Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung — Seorang perempuan mengenakan pakaian berwarna hijau lengkap dengan apron merah terlihat sedang membentuk adonan combro menjadi bentuk lonjong.
Baca juga: Hobi Makan Combro Jadi Usaha Keluarga: Combro Comel Terjual Hingga 1.000 per Hari
Aktivitas tersebut berlangsung di booth Combro and Sis, yang berlokasi di seberang Chamart, Jalan Ratu Dibalau No. 24, Tanjung Senang, Kecamatan Tanjung Senang, Kota Bandar Lampung, Lampung 35135, Sabtu (15/8/2026).
Nurma Amalinda (26), pemilik Combro and Sis, usaha kuliner yang mencoba membawa combro ke tengah selera generasi muda. Usaha tersebut dibangun Nurma bersama pasangannya, Nicko.
Inspirasi usaha berawal dari keresahan Nurma karena Lampung merupakan salah satu produsen singkong terbesar di Indonesia.
“Awalnya kita mau jual gorengan biasa. Tapi kemudian kepikiran, kenapa tidak satu produk saja yang semua orang tahu? Akhirnya kita kepikiran combro untuk berjualan combro karena Lampung merupakan salah satu produsen singkong terbesar di Indonesia,” ujar Nurma Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, singkong dipilih karena merupakan bahan pangan yang dekat dengan masyarakat Lampung.
Dari sana, ia ingin mengolah makanan tradisional tersebut menjadi produk yang lebih modern dan mudah diterima generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Alpha.
Seiring berjalannya waktu, Nurma bukan sekadar menjual combro dengan isian yang familiar, Nurma mencoba berinovasi dan memberikan sentuhan berbeda.
Saat ini, Combro and Sis memiliki enam varian, yakni oncom pedas, ayam pedas, tempe pedas, bakso pedas, cokelat, dan keju.
“Biasanya combro hanya berisi oncom pedas, kini saya inovasikan dengan berbagai isian mulai dari bakso pedas hingga yang isian manis seperti cokelat lumer,” jelasnya.
Mengusung konsep sederhana dengan harga yang ramah di kantong, produk Combro & Sis dibanderol mulai dari Rp2.000 hingga Rp2.500 per buah.
Dari enam varian yang ditawarkan, varian dengan isi oncom pedas menjadi salah satu yang paling banyak diminati.
Menurut Nurma, rasa tersebut menjadi pilihan yang cukup familiar bagi konsumen karena identik dengan combro itu sendiri.
Sementara varian seperti ayam pedas, bakso pedas, tempe pedas, cokelat, dan keju menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
Ide menghadirkan beragam isian tersebut juga muncul dari makanan-makanan lain yang sudah lebih dahulu populer di kalangan masyarakat.
“Beberapa varian terinspirasi dari isian makanan lain, seperti cireng atau tahu, kemudian kita coba kolaborasikan kira-kira cocok tidak kalau dimasukkan ke combro,” jelasnya.
Membangun usaha kuliner ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Nurma dan Nicko membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan berbagai hal, mulai dari mencari lokasi, lapak, kontainer, hingga meracik menu.
Bahkan setelah usaha mulai berjalan, proses mencari rasa yang pas masih terus dilakukan.
Pada masa awal berjualan, beberapa produk masih dirasa kurang sempurna, baik dari tingkat keasinan maupun komposisi rasa. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Nurma berhenti.
Ia memilih tetap berjualan sembari melakukan evaluasi dan memperbaiki produknya secara bertahap.
“Awal-awalnya masih ada yang kurang, masih keasinan dan segala macam. Tapi dari situ kita belajar terus memperbaiki sampai akhirnya menemukan rasa yang pas dan harus konsisten,” katanya.
Kini, usahanya tersebut telah memasuki sekitar enam bulan perjalanan. Seperti kebanyakan usaha yang baru dirintis, perjalanan Combro and Sis juga tidak selalu ramai.
Nurma mengaku pernah mengalami hari-hari ketika pembeli sangat sedikit. Kondisi tersebut semakin terasa ketika mereka mulai masuk ke platform penjualan online karena membutuhkan waktu untuk mendapatkan pelanggan.
Bagi pengusaha muda, situasi seperti itu tentu menjadi ujian tersendiri. Namun, Nurma berusaha mengingat kembali alasan awal mereka membangun usaha.
Baginya, Combro and Sis bukan hanya tentang mencari keuntungan. Ada keinginan untuk ikut melestarikan makanan tradisional sekaligus membuka peluang pekerjaan di kemudian hari.
“Kalau untuk konsisten, kita harus ingat tujuan pertama membuka usaha ini untuk apa. Untuk melestarikan dan membuka lapangan pekerjaan. Jadi ya tetap jalan,” ujarnya.
Dari usaha tersebut, Nurma menyebut omzet yang diperoleh saat ini berada di kisaran Rp1 jutaan per bulan, meski jumlahnya dapat berubah-ubah.
Sebab sedang merintis usahanya, Nurma tidak hanya berjualan di Booth miliknya. Saat hari Minggu, ia juga berjualan di Unila dan juga Itera saat pagi hari dan berjualan di booth miliknya pada siang hari.
Semuanya masih ia lakukan berdua dengan Nicko, dari mulai proses pembuatan hingga penjualan.
Nurma juga mengatakan tantangannya dalam membangun usaha ialah harga bahan baku yang sedang melejit tinggi.
“Saat ini bahan-bahan sedang tinggi, sebagai UMKM sedikit menekan keuntungan kami,” ucapnya.
Meski demikian, berbagai tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar bagi Nurma dan Nicko.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)