Laporan Wartawan TribunBanten.com, Ade Feri Anggriawan
TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL–Teknologi nuklir hingga kini masih kerap dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang berkaitan dengan senjata.
Padahal, teknologi nuklir memiliki pemanfaatan yang jauh lebih luas, mulai dari kesehatan, pertanian, pangan hingga kebutuhan industri.
Hal inilah yang ingin diperkuat oleh Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) melalui kepengurusan barunya.
Ketua HIMNI Profesor Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, organisasi tersebut ingin memperluas pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan teknologi nuklir.
Menurut Djarot, HIMNI tidak ingin nuklir hanya dikenal melalui isu pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) maupun persenjataan, melainkan pada hal yang lebih luas seperti sektor kesehatan hingga pertanian.
"Kita tidak mempopulerkan nuklir untuk senjata, tapi untuk perdamaian," kata Djarot, usai acara pengukuhan dan penyampaian program kerja kepengurusan HIMNI, di Gedung Technology Business Incubation Center BRIN, di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangsel, Sabtu (15/8/2026).
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bahwa saat ini pemanfaatan teknologi nuklir sebenarnya sudah mencakup berbagai bidang.
Di sektor kesehatan misalnya, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan melalui radioisotop untuk mendukung pengobatan, termasuk penanganan penyakit kanker.
Sementara di bidang pertanian, teknologi nuklir dapat digunakan untuk menghasilkan benih unggul dengan produktivitas tinggi.
Pemanfaatan tersebut, kata Djarot, perlu kembali didorong untuk mendukung ketahanan pangan.
"Benih unggul padi yang dulu kan mungkin kita kenalkan tapi sudah beberapa tahun terakhir ini agak mereda, itu kita munculkan kembali untuk mendukung ketahanan pangan pemerintah," ujarnya.
Tak berhenti di sana, HIMNI juga melihat peluang pemanfaatan teknologi nuklir pada sektor pangan.
Salah satunya melalui iradiasi yang dapat digunakan untuk pengawetan makanan.
Djarot yang juga Anggota Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini menyebut, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pengawetan makanan dengan iradiasi itu bisa kita pakai untuk mendukung program MBG-nya pemerintah, misalnya," katanya.
Baca juga: Inovasi NIB-NOP Kantor Pertanahan Tangsel Diadopsi 6 Provinsi, Ini Dampaknya bagi Data dan Pajak
Di sektor industri, teknologi nuklir juga dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi suatu material.
Salah satunya melalui uji tak rusak untuk mengetahui apakah terdapat keretakan pada benda atau komponen tertentu.
Karena itu, Djarot menegaskan bahwa arah HIMNI ke depan tidak hanya berfokus pada pembangunan PLTN.
"Goal-nya tidak hanya PLTN. Tapi bagaimana pemanfaatan nuklir bisa mencakup banyak sektor," ucap mantan Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) ini.
Adapun untuk memperluas pemanfaatan tersebut, HIMNI telah menyiapkan sejumlah program kerja dalam lima tahun ke depan.
Fokusnya antara lain memperbanyak anggota, memperluas cabang organisasi di daerah, serta membentuk organisasi anak muda.
Langkah itu dinilai penting agar pengetahuan mengenai nuklir tidak hanya berada di kalangan ilmuwan atau lembaga tertentu.
"Dengan makin banyak cabang, maka akan semakin banyak masyarakat yang tahu dan paham tentang teknologi nuklir. Karena itu, kita juga ingin membuat cabang organisasi anak muda," tutur Djarot.
Ia berharap, ke depan semakin banyak masyarakat dari berbagai latar belakang ikut memahami teknologi nuklir.
Menurutnya, seseorang tidak harus memiliki latar belakang sebagai ilmuwan nuklir untuk ikut berperan dalam mengenalkan pemanfaatan teknologi tersebut.
"Enggak mesti seorang profesor atau doktor nuklir. Pokoknya berminat dengan nuklir bisa bergabung," katanya.
"Dan untuk bergabung ke HIMNI bisa daftar langsung di website kami di himni.org. Kita tidak ada ujian, pokoknya suka dengan nuklir bisa jadi anggota," pungkasnya.