SURYA.CO.ID - Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 resmi dimulai. Gelaran bergengsi tahun ini hadir dengan cakupan yang lebih luas, memberikan kesempatan bagi grup jaranan dari berbagai penjuru tanah air untuk unjuk bakat di Bumi Menak Sopal.
Koordinator FJTT 2026, Rhesajaya, mengungkapkan bahwa tahun ini terdapat tiga kategori utama yang diperlombakan. Kategori tersebut dirancang untuk merangkul berbagai tingkatan usia, mulai dari pelajar hingga kategori umum tingkat nasional.
Pembagian kategori dalam FJTT 2026 dibagi menjadi tiga kelompok besar, yakni:
"Untuk kategori yang dilombakan ada Festival Jaranan Turonggo Yakso tingkat bocah dan remaja. Di dalamnya ada SD atau MI, lalu SMP atau MTs," ujar Rhesajaya kepada media, Sabtu (15/8/2026).
Untuk kategori umum dan SMA, panitia menegaskan bahwa kompetisi ini sudah berskala nasional. Artinya, peserta tidak hanya terbatas dari wilayah Jawa Timur saja.
"Untuk yang tingkat umum dan SMA kita membuka bebas dan tidak hanya di Jawa Timur. Ini kelasnya sudah nasional, jadi dari mana saja boleh bergabung dengan kami," ulas alumnus Universitas Negeri Surabaya tersebut.
Baca juga: Panduan Wisata dan Harga Tiket Wahana Air di Pantai Mutiara Trenggalek
Meski terbuka untuk umum, panitia FJTT 2026 menerapkan pembatasan kuota demi menjaga kualitas penyelenggaraan. Berikut detail kuotanya:
Selain kuota, durasi pementasan juga diatur secara ketat.
"Peserta kategori bocah dan remaja diberi waktu tampil maksimal delapan menit," papar Rhesajaya.
Mengingat antusiasme yang tinggi, ia menyarankan agar tim yang berminat segera mendaftarkan diri.
"Yang pertama, segeralah mendaftar karena kuotanya sangat-sangat terbatas," tegasnya.
Hingga saat ini, persiapan fisik dan teknis FJTT 2026 dilaporkan telah mencapai 45 persen.
Sebagai rangkaian pra-acara, panitia telah sukses menggelar Sambang Bolo Jaranan (Samboja) di enam kecamatan di Trenggalek.
Program Samboja ini bertujuan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya belum mengirimkan perwakilan, sekaligus menjadi sarana riset budaya. Melalui diskusi dengan para sesepuh dan pegiat lokal, panitia menemukan banyak data sejarah baru.
Tahun ini, FJTT 2026 mengusung misi besar untuk memperkuat identitas lokal Trenggalek melalui kesenian Turonggo Yakso.
Unsur visual seperti motif bunga sulur dan bunga cengkeh akan mendominasi materi publikasi sebagai representasi daerah agraris.
"Di tahun ini kita lebih menekankan pada identitas Kabupaten Trenggalek, khususnya Jaranan Turonggo Yakso. Harapannya kami juga mengangkat identitas Trenggalek sebagai kabupaten yang agraris," pungkasnya.