Paradigma Baru Pengabdian Pada Masyarakat
Seli Andina Miranti August 15, 2026 10:11 PM

Oleh: Mansyur 

Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

TRIBUNJABAR.ID - Secara historis, kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) oleh perguruan tinggi kerap diidentikkan dengan potret klasik: akademisi turun ke desa, membawa alat peraga seadanya, menggelar "kuliah singkat" di balai pertemuan, atau kadangkala melangkah langsung ke kandang-kandang ternak milik warga. Dalam model konvensional ini, kampus menempatkan dirinya sebagai penyuluh yang proaktif menjemput bola, sementara masyarakat desa diposisikan diri sebagai penerima pasif. Tak jarang, untuk sekadar mengumpulkan warga, dibutuhkan "uang duduk" ataupun ”uang lelah” sebagai pengikat kehadiran, akhirnya kadang terselip motivasi yang lain, bukan untuk mencari ilmu atau menyerap ilmu. 

Namun, angin perubahan paradigma kini terlihat perlahan dari kampus merakyat di Jatinangor. Hubungan antara kampus dan masyarakat peternak maupun petani sedang mengalami transformasi yang sangat fundamental.

Mansyur, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Anggota Komisi Pakan Kementerian Pertanian.
Mansyur, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Anggota Komisi Pakan Kementerian Pertanian. (Tribun Jabar)

Peternak mendatangi kampus

Dalam dua tahun belakangan ini, realitas di lapangan menunjukkan pemandangan yang berkebalikan: bukan lagi dosen yang mendatangi desa, melainkan para petani dan peternak yang justru mendatangi kampus. Mereka melintasi batas-batas wilayah untuk belajar, berdiskusi, dan berjejaring langsung di ruang-ruang akademik.

Fenomena ini tergambar nyata dalam program Akademi Sapi untuk Rakyat (AKSARA) yang digagas oleh Departemen Nutrisi Ternak dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad). Tak kurang dari seratusan peternak rela datang dari berbagai daerah—mulai dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, hingga Lampung. Dahulu, peserta PPM didominasi warga sekitar balai desa karena faktor kedekatan geografis semata. Kini, para praktisi peternakan dari lintas provinsi berkumpul di kampus dipersatukan oleh satu tujuan: kebutuhan akan ilmu pengetahuan terapan dalam menentukan dan memperoleh bibit, memenuhi pakan, manajamen budidaya, pemasaran dan perbankan, serta manajemen kesehatan ternak yang lebih presisi.

Melahirkan pahlawan pangan baru

Tidak berhenti pada peternak senior, paradigma baru ini kian solid dengan hadirnya model pembinaan petani muda (Young Farmer Traininng) diusung oleh Departemen Sosial dan Ekonomi Fapet Unpad. Program ini secara khusus memanggil dan mengundang para calon "pahlawan pangan" muda dari sekitaran Jawa Barat untuk digembleng menjadi peternak dan pengusaha peternakan yang tangguh. Harapannya, ketika mereka kembali ke daerah masing-masing, kemandirian dan keberhasilan usaha mereka akan menjadi role model yang menular serta diikuti oleh masyarakat sekitarnya.

Model pembinaan ini terbukti strategis karena berhasil membangun sinergi komprehensif antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. Kehadiran perwakilan dari Kementerian Pertanian serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat dalam setiap kajian dan pembinaan menegaskan bahwa kampus telah bertransformasi menjadi ruang simpul kebijakan (policy hub) dan inovasi pangan nasional.

Pergeseran paradigma ini membawa sederet keunggulan dan keuntungan yang signifikan:

1.    Terbangunnya ekosistem kolaborasi dan transmisi pengetahuan
Ketika peserta datang dari berbagai penjuru, kampus berubah fungsi menjadi titik temu nasional. Di ruang-ruang diskusi kampus, terjadi pertukaran pengalaman lintas generasi—antara peternak berpengalaman, young farmer, akademisi, dan regulator. Pengabdian tak lagi bersifat satu arah, melainkan melahirkan jejaring sosial-ekonomi yang memicu replikasi keberhasilan di berbagai daerah.

2.    Optimalisasi fasilitas dan integrasi multidisplin
Dahulu, akademisi dibatasi oleh alat peraga portabel saat ke lapangan. Dengan hadirnya peternak di kampus, pelatihan dapat memanfaatkan fasilitas laboratorium analisis pakan dan instalasi ternak kampus secara utuh, sembari mensinergikan regulasi pemerintah dan teori ilmiah dalam satu panggung.

3.    Perubahan perilaku dan tingkat komitmen (ownership)
Indikator transformasi paling mendasar terletak pada mindset. Transisi dari masa di mana warga mengharapkan "uang duduk" menjadi masa di mana mereka secara sukarela merogoh kocek mandiri untuk biaya perjalanan dan akomodasi membuktikan satu hal: ilmu pengetahuan dan riset kampus kini diposisikan sebagai investasi bernilai tinggi.

Menjaga pintu tetap terbuka

Agar paradigma baru ini tidak sekadar menjadi tren sesaat, perguruan tinggi perlu menyiapkan strategi ke depan yang lebih terstruktur dan inklusif, antara lain
•    Institusionalisasi short course berkelanjutan: Program seperti AKSARA dan Young Farmer Fapet Unpad perlu dipatenkan sebagai kurikulum pelatihan berkala berbasis sertifikasi kompetensi yang terukur dan terintegrasi dengan kebutuhan industri peternaka
•    Pendekatan co-creation dan riset partisipatif: Masalah-masalah konkret yang dibawa para peternak dari berbagai daerah harus didokumentasikan sebagai basis ide riset kampus. Kampus tidak boleh bersikap paternalistik, meminta menerapkan penelitian yang belum tentu dibutuhkan oleh peternak hari ini; Sementara problemnya mereka dibiarkan begitu saja, oleh karena itu melalu kegiatan ini terbangun interaksi harus berupa dialog dua arah untuk memecahkan persoalan riil di lapangan
•    Penguatan post-training support via komunitas digital: Hubungan yang terbangun di kampus harus dirawat melalui platform jejaring alumni pelatihan atau komunitas digital terintegrasi, sehingga pendampingan teknis dan kolaborasi antar-peternak tetap berjalan dalam jangka panjang.


Pada akhirnya, perubahan paradigma pengabdian masyarakat ini menandai pergeseran besar dari transfer pengetahuan satu arah menuju kolaborasi partisipatif. Perguruan tinggi tidak boleh lagi menjadi menara gading yang terisolasi dari realitas. Dengan menjaga pintu kampus tetap terbuka lebar bagi para praktisi dan generasi muda pembuat perubahan, akademisi tidak hanya membagikan ilmu, tetapi juga menyerap realitas lapangan agar riset yang dihasilkan tetap relevan, teruji, dan berdampak nyata bagi kedaulatan pangan bangsa.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.