Laporan Wartawan TribunPapuaBarat.com, Syahrul Said Refideso
TRIBUNPAPUABARAT.COM, BINTUNI - Kreativitas pelajar di Kabupaten Teluk Bintuni kembali mendapat perhatian melalui berbagai produk inovasi yang dikembangkan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMANSA Bintuni.
Produk-produk itu dipamerkan dalam kegiatan Bintuni Innovation Award 2026 yang berlangsung di Gedung Serba Guna Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Sabtu (15/8/2026), dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Produk-produk tersebut memanfaatkan bahan lokal Papua sekaligus mengolah limbah rumah tangga menjadi barang yang bernilai guna dan ekonomis.
Salah satu siswa SMANSA Bintuni, Kinsey Gherakdo Tubung, menjelaskan kepada TribunPapuaBarat.com saat ditemui di stan pameran inovasi Award 2026 bahwa pihaknya menghadirkan tiga produk utama dalam kegiatan tersebut.
Baca juga: Polres Kaimana dan Warga KKSS Perkuat Sinergi Jaga Kondusivitas Daerah
Produk pertama berupa sabun cuci piring dengan ekstrak buah merah Papua.
Menurut Kinsey, buah merah merupakan salah satu potensi lokal Papua yang belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan produk sehari-hari.
“Di sini kami berusaha memasukkan ekstrak buah merah ke dalam produk sabun, sehingga bisa mengangkat bahan lokal Papua,” ujar Kinsey.
Ia menjelaskan, pembuatan sabun dilakukan melalui beberapa tahapan.
Bahan-bahan dicampurkan hingga merata, kemudian ditambahkan ekstrak minyak buah merah asli.
Setelah melalui proses pencampuran dan didiamkan selama kurang lebih 24 jam, produk selanjutnya dapat dikemas.
Selain menggunakan buah merah, kelompok KIR SMANSA Bintuni juga mengembangkan varian sabun dengan ekstrak lemon sebagai bahan alami dan sekaligus pemberi aroma.
Inovasi kedua adalah lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah.
Produk ini dibuat sebagai upaya mengurangi limbah minyak bekas rumah tangga yang selama ini kerap dibuang ke saluran air dan berpotensi mencemari lingkungan.
Baca juga: Kapolda Papua Barat Ajak Warga Rayakan HUT ke-81 RI dengan Aman dan Sukacita
Kinsey mengatakan, minyak jelantah terlebih dahulu melalui proses pengolahan untuk mengurangi bau tidak sedap.
Salah satu bahan yang digunakan dalam proses tersebut adalah arang.
“Minyak jelantah biasanya memiliki bau yang tidak sedap. Kami menggunakan arang untuk membantu menghilangkan baunya, kemudian minyak tersebut diproses kembali dan dipanaskan sampai dapat mengeras menjadi lilin,” jelasnya.
Produk lilin tersebut kemudian dikembangkan menjadi lilin aromaterapi dengan aroma seperti vanilla yang memberikan sensasi manis, lembut, menyegarkan, dan menenangkan.
Sementara itu, inovasi ketiga adalah bubuk penyedap alami dari kepala dan kulit udang.
Bahan yang selama ini sering dianggap sebagai limbah dimanfaatkan menjadi produk penyedap yang memiliki cita rasa gurih alami atau umami.
Produk tersebut dibuat dari sisa kepala dan kulit udang pilihan dan ditujukan sebagai alternatif penyedap alami tanpa menggunakan MSG sintetis.
Menariknya, kelompok KIR SMANSA Bintuni juga memperhatikan aspek lokalitas melalui penggunaan kemasan yang dapat dimakan (edible) berbahan pati sagu Papua.
Produk bubuk penyedap alami tersebut dapat digunakan untuk berbagai jenis masakan dengan cita rasa gurih alami.
Baca juga: Petronas Jadwalkan Survei Migas di Kaimana Oktober 2026, Warga Adijaya Dukung
Kinsey menuturkan, pengembangan ketiga produk tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan barang baru, tetapi juga mengajarkan pentingnya pemanfaatan potensi lokal dan pengelolaan limbah secara kreatif.
“Daripada menjadi limbah, kami mencoba memanfaatkannya menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” katanya.
Melalui inovasi tersebut, siswa SMANSA Bintuni menunjukkan bahwa bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dikembangkan menjadi produk kreatif. Mulai dari buah merah Papua, minyak jelantah hingga limbah kepala dan kulit udang, semuanya dapat diolah dengan pendekatan inovatif.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan penelitian, kreativitas, kewirausahaan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa potensi lokal Papua dan limbah rumah tangga dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi melalui kreativitas pelajar. (*)