SRIPOKU.COM,PALEMBANG — Bau sangit yang menusuk hidung dan kabut tipis yang menyelimuti pandangan mata masih menjadi bagian dari keseharian warga di sejumlah sudut Sumatera Selatan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa beberapa wilayah terus memukul kualitas udara, memaksa ribuan orang bernapas di bawah bayang-bayang ancaman kesehatan.
Namun, Sabtu (15/8/2026) membawa sedikit angin segar. Peta pemantauan Indeks Kualitas Udara (AQI) menunjukkan tren perbaikan.
Jika hari-hari sebelumnya zona merah mendominasi, kini kawasan dengan predikat udara "tidak sehat" tersebut mulai menyusut dan hanya menyisakan tiga daerah.
Sementara itu, wilayah lain seperti Sekayu, Indralaya, hingga Kota Palembang kini berada di zona orange berstatus sedang menuju tidak sehat bagi kelompok sensitif. Sebuah sinyal positif, walau masker belum sepenuhnya bisa ditanggalkan.
"Meskipun masih di rentang tidak sehat, penurunan jumlah daerah zona merah ini memberi sedikit napas lega di tengah kepungan asap," menjadi cerminan kondisi terkini di lapangan.
Di balik membaiknya kondisi di beberapa titik, tiga daerah ini masih harus bertarung keras melawan udara beracun.
Berdasarkan pemantauan AQI per Sabtu (15/8/2026), berikut wilayah yang masih tertahan di zona merah:
Talang Ubi menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk. Angka 188 menunjukkan tingkat pencemaran yang tebal dan sangat berisiko bagi kesehatan respirasi warga, terutama anak-anak dan lansia.
Menyusul di posisi kedua, Lahat merangsek naik ke zona tidak sehat dengan angka 154. Kabut asap tipis terpantau masih sering menggantung di kawasan pemukiman.
Muara Beliti belum beranjak dari papan atas wilayah berudara buruk. Dengan skor 153, daerah ini melengkapi tiga besar wilayah Sumatera Selatan yang masih terbelenggu status merah.
Bagi warga Kota Palembang, Sekayu, dan Indralaya, pergeseran status ke zona orange membawa kelegaan tersendiri.
Aktivitas masyarakat di luar ruangan mulai berangsur normal, meski imbauan untuk tetap waspada dan mengenakan masker saat beraktivitas di pagi atau malam hari masih terus digalakkan.
Perjuangan memadamkan titik-titik api di lahan gambut dan kawasan rawan karhutla masih terus berlanjut.
Penurunan zona merah ini menjadi bukti bahwa upaya penanggulangan mulai membuahkan hasil, meski kewaspadaan penuh tetap dibutuhkan hingga langit Sumatera Selatan benar-benar kembali biru bersih.