TRIBUNJAKARTA.COM - Duka cita atas bencana gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),
turut dirasakan masyarakat dari seluruh tanah air.
Tak terkecuali dari para insan sepak bola yang bertarung dalam gelaran Soekarno Cup 2026.
Sebelum kick-off pertandingan, para pemain muda, official, panitia, dan penonton serentak mengheningkan cipta untuk mendoakan para korban bencana.
Para pemain dari kedua tim yang akan bertanding berdiri berdampingan di tengah lapangan.
Mereka menundukkan kepala dan memanjatkan doa, diikuti penonton di tribun yang menghentikan sejenak dukungan kepada tim masing-masing.
Suasana semakin mengharukan ketika sejumlah penonton yang memiliki kerabat di NTT terlihat meneteskan air mata.
Juru Bicara Soekarno Cup, Anang Ma’ruf, mengatakan mengheningkan cipta menjadi bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap masyarakat Flores yang sedang menghadapi bencana.
Baca juga: Korban Gempa Flores NTT Terkini: 47 Orang Meninggal Dunia, Tersebar dari Manggarai hingga Sikka
“Di balik semangat kompetisi dan olahraga, ada rasa persaudaraan bangsa yang tak boleh terputus," ujar Anang dikutip Minggu (16/8/2026).
Menurut Anang, momen tersebut menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan berada di atas persaingan olahraga.
Para penonton dan pemain muda yang berasal dari berbagai daerah dipersatukan dalam keheningan untuk menyampaikan doa serta dukungan moral kepada masyarakat yang terdampak gempa.
Bagi penyelenggara dan peserta Soekarno Cup 2026, pertandingan tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan di lapangan hijau.
Di tengah musibah yang menimpa masyarakat NTT, kompetisi tersebut juga menjadi momentum untuk menunjukkan kepedulian dan semangat persaudaraan antarsesama anak bangsa.
Setelah prosesi mengheningkan cipta selesai, pertandingan kembali dilanjutkan.
"Mengheningkan cipta ini merupakan bentuk simpati dan doa terbaik kami untuk saudara-saudara di Flores, NTT, agar diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi musibah ini,” kata Anang Ma'ruf yang juga merupakan legenda Timnas Indonesia.
Update Gempa NTT
Berdasarkan data terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sabtu (15/8/2026) pukul 18.48 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang akibat gempa M7,7 di NTT.
Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang, dan Ende 1 orang.
"Selain korban korban jiwa, petugas mengevakuasi dan melakukan perawatan medis terhadap para korban luka-luka," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangan yang diterima.
Selain itu, hingga Sabtu sore pukul 17.00 WIB total rumah rusak berat mencapai 157 unit, rusak sedang 41 unit, dan rusak ringan 148 unit.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti fasilitas Pendidikan 87 unit, kesehatan 18 unit, tempat ibadah 5 unit, kantor 6 unit, dan sejumlah fasilitas umum lain.
Merespons gempa di NTT, BNPB mengirimkan bantuan pangan dan non-pangan ke wilayah bencana.
"Sejumlah bantuan dikerahkan melalui gudang logistik yang berada di Kabupaten Flores Timur, NTT," katanya.
Sedangkan dari Jakarta, BNPB juga mengirimkan bantuan melalui baseops TNI AU Halim Perdanakusuma.
Total bantuan sebanyak 50 ribu paket dengan berat 275 ton. Saat ini, bantuan yang baru tiba di baseops sebanyak 10.500 paket, yang berasal dari Sekretaris Kabinet.