TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Bulan Agustus biasanya menjadi masa panen bagi pedagang bendera dan atribut kemerdekaan. Namun, suasana berbeda dirasakan sejumlah pedagang musiman di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia.
Alih-alih dipadati pembeli, lapak-lapak yang menjual Bendera Merah Putih, umbul-umbul hingga berbagai dekorasi kemerdekaan justru masih terlihat sepi.
Kondisi ini membuat pedagang harus menerima kenyataan bahwa penjualan tahun ini jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Anton, salah seorang pedagang yang berjualan di sekitar Jalan A Yani, dekat Taman Ikon Jelawat Sampit, mengatakan kondisi tahun ini merupakan yang terparah selama lebih dari 10 tahun dirinya berjualan atribut kemerdekaan.
Ia menyebut penjualan mengalami penurunan lebih dari 50 persen.
Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat mulai terasa sejak pandemi Covid-19 dan semakin diperparah dengan menjamurnya toko daring yang menawarkan harga lebih murah serta pembelian secara grosir.
“Sudah lebih dari 10 tahun saya jualan seperti ini. Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini yang paling sepi. Penurunannya lebih dari 50 persen,” ujar Anton, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Anton, persaingan dengan toko online menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pedagang kecil seperti dirinya.
Konsumen kini bisa mendapatkan bendera maupun atribut kemerdekaan dari rumah dengan pilihan lebih banyak dan harga yang terkadang lebih murah.
Kondisi itu paling terasa dalam beberapa hari terakhir. Anton mengatakan dalam sehari dirinya terkadang hanya mampu menjual satu hingga dua barang.
Padahal, harga jual sebagian besar produk yang ditawarkannya masih relatif sama dengan tahun sebelumnya.
“Yang berubah bukan harga jualnya, tetapi sekarang orang lebih banyak belanja ke mana. Kalau dulu datang langsung ke pedagang, sekarang banyak yang pesan online,” katanya.
Gambaran serupa juga disampaikan Farida, pedagang atribut kemerdekaan lainnya di Sampit.
Ia mengatakan penjualan sebenarnya sempat meningkat sejak awal Agustus, tetapi mulai kembali menurun mendekati puncak perayaan 17 Agustus.
“Penjualan sempat ramai sejak 1 Agustus, tetapi lama-lama permintaannya menurun. Tahun ini bisa dibilang masih lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya,” ucap Farida.
Jika tahun lalu Farida mampu meraup omzet sekitar Rp6 juta hingga satu pekan sebelum 17 Agustus, tahun ini angka tersebut baru mencapai sekitar Rp3 juta. Penurunan omzet itu membuat dirinya lebih berhati-hati dalam menyiapkan stok.
Baca juga: Kesusahan Lepas Tali Bendera Nyangkut, Siswa SMKN 2 Sampit Kotim Minta Bantuan Petugas Damkar
Baca juga: Bendera Setengah Tiang, Pemko Palangka Raya Gelar Penghormatan Terakhir untuk Mofit Saptono
Tahun lalu, persediaan yang disiapkannya mencapai ratusan unit. Sementara tahun ini, ia hanya berani menyediakan stok dalam jumlah puluhan unit karena khawatir barang tidak habis terjual setelah momentum kemerdekaan berakhir.
Harga atribut kemerdekaan yang dijual para pedagang berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp400.000, tergantung jenis dan ukuran. Sejumlah produk juga mengalami kenaikan harga dibandingkan tahun lalu.
Untuk bendera, misalnya, yang sebelumnya sekitar Rp20.000 kini dijual sekitar Rp30.000. Sementara umbul-umbul yang sebelumnya Rp25.000 kini berada di kisaran Rp30.000