Kemarau Panjang Bikin Petani di OKI Gigit Jari, Biasa Panen Gabah 4 Ton Kini Anjlok Tak Sampai 1 Ton
Slamet Teguh August 15, 2026 08:01 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG – Petani sawah di Desa Batun Baru, Kecamatan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, hanya bisa mengelus dada menghadapi musim kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.

Kondisi tersebut membuat hamparan persawahan mengering dan berdampak pada merosotnya hasil panen petani.

Salah seorang petani padi setempat, Saul, merasakan langsung dampak kemarau tersebut.

Harapannya mendapatkan penghasilan dari panen raya terpaksa pupus.

Saat ditemui di sela aktivitasnya di sawah, Sabtu (15/8/2026) siang, Saul mengatakan hasil panen dari lahan seluas 1 hektare yang digarapnya merosot tajam.

"Kalau lagi musim penghujan, hasil yang diperoleh itu biasanya bisa sampai 4 hingga 5 ton. Namun saat musim kemarau seperti ini, hasil yang didapat tidak sampai 1 ton," ungkap Saul dengan nada getir.

Akibat hasil panen yang turun drastis, Saul mengatakan gabah yang diperolehnya tidak lagi cukup untuk dijual ke pasaran.

"Hasil padi yang pas-pasan untuk ditanak dan memenuhi kebutuhan makan keluarga sehari-hari," ujarnya.

Baca juga: Penggilingan Padi Masyarakat di Banyuasin Tak Lagi Beroperasi, Gabah Langsung Dijual di Sawah

Menurut Saul, dampak kemarau panjang tersebut tidak hanya dirasakan dirinya. Banyak sawah milik tetangga dan sesama petani di desanya juga terancam gagal panen.

"Tak tanggung-tanggung, luasan lahan yang berujung pada gagal panen diperkirakan mencapai ratusan hektare. Karena air yang sulit didapat untuk mengaliri sawah," katanya.

Meski mayoritas petani mengalami kerugian, Saul mengatakan masih ada sejumlah petani yang berhasil memanen padi. Namun, perjuangan mereka tidak mudah karena membutuhkan tenaga dan modal tambahan.

Petani yang masih bisa menyelamatkan tanaman padinya harus menyedot air dari sungai secara terus-menerus menggunakan mesin pompa.

"Mesin pompa air harus dihidupkan pada pagi, sore, hingga malam hari demi menjaga agar tanah tak retak. Tapi itu sangat memberatkan karena modal bensin yang mahal," sambungnya.

Bagi Saul, kondisi cuaca ekstrem tersebut membuat dirinya mengalami kerugian besar. Minimnya pasokan air irigasi membuatnya kesulitan mendapatkan pemasukan, padahal sawah merupakan satu-satunya sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

"Tapi mau gimana lagi, kami selaku petani kecil cuma bisa pasrah. Siapa tahu tahun depan kembali menghasilkan seperti yang dulu pernah dapat 5 ton padi," tandasnya.

 

 

Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.