Pengeluaran Rokok Penduduk Lampung Lampaui Belanja Pangan Bergizi dan Pendidikan
Robertus Didik Budiawan Cahyono August 15, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pengeluaran rokok masih menjadi salah satu pos belanja yang diprioritaskan oleh banyak rumah tangga di Lampung, bahkan ketika kondisi ekonomi keluarga terbatas.

Baca juga: Tukang Bangunan di Lampung Jatah Rp 15 Ribu untuk Beli Rokok per Hari, Istri Protes Minta Dikurangi

Berdasar data pola konsumsi penduduk Lampung 2025, rata-rata pengeluaran untuk rokok mencapai Rp98.242 per kapita per bulan. Atau setara 7,93 persen dari total rata-rata pengeluaran.

Sedangkan rata-rata pengeluaran penduduk Lampung mencapai Rp1.239.613 per kapita per bulan.

Pengeluaran untuk rokok ini ternyata menempati urutan kedua pengeluaran penduduk setelah beras. Adapun pengeluaran untuk beras mencapai 19,83 persen di perkotaan.

Sementara pengeluaran penduduk untuk telur ayam ras 4,86 persen, tempe 2,65 persen, roti 2,52 persen, kopi 2,51 persen, dan bawang merah 2,27 persen. Sehingga pengeluaran untuk rokok lebih besar daripada pengeluaran kebutuhan berbagai pangan itu.

Dewi Ayu, Dosen Sosiologi Keluarga FISIP Unila mengatakan, pengeluaran rumah tangga untuk rokok kerap mengurangi alokasi anggaran bagi kebutuhan yang lebih penting. Tidak hanya mengurangi dana untuk kebutuhan pangan bergizi, melainkan juga pendidikan anak, layanan kesehatan, dan tabungan keluarga.

"Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga berpotensi memperkuat siklus kemiskinan. Dana yang seharusnya digunakan untuk investasi keluarga atau meningkatkan kualitas hidup justru habis untuk konsumsi yang tidak produktif," ujarnya, Sabtu (15/8/2026).

Jumlah Perokok di Lampung Cukup Besar

Tingginya pengeluaran rokok berada dalam konteks jumlah perokok yang juga cukup besar di Lampung. 

Berdasarkan Susenas Maret 2025 yang dimuat dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Lampung 2025, sebanyak 32,61 persen penduduk usia 15 tahun ke atas tercatat merokok tembakau setiap hari.

Sebanyak 1,63 persen lainnya merokok tembakau tetapi tidak setiap hari. Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, sebanyak 34,24 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Lampung tercatat merokok tembakau.

Sementara penggunaan rokok elektronik jauh lebih rendah. BPS mencatat 0,36 persen penduduk usia 15 tahun ke atas menggunakan rokok elektronik setiap hari dan 0,31 persen menggunakannya tidak setiap hari.

Berdasarkan kabupaten/kota, persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok tembakau setiap hari tertinggi tercatat di Pesisir Barat sebesar 38,45 persen.

Kemudian Lampung Barat 37,98 persen dan Tulangbawang 37,09 persen. Sebaliknya, persentase terendah tercatat di Bandar Lampung sebesar 27,22 persen dan Metro sebesar 27,52 persen.

Rokok Jadi Bagian Budaya yang Diwariskan

Dosen Sosiologi Keluarga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila), Dewi Ayu, menjelaskan bahwa kebiasaan merokok telah menjadi bagian dari budaya yang diwariskan dalam lingkungan keluarga maupun pergaulan sosial.

"Rokok saat ini telah bergeser, tidak hanya sebagai barang konsumsi, tetapi sudah dianggap sebagai kebutuhan yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini sudah mengakar dan menjadi habit yang terbentuk sejak lama," ujarnya.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada laki-laki. Dalam beberapa tahun terakhir, perempuan yang merokok juga semakin banyak dan mulai dianggap sebagai hal yang lumrah oleh sebagian masyarakat.

Dewi Ayu menilai tingginya konsumsi rokok di masyarakat, termasuk di Lampung, dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Selain kebiasaan yang diwariskan dari lingkungan keluarga dan sosial, rokok masih dipandang sebagai simbol keakraban, sarana berinteraksi, hingga penanda diterimanya seseorang dalam kelompok pergaulan.

Di sisi lain, faktor ketergantungan terhadap nikotin juga membuat banyak orang sulit menghentikan kebiasaan tersebut.

Varian Baru Picu Konsumsi Rokok Meningkat

Ia menambahkan, pola konsumsi rokok kini semakin meningkat karena munculnya berbagai varian baru, seperti vape atau rokok elektrik.

Kehadiran produk tersebut membuat aktivitas merokok tidak lagi hanya didorong oleh ketergantungan, tetapi juga menjadi bagian dari tren gaya hidup.

"Vape maupun rokok elektrik sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang modern, keren, dan dapat meningkatkan penerimaan seseorang dalam komunitas tertentu.

Faktor fear of missing out (FOMO) juga ikut mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut mengonsumsinya agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan pergaulannya," jelasnya.

Dari perspektif sosiologi keluarga, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumsi rokok bukan hanya persoalan individu, melainkan dipengaruhi kuat oleh nilai, norma, dan budaya yang berkembang di masyarakat.

Alokasi Anggaran Bagi Kebutuhan Lebih Penting Berkurang

Akibatnya, pengeluaran rumah tangga untuk rokok kerap mengurangi alokasi anggaran bagi kebutuhan yang lebih penting, seperti pangan bergizi, pendidikan anak, layanan kesehatan, maupun tabungan keluarga.

"Dampaknya tidak hanya ekonomi. Secara sosial, kesejahteraan keluarga ikut menurun karena kebutuhan yang lebih penting harus dikorbankan. Dari sisi kesehatan, risiko penyakit meningkat, baik bagi perokok maupun anggota keluarga yang menjadi perokok pasif," katanya.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga berpotensi memperkuat siklus kemiskinan. Dana yang seharusnya digunakan untuk investasi keluarga atau meningkatkan kualitas hidup justru habis untuk konsumsi yang tidak produktif.

Edukasi Pengelolaan Keuangan Keluarga

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dewi Ayu menilai diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, bukan sekadar larangan merokok.

Ia mendorong adanya edukasi mengenai pengelolaan keuangan keluarga agar masyarakat memahami besarnya pengeluaran rokok dalam jangka panjang.

Selain itu, kampanye berhenti merokok perlu disertai layanan pendampingan sehingga masyarakat memiliki dukungan untuk benar-benar menghentikan kebiasaan tersebut.

Program pengalihan belanja rokok menjadi tabungan pendidikan anak, dana kesehatan, maupun modal usaha juga dinilai dapat menjadi alternatif yang efektif.

Menurutnya, keluarga memiliki peran paling penting dalam memutus rantai kebiasaan merokok.

"Yang paling utama adalah menghilangkan kebiasaan merokok dari lingkungan keluarga. Keluarga seharusnya menjadi tempat yang membangun budaya hidup sehat, bukan justru menciptakan perilaku tidak sehat," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak belajar melalui proses imitasi atau meniru perilaku orang-orang terdekatnya.

Ketika orang tua atau anggota keluarga terbiasa merokok, anak berpotensi menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal hingga akhirnya menirunya di kemudian hari.

Karena itu, fungsi keluarga sebagai institusi yang menjaga kesehatan seluruh anggotanya perlu diperkuat.

Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan memperkuat berbagai kebijakan pengendalian konsumsi rokok serta menciptakan lebih banyak lingkungan sosial yang mendukung gaya hidup sehat dan bebas asap rokok.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.