Dibintangi Arya Saloka, Film Munafik Tuntut Hafalan Tajwid dan Mantra Asli
Hari Susmayanti August 15, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Menjelang perilisan pada 3 September 2026, tahapan produksi film horor religi Munafik: Melawan Iblis terungkap menuntut dedikasi dan persiapan ekstrem dari jajaran pemerannya.

Mulai dari karantina hafalan ayat suci Al-Qur'an selama dua bulan penuh, pencarian titik temu antara syariat dan sinema, hingga keharusan melafalkan mantra pemanggil jin sungguhan, semua dilakukan demi mencapai akurasi tertinggi dalam adaptasi resmi dari film laris Malaysia karya Syamsul Yusof tersebut.

Tuntutan paling krusial terletak pada keabsahan elemen religi yang dibawakan oleh para aktor, khususnya Dimas Aditya (pemeran Ustaz Anwar) dan Arya Saloka (pemeran Ustaz Adam).

Dimas mengungkapkan, proses produksi di bawah arahan sutradara Guntur Soeharjanto ini memaksanya mencapai batas maksimal kemampuan karena pengawasan ketat terkait pelafalan ayat suci.

"Di Ustaz Anwar ini ternyata saya mencoba untuk trying to chase the limit, the highest limit, karena sebelumnya saya pernah memerankan ustaz, tetapi pendalamannya belum sampai sedalam yang sekarang. Karena di sini kami benar-benar diawasi oleh ustaz asli yang memang biasa merukiah," ujar Dimas ditemui di Yogyakarta, Sabtu (15/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa pelafalan ayat di dalam film tidak sekadar membaca teks, melainkan harus memenuhi kaidah ilmu tajwid secara sempurna.

Tuntutan kesempurnaan ini sempat memberikan tekanan psikologis bagi para aktor.

"Diajarkan tajwidnya, qalqalahnya, makhrajnya, semua itu banyak yang mungkin keliru atau belum tepat. Waktu awal itu saya tanya, ini maunya berapa persen? 100 persen, kata sutradaranya. Agak berdebar, karena ustaznya juga punya target yang sangat tinggi buat kami. Kami dan Arya yang selama ini berpikir bacaan Qur'an yang kami tahu seperti ini, ternyata banyak sekali kekeliruannya. Mulai dari melafalkan huruf hijaiyah dan macam-macam. Ini membuat kami belajar lagi," tuturnya.

Demi mengejar target tersebut, para aktor hanya memiliki waktu dua bulan yang diisi dengan kedisiplinan tingkat tinggi. Dimas menceritakan momen keputusasaan ketika harus bersaing dengan waktu.

"Sempat ada momen keputusasaan. Saya pernah bertanya ke ustaz, 'Ustaz punya murid-murid yang setiap hari setor hafalan, untuk mereka melafalkan secara sempurna bacaannya itu butuh berapa lama?' Bertahun-tahun, kata Ustaz. Nah, kami cuma punya waktu dua bulan untuk mengejar target itu. Setiap hari kami punya grup rahasia yang isinya saya, Arya, dan Ustaz Adi. Kalau bacaannya salah, kami harus mengulang dari awal selama dua bulan itu," ungkap Dimas.

Baca juga: Memanfaatkan AI untuk Mendukung Kreativitas dan Produktivitas

Selain hafalan, tantangan teknis dalam berakting juga muncul ketika Arya Saloka terlalu mendalami perannya menjadi seorang praktisi rukiah yang nyata, sehingga mengorbankan unsur dramatisasi yang dibutuhkan oleh sinema.

"Kekhawatirannya adalah ketika kami test cam, Arya berubah menjadi ustaz sungguhan yang ternyata jauh dari sisi sinema. Secara rukiah asli sebenarnya biasa sekali membacakannya. Ternyata di film, kami harus mendramatisasi adegan. Sampai sutradara bilang, 'Ini bagaimana caranya? Kalau kita bawa ini ke sinema, penonton tidak akan terikat dengan adegan ini'. Akhirnya barulah dia mulai mencari titik temu untuk sineas, tetapi kami juga tidak melupakan hal-hal syar'i yang harus dikedepankan ketika melakukan adegan rukiah," papar Dimas.

Detail dan spontanitas di lokasi syuting juga diuji. Dimas menceritakan kejadian saat Guntur secara mendadak mengubah pembagian dialog pembacaan Surah Al-Hasyr.

"Ada satu momen di mana harusnya saya yang membacakan ayat itu, akhirnya di lokasi diganti oleh Pak Guntur, Arya yang membaca. Arya kaget waktu itu karena ini bukan tugasnya. Namun, akhirnya dia hafal di momen itu. Dia mencoba membacakan dengan sempurna, Arya adalah aktor profesional dan dia bisa menyelesaikan itu," tegasnya.

Di sisi lain, pendekatan terhadap elemen mistis dalam film ini memberikan teror tersendiri di lokasi syuting.

Aktor senior Donny Damara, yang memerankan karakter Haji Mansyur, dihadapkan pada kewajiban merapalkan mantra berbahasa Jawa kuno yang memiliki makna harfiah mengundang entitas gaib.

"Bagi saya, tantangannya adalah pada saat saya harus memanggil dalam bahasa Jawa kuno. Saya memanggil setan, dan itu sungguhan memanggil setan dan roh jin. Sebelum membaca itu, saya membaca doa karena mantra yang digunakan memang mantra kuno dan ada artinya. Ternyata memang mantra dari Jawa kuno untuk memanggil setan," kata Donny.

Risiko spiritual tersebut memaksanya terus membentengi diri selama proses produksi.

"Saya agak berdebar sebenarnya karena itu sungguhan pada artinya. Jadi setiap kali saya take, setiap kali saya latihan, saya selalu membekali diri dengan istigfar, membaca Ayat Kursi. Itu tantangan pertama. Yang kedua adalah bagaimana ketika saya melakukan adegan berkelahi dengan Ustaz Adam," tambahnya.

Tantangan di lapangan juga dirasakan oleh pemeran anak-anak, Faqih Alaydrus (Amir). Mengambil latar pesisir dan hutan Jawa Timur, lingkungan alam justru menjadi sumber ketakutan utamanya dibanding unsur horor film itu sendiri.

Menutup penjabarannya, Dimas Aditya meluruskan stigma negatif yang kerap disematkan warganet terkait film adaptasi.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses pengembangan karakter dan penyesuaian cerita dilakukan secara legal, profesional, dan selalu di bawah pengawasan ketat pemegang hak cipta asli.

"Dari awal ada penyesuaian, dan setiap penyesuaian itu kami selalu berkonsultasi langsung dengan Skop Productions di Malaysia. Kalau mereka tidak menyetujui, kami tidak akan bisa mengeksekusinya. Yang selalu keliru dari netizen yang tidak tahu, disebut kita menjiplak. Bukan. Kita mendapat lisensi dari mereka. Malaysia sendiri bilang, 'Jangan samakan. Kalian harus punya warna sendiri, harus sesuai dengan kultur Indonesia'. Jadi pasti akan ada perubahan, apalagi set latar tempatnya berbeda sekali," pungkas Dimas.(*)
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.