Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah
TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI – Sejumlah santri Pondok Pesantren Baiti Jannati di Kampung Rawa Gede, RT 03/RW 05, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Jawa Barat, masih menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengalami gejala yang diduga akibat keracunan.
Dari total 134 warga pondok pesantren yang mengalami gejala keracunan, sebagian santri hingga Sabtu (15/8/2026) sore masih menjalani observasi medis di RSUD Al Mulk dan RSUD R Syamsudin SH (Bunut).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi Ida Halimah mengatakan, dari 82 santri yang sebelumnya dirawat di RSUD Al Mulk, sebanyak 37 orang sudah diperbolehkan pulang.
Baca juga: BREAKING NEWS: 134 Santri Ponpes Baiti Jannati Sukabumi Keracunan, 1 Ustaz Turut Jadi Korban
Sementara itu, dari 58 orang yang mendapatkan perawatan di RSUD R Syamsudin SH, sebanyak 43 orang kondisinya mulai stabil dan telah dipulangkan.
"Sisanya itu masih dalam observasi lebih lanjut, walaupun tadi saya lihat waktu di Bunut juga kondisinya cenderung semakin membaik," ujar Ida kepada Koran Gala, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Ida, para santri yang terdampak mayoritas mengalami gejala serupa berupa mual dan muntah.
Dinas Kesehatan Kota Sukabumi masih melakukan assessment serta Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala tersebut.
"Rata-rata hampir sama menunjukkan gejala ya, seperti mual, kemudian muntah, gitu-gitu. Nah, yang seperti itu. Makanya kami pun dari Dinas Kesehatan juga melakukan PE," ungkapnya.
Diketahui, gejala pertama mulai dirasakan sejumlah santri pada Jumat (14/8/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Keluhan kemudian muncul secara bertahap hingga Sabtu pagi setelah para santri mengikuti kegiatan halaqah Subuh.
Pihak pesantren kemudian mengevakuasi para santri yang mengalami keluhan ke Puskesmas, RSUD Al Mulk, dan RSUD R Syamsudin SH.
Dugaan keracunan ini juga dikaitkan dengan konsumsi makanan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menu yang dikonsumsi para santri pada Jumat sekitar pukul 12.30 WIB terdiri dari nasi putih, tumis sayur pakcoy, telur ceplok balado, tempe orek, dan susu kotak.
Meski demikian, Dinkes Kota Sukabumi belum menyimpulkan sumber penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Untuk memastikan penyebabnya, petugas telah mengambil sampel makanan, baik dari menu MBG maupun makanan yang tersedia di dapur pesantren.
Selain itu, sampel muntahan juga turut diambil untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Baca juga: Dinkes Periksa Sampel Makanan dan Muntahan 134 Santri Ponpes Baiti Jannati Sukabumi yang Keracunan
"Muntahan dan sisa-sisa makanan yang tersisa kita ambil. Sayuran ada, ada telur, ada tempe, dan susu. Semua sampel makanan termasuk yang ada di dapur pesantren juga kita ambil," kata Ida.
Sampel tersebut selanjutnya diperiksa di Labkesda Provinsi Jawa Barat dan Labkesda Kota Sukabumi.
Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui sekitar satu minggu kemudian.
"Nanti diperkuat dengan hasil data laboratorium. Jadi nanti secara utuh baru kita bisa simpulkan ya seperti apa," jelasnya.