Markus Waran Soroti Situasi Maybrat: Jangan Ada Lagi Penembakan, Tempuh Jalan Damai
Roifah Dzatu Azmah August 15, 2026 01:44 PM

Laporan Wartawan TribunPapuaBarat.com, Frans Tiwan

TRIBUNPAPUABARAT.COM.MANOKWARI - Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Doberai meminta pemerintah segera memberikan perhatian dan bantuan kepada masyarakat yang mengungsi akibat situasi keamanan di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Doberai, Markus Waran menyampaikan keprihatinannya menyusul informasi mengenai dugaan intimidasi dan penembakan terhadap tiga warga sipil asal Kampung Aifam, Distrik Aifat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat.

Markus mengatakan kondisi tersebut menambah kekhawatiran masyarakat yang sebelumnya telah mengungsi dan menunggu realisasi bantuan dari pemerintah.

Baca juga: Pupuk Kaltim Gelar Program Vokasi D3, 24 Peserta Fakfak Kuliah di ATI Makassar

Ia berharap janji Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, Pangdam, serta Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Pangkogabwilhan III) Maluku-Papua untuk memberikan perhatian kepada para pengungsi dapat segera diwujudkan.

"Kami berharap pemerintah segera hadir melihat kondisi pengungsi yang sudah dijanjikan akan didatangi oleh gubernur dan Pangdam. Jangan sampai kejadian penembakan seperti yang terjadi di wilayah Maybrat kembali terulang," kata Markus, Sabtu (15/8/2026).

Menurutnya, pendekatan keamanan terhadap masyarakat harus dilakukan secara humanis. Ia meminta aparat TNI menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat semakin memperburuk situasi di tengah masyarakat.

Markus juga mengimbau masyarakat untuk menyampaikan informasi yang benar kepada aparat, terutama dalam situasi operasi keamanan.

"Kalau memberikan informasi kepada pihak TNI, harus yang benar dan sebenarnya. Jangan sampai informasi yang tidak benar disampaikan seolah-olah benar sehingga masyarakat semakin terintimidasi," ujarnya.

Ia berharap aparat dapat mengedepankan komunikasi dan dialog dengan masyarakat adat sehingga persoalan di lapangan dapat diselesaikan tanpa kekerasan.

"Jangan melakukan penembakan secara membabi buta. Kita harus mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat," tegasnya.

Markus mengatakan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat Maybrat pada masa lalu menunjukkan bahwa masyarakat setempat pada dasarnya dapat hidup berdampingan dengan aparat keamanan.

Ia mengaku pernah mengunjungi wilayah tersebut pada masa pemerintahan Gubernur Papua Barat mendiang Abraham Octavianus Atururi. 

Baca juga: Jelang Pemilu, Polres Fakfak dan Bawaslu Bersinergi Kawal Demokrasi Aman dan Damai

Saat itu, menurutnya, masyarakat dan aparat dapat berinteraksi dengan baik tanpa terjadi kontak senjata.

"Ketika itu saya datang dan bertemu masyarakat. Ada umat Katolik, Protestan maupun GKI. Masyarakat bisa berinteraksi dengan baik. Kami juga pernah bertemu dengan anggota TNI dan tidak ada persoalan sampai kami kembali ke Sorong," tuturnya.

Karena itu, Markus menilai dialog antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat adat harus terus dibangun untuk mengetahui akar persoalan di lapangan.

Ia berharap proses negosiasi yang sebelumnya telah dilakukan dapat segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret, termasuk memastikan keamanan masyarakat serta memberikan ruang bagi pengungsi untuk kembali ke tempat tinggal mereka.

"Kalau ada persoalan, mari kita bicara baik-baik. Jalan damai harus dikedepankan. Dari situ kita bisa mengetahui sebenarnya siapa yang membuat kericuhan, apakah dari pihak TNI, masyarakat atau pihak lainnya," katanya.

Markus juga mengingatkan bahwa masyarakat Papua saat ini tengah bersiap memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca juga: 29 Mahasiswa IMPT Manokwari Diwisuda, Pengurus Pesan Jangan Lupakan Organisasi

Menurutnya, perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk menghadirkan rasa aman dan keadilan bagi seluruh masyarakat, bukan justru berlangsung di tengah penderitaan dan ketakutan.

"Rakyat merasakan penderitaan luar biasa. Kita merayakan kemerdekaan, tetapi masih ada rakyat yang hidup dalam penderitaan dan pengungsian, khususnya di Papua," ujarnya.

Ia pun mengajak pemerintah pusat, Pemerintah Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, pemerintah daerah, dan TNI untuk bersama-sama mencari solusi damai atas persoalan keamanan di Maybrat.

"Kami berharap pemerintah mempunyai hati yang lunak. Kita sudah merdeka, jangan sampai masih ada rakyat yang menjadi korban. Mari kita selesaikan dengan bicara dan jalan damai," pungkas Markus.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.