizi Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh SKM MKes, mengatakan kimpul berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif selain beras maupun singkong.

"Sebenarnya, potensi kimpul cukup besar sebagai sumber karbo alternatif, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran 'kalau belum makan nasi, berarti belum makan', sepertinya kimpul hanya lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti beras atau nasi," ujar Lailatul dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).

Menurut dia, kimpul memiliki potensi gizi yang baik, antara lain karena kandungan serat dan karakteristik patinya. Namun, kimpul masih menghadapi tantangan dari sisi penerimaan masyarakat, kepraktisan pengolahan, serta kebiasaan makan.

Bisa Diolah Jadi Tepung

Kimpul dapat dikonsumsi dengan cara sederhana, seperti dikukus atau direbus. Namun, menurut Lailatul, potensi terbesar justru terdapat pada pengolahannya menjadi tepung.

"Kimpul bisa dijadikan tepung. Tepung inilah yang menjadi olahan paling potensial karena dapat mensubstitusi terigu dan digunakan untuk berbagai macam bahan," katanya.

Tepung kimpul dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk pangan yang sudah familiar bagi masyarakat, seperti cookies, biskuit, brownies, cake, bolu hingga pancake.

Selain itu, tepung kimpul juga dapat diolah menjadi keripik dan stik. Kimpul juga dapat dikombinasikan dengan sumber protein untuk menghasilkan produk seperti bubur, makanan pendamping ASI (MPASI), hingga biskuit fortifikasi.

Lailatul menilai viralnya kimpul di media sosial dapat menjadi momentum untuk mengenalkan pangan lokal kepada masyarakat. Namun, tren tersebut berpotensi cepat hilang apabila kimpul hanya diposisikan sebagai sesuatu yang unik tanpa alasan bagi masyarakat untuk mengonsumsinya kembali.

"Terlebih jika kimpul diposisikan sebagai sesuatu yang unik tanpa ada alasan untuk mengonsumsinya kembali. Tetapi saat kimpul sedang tren, hal ini menjadi alarm baik karena dapat menjadi sorotan masyarakat untuk ikut penasaran dan mencoba," ujarnya.

Menurutnya, kimpul memiliki keunggulan karena relatif mudah didapatkan dan diolah. Jika masyarakat yang awalnya mencoba karena tren kemudian menyukainya, konsumsi kimpul dapat berkembang menjadi kebiasaan.

Hal tersebut dapat membuat fenomena viral menjadi pintu masuk untuk mendorong diversifikasi pangan.

"Menurut saya, tantangan diversifikasi pangan kimpul bukan pada ketersediaannya, tetapi cara mengubah kebiasaan preferensi konsumsi masyarakat yang sudah terbiasa makan nasi," katanya.

Pengolahan kimpul juga perlu diperhatikan, termasuk untuk mengurangi sensasi gatal yang dapat muncul saat mengonsumsi umbi tersebut.

Selain itu, diperlukan strategi agar produk berbahan kimpul dapat diterima berbagai kelompok usia, termasuk milenial, Gen Z hingga Gen Alpha.

Lailatul mengatakan momentum viral kimpul perlu dimanfaatkan bersama agar tidak berhenti sebagai konten media sosial.

"Kuncinya dengan mengubah viralitas menjadi kebiasaan," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.