Gempa Flores M7,7 Picu Tsunami, BMKG: Gempa Susulan Bisa Berlangsung 2-3 Minggu
Putu Kartika Viktriani August 16, 2026 07:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, NTT - Gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 15 Agustus 2026 pagi.

Gempa yang terjadi sekitar pukul 04.58 WIB tersebut berpusat di laut dan memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut telah kembali aman.

Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, masyarakat masih diminta meningkatkan kewaspadaan.

Pasalnya, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi di wilayah utara Pulau Flores.

 

BMKG Catat 235 Gempa Susulan

Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 235 aktivitas gempa bumi susulan setelah gempa utama M7,7.

Baca juga: UPDATE Gempa M7,7 NTT, 14 Orang Meninggal Dunia, 2000 Warga Mengungsi, Listrik di Nagekeo Padam

Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo antara M2,5 hingga M6,2 dan tersebar di sebelah utara Pulau Flores.

BMKG menyebut tren aktivitas gempa susulan tersebut belum menunjukkan peluruhan yang signifikan.

Artinya, aktivitas seismik di kawasan tersebut masih perlu dipantau secara intensif. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu.

Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, aktivitas gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung selama beberapa waktu.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Teuku Faisal Fathani.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diminta tidak panik, tetapi tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Gempa Flores M7,7 Picu Tsunami

Gempa Flores M7,7 merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores.

Hasil pemutakhiran BMKG menunjukkan episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.

Pergerakan sesar naik tersebut menyebabkan guncangan kuat sekaligus memicu perubahan muka air laut yang kemudian terdeteksi sebagai tsunami di sejumlah pesisir. (BMKG)

Jaringan pemantauan BMKG mencatat gelombang tsunami di sejumlah wilayah, termasuk Sikka, Flores Timur, Labuan Bajo, Ende, Dompu, Alor, Baubau, Bulukumba hingga Kolaka.

Dalam pemantauan lanjutan, gelombang tsunami tertinggi yang tercatat mencapai sekitar 1,61 meter di wilayah Reo, Manggarai.

Sementara di Maurole, Ende, gelombang mencapai 0,94 meter.

BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami

BMKG menyatakan peringatan dini tsunami resmi berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka air laut menunjukkan tidak lagi terdapat kenaikan yang signifikan dan membahayakan masyarakat pesisir. 

Namun, berakhirnya peringatan dini tsunami tidak berarti ancaman gempa susulan telah berakhir.

Masyarakat tetap diminta memperhatikan informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.

BMKG juga meminta masyarakat menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa.

Bangunan yang struktur utamanya terdampak dapat mengalami kerusakan tambahan apabila kembali diguncang gempa susulan.

Sejumlah Wilayah Mengalami Kerusakan

Gempa Flores M7,7 juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan infrastruktur di wilayah NTT.

Berdasarkan pemantauan awal, beberapa bagian rumah sederhana di Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo dilaporkan roboh.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo.

BMKG menerjunkan tim untuk melakukan survei kerusakan sekaligus pemetaan kondisi wilayah terdampak.

Tim BMKG pusat bersama sejumlah unit pelaksana teknis di NTT melakukan survei untuk mengetahui kondisi tanah dan respons wilayah terhadap guncangan gempa.

Hasil kajian tersebut nantinya dapat menjadi bahan dalam proses rekonstruksi maupun penguatan bangunan tahan gempa. 

BMKG Minta Warga Tetap Waspada

BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang namun tidak mengabaikan potensi gempa susulan dalam beberapa pekan ke depan.

Masyarakat juga diminta memastikan kondisi rumah dan bangunan sebelum kembali beraktivitas secara normal.

Bangunan yang retak atau mengalami kerusakan struktur sebaiknya dijauhi hingga dinyatakan aman.

Informasi terkait perkembangan gempa Flores M7,7, gempa susulan, maupun potensi tsunami hendaknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG.

Hingga Sabtu 15 Agustus 2026, BMKG terus melakukan pemantauan aktivitas gempa dan dinamika muka laut secara real-time. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.