TRIBUNJATIM.COM - Tidur siang seharusnya membantu tubuh kembali bugar setelah beraktivitas sejak pagi.
Namun, tak sedikit orang justru terbangun dengan kepala pusing atau terasa berdenyut.
Kondisi ini umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Salah satu penyebabnya bisa karena tidur terlalu lama sehingga tubuh terbangun saat masih berada dalam fase tidur yang lebih dalam.
Lantas, apa saja penyebab pusing setelah tidur siang dan bagaimana cara mengatasinya?
Konsultan Neurologi dari Kokilaben Dhirubhai Ambani Hospital, Mumbai, Dr. Tushar Raut mengatakan, sakit kepala setelah tidur siang dapat dipicu sejumlah faktor.
“Sakit kepala setelah tidur siang biasanya disebabkan oleh beberapa pemicu umum,” ujar Dr. Raut, seperti dikutip Only My Health, Jumat (14/8/2026), melansir Kompas.com.
Salah satu penyebabnya adalah tidur terlalu lama.
Tidur siang lebih dari 30-40 menit berpotensi membuat tubuh masuk ke fase tidur lebih dalam.
Ketika seseorang terbangun secara tiba-tiba dari fase tersebut, tubuh dapat mengalami sleep inertia, yaitu kondisi ketika seseorang merasa sangat mengantuk, lemas, atau tidak sepenuhnya sadar setelah bangun.
Selain itu, tidur siang terlalu lama juga dapat mengganggu pola tidur pada malam hari.
Gangguan tersebut pada akhirnya bisa memengaruhi kualitas tidur dan meningkatkan risiko sakit kepala.
Baca juga: Duo Pemain Prancis Minta Tambahan Libur, Persiapan Skuad AC Milan Bikin Pelatih Pusing
Pusing setelah tidur siang tidak selalu berkaitan dengan durasi tidur.
Kondisi tubuh sebelum tidur juga dapat berpengaruh.
Dehidrasi, misalnya, bisa membuat sakit kepala terasa setelah bangun. Kebutuhan cairan tubuh tetap berlangsung ketika seseorang tidur.
Oleh karena itu, kurang minum sepanjang hari dapat semakin terasa ketika bangun dari tidur siang.
Posisi tidur juga perlu diperhatikan. Tidur dalam posisi yang membuat leher atau bahu tertekuk dapat menimbulkan ketegangan otot. Ketegangan tersebut kemudian dapat memicu sakit kepala tipe tegang.
Waktu tidur juga berperan.
Tidur siang terlalu sore dapat mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.
Akibatnya, tidur malam bisa menjadi kurang optimal dan memengaruhi kondisi tubuh keesokan harinya.
Pada sebagian orang, tidur siang juga dapat memicu perubahan aktivitas pembuluh darah di otak yang berkaitan dengan pola sakit kepala atau migrain.
Baca juga: Bintang AC Milan Berulah, Bikin Pusing Timnas Portugal Jelang Piala Dunia 2026, Sanksi Menghantui
Menurut Dr. Raut, sakit kepala setelah tidur siang yang hanya sesekali umumnya tidak serius.
Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian jika terjadi berulang atau terasa semakin berat.
Pemeriksaan medis diperlukan jika sakit kepala terasa sangat parah, berbeda dari biasanya, atau disertai mual, gangguan penglihatan, kebingungan, maupun kelemahan tubuh.
Kebiasaan mendengkur keras, terbangun sambil terengah-engah, atau adanya jeda napas saat tidur juga patut diperhatikan karena dapat menjadi tanda sleep apnea.
Selain itu, sakit kepala yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau menunjukkan perubahan pola secara tiba-tiba sebaiknya tidak diabaikan.
Untuk mengurangi kemungkinan sakit kepala, Dr. Raut menyarankan tidur siang selama 15-20 menit agar tubuh tidak masuk terlalu dalam ke fase tidur.
Tidur siang juga sebaiknya dilakukan lebih awal, bukan menjelang sore atau malam.
Pastikan kebutuhan cairan sepanjang hari terpenuhi dan gunakan posisi tidur yang menopang leher dengan baik.
Hindari tidur siang tepat setelah makan dalam porsi besar.
Jika tidur siang dilakukan secara rutin, jadwal yang konsisten juga dapat membantu tubuh beradaptasi.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com