ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Dua bocah laki-laki tampak asyik memainkan joran di sisi dermaga Pelabuhan Tarempa, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Sabtu (15/8/2026).
Keduanya duduk berdekatan di tepian dermaga. Mata mereka tertuju pada permukaan laut yang tenang, sementara tangan tetap menggenggam joran masing-masing.
Senar pancing menjulur ke air, mengikuti gerakan kecil ombak yang menyentuh tiang-tiang dermaga.
Sesekali, seorang dari mereka mengangkat joran secara cepat.
Gerakannya seperti orang yang sedang memastikan apakah ikan benar-benar menyambar umpan.
Namun, ketika tarikan itu belum berbuah hasil, mata kail kembali diturunkan ke laut.
Begitu pula dengan temannya. Ia tak beranjak dari tempat duduknya. Kesabaran menjadi bagian dari permainan itu.
Mereka menunggu dalam diam, lalu kembali bercanda ketika tidak ada tanda-tanda ikan mendekati umpan.
Kedua bocah tersebut adalah Faisal dan David. Keduanya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Daripada menghabiskan akhir pekan dengan bermain gadget, mereka memilih menghabiskan waktu bersama dengan aktivitas yang sederhana, yakni memancing.
Pilihan itu terasa wajar bagi anak-anak di Anambas.
Sebagai daerah kepulauan dan perbatasan, Anambas belum memiliki banyak pilihan tempat hiburan seperti pusat perbelanjaan atau wahana permainan yang mudah dijumpai di daerah perkotaan.
Laut pun akhirnya menjadi ruang bermain yang dekat dengan kehidupan mereka.
Anak-anak seusia Faisal dan David terbiasa mengisi hari libur dengan bermain bersama, memancing di dermaga, atau berenang di laut bersama kawan-kawan.
Bagi Faisal, memancing bukan kegiatan yang baru. Ia sudah mengenal aktivitas tersebut sejak kecil.
Dermaga Pelabuhan Tarempa menjadi salah satu tempat yang sering didatanginya untuk mencoba peruntungan mendapatkan ikan.
Tak hanya di dermaga, Faisal juga terkadang memancing di sekitar permukiman tempat tinggalnya.
Peralatannya pun selalu ia bawa dengan penuh perhatian, terutama joran yang menjadi kesayangannya.
"Ini pancingan (joran) punya sendiri. Ayah belikan hadiah ulang tahun," ujar Faisal.
Joran itu tampak digenggam erat olehnya. Sesekali ujung joran bergerak mengikuti arus dan riak air.
Faisal langsung memperhatikan gerakan tersebut, seolah tidak ingin melewatkan sedikit pun tanda bahwa ikan sedang menyentuh umpannya.
Baginya, memancing bukan sekadar persoalan membawa pulang ikan.
Ada kesabaran yang harus dilatih ketika duduk berlama-lama menunggu sesuatu yang belum pasti datang.
Ia harus mampu menahan keinginan untuk terus menarik senar.
Umpan yang dibiarkan di dalam air membutuhkan ketenangan.
Terlalu cepat menariknya bisa membuat ikan yang mendekat justru gagal didapat.
Di sela-sela menunggu, Faisal sesekali bercanda dengan David.
Tawa kecil mereka pecah di tengah suasana dermaga yang dipenuhi suara air dan aktivitas warga.
Setelah itu, perhatian mereka kembali tertuju pada senar yang membentang ke laut.
"Kadang bosan juga, kalau umpan belum dimakan. Tapi lebih ke penasaran aja, kenapa umpan belum dimakan ikan," ucap Faisal.
Sementara itu, David memiliki cara berbeda untuk menikmati aktivitas yang sama. Ia tidak menggunakan joran seperti Faisal.
Peralatan pancingnya jauh lebih sederhana, berupa benang yang disusun dan dililitkan pada sebuah kaleng bekas.
Kaleng tersebut menjadi pegangan untuk mengatur benang pancing.
Saat benang diturunkan ke laut, David memegangnya dengan hati-hati sambil merasakan apakah ada gerakan dari bawah permukaan air.
"Mau beli joran tak ada duit om. Mancing seperti ini pun lebih enak," celetuk David.
Kesederhanaan itu tidak membuat David merasa minder. Ia justru terlihat menikmati caranya sendiri.
Baginya, yang terpenting bukan mahal atau murahnya alat pancing, melainkan keseruan ketika berkumpul dan menunggu ikan menyambar umpan.
David juga mengaku tidak merasa bosan tinggal di Anambas, meski tidak banyak tempat hiburan seperti di kota-kota besar.
Ia masih bisa menemukan kesenangan dari hal-hal sederhana bersama teman-temannya.
"Paling bosan di rumah, ya main sama kawan-kawan aja. Kalau ke Batam ya baru lah ke mal, nonton bioskop. Kadang pas libur sekolah," kata David.
Di ujung dermaga itu, Faisal dan David seperti menunjukkan bahwa kesenangan tidak selalu harus datang dari layar gadget atau tempat hiburan yang gemerlap.
Dengan seutas benang, joran, kaleng bekas, dan laut yang terbentang di depan mata, mereka menemukan cara sendiri untuk menikmati masa kanak-kanak di tanah kelahirannya. (TRIBUNBATAM.id/Ihsan Imaduddin)